n1019416811_23442Pada akhirnya setiap perwira tulen akan selalu merampungkan tugasnya dengan glory, keagungan. Kredo seperti itulah, konon yang ditanamkan kepada para perwira bahkan sejak mereka masih menjadi taruna.

Barangkali memang bukan kejayaan itu benar yang harus diraih, melainkan hanya sebuah pilihan bagaimana seharusnya para perwira itu bersikap, memberi contoh. Manakala sejarah kemudian menyaksikan begitu banyak perwira dan pemimpin yang merampungkan tugas mereka dengan sikap yang mengagumkan, niscaya karena mereka telah memilih untuk setia kepada kredo awal itu, glory.

Jenderal Sudirman yang ringkih karena disergap penyakit paru-paru, misalnya, memilih terus melawan Belanda dengan senjata dan lari ke hutan-hutan yang basah justru ketika Jakarta memutuskan melakukan perundingan dengan Den Haag. Tentu bukan karena Sudirman menolak perundingan damai melainkan karena dia paham betul, andai dia ikut mengamini perundingan, para serdadunya tak akan lagi punya semangat bertempur.

Belanda waktu itu adalah sebuah entitas yang tak hanya merongrong kemerdekaan negara ini dengan kelihaian diplomasi tapi juga dengan kekuatan bersenjata. Pilihan sikap Sudirman belakangan terbukti menjadi salah satu fragmen yang ikut menentukan bertahannya kemerdekaan negara ini hingga sekarang.

Seringkali karena pilihan sikap semacam itu, seorang perwira memang bisa kehilangan jabatan dan bahkan nyawa mereka, dipaksa atau terpaksa. Para letnan dan kolonel tentara Jepang yang melakukan harakiri pada masa PD II membuktikan itu. Bagi mereka kematian –dan karena itu berarti kehilangan jabatan— adalah pilihan yang mulia ketimbang misalnya memberi kesaksian karena tak berdaya, kepada musuh. Lihatlah kini, warisan mereka membekas kepada banyak pemimpin Jepang yang memilih untuk mundur dari jabatan, manakala mereka merasa tak bisa lagi berarti.

Lalu di Medan, seminggu silam, Komisaris Besar Polisi Aton Suhartono menyongsong pencopotannya sebagai Kapoltabes Medan dengan tersenyum. Orang ini yang masih belum genap berusia 47 tahun, bukan saja rela kehilangan jabatan tapi juga menjadi perwira pertama dan mungkin satu-satunya di jajaran Polri yang memilih sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas amuk di Kantor DPRD Sumatera Utara yang berujung pada kematian Abdul Azis Angkat. Sesaat sebelum dicopot, dia sempat berujar kepada wartawan, bahwa kalau boleh memilih dia berharap hanya dia yang dicopot, bukan kapolda sebagai atasannya.

Pilihan sikap untuk setia kepada kredo perwira yang dilakukan Aton akan tetapi bukan hanya kali itu terjadi. Sekitar enam bulan sebelumnya, ketika dia baru menjabat di kota itu, Aton bahkan meminta pers mengkritik kinerjanya andai betul tak becus. Tak adanya kritik, dia anggap sebagai bencana. Dia memang bukan jenis perwira yang menghadapi desakan dengan seringai kemarahan, seperti hampir selalu dilakukan banyak atasannya, para jenderal di Jakarta.

Aton tentu saja bukan Sudirman, bukan pula didikan Heiho atau Peta. Pilihannya untuk memilih bertanggungjawab atas kerusuhan yang terjadi di salah sudut Kota Medan, juga tak sebandinga dengan pengorbanan Sudirman yang bernafas dengan satu paru-paru. Namun lulusan Akademi Kepolisian 1987 itu, setidaknya adalah perwira yang paham betul bagaimana seharusnya bersikap sebagai perwira, mencapai glory itu.

Dia telah memberi contoh justru bukan kepada para sersan dan kopral yang lusuh, melainkan juga kepada banyak jenderal yang necis, yang selalu berharap mendapat jatah jabatan sembari diam-diam kerap melempar tanggungjawab kepada para bawahannya, seperti Aton itu.

Tulisan ini adalah kolom di Koran Jakarta Minggu, 15 Februari 2009

Iklan