fb2Lalu seratusan juta orang di dunia, kini mengenal Facebook. Menggunakannya untuk berbagai keperluan: Mengirim email, mencari teman lama dan baru, menawarkan kesempatan bisnis dan sebagainya.

oleh Rusdi Mathari
Terus terang, saya baru benar-benar mengenal Facebook sekitar empat atau lima hari lalu, meskipun sebetulnya saya sudah “mendaftar’ sejak setahun silam dan teman-teman yang meng-add nama saya sudah puluhan orang. Awalnya Thomas Barker, peneliti bioskop yang saat ini menyelesaikan program doktornya di Singapura. Lalu Sopril Amir, Happy Sulistiadi, Rahmat Yunianto, Ulin Niam Yusron, Andrew Yuen, Nugroho Dewanto, Bajo Winarno, Bambang Bujono dan seterusnya. Email saya penuh tapi saya mengabaikannya, karena ketidaktahuan dan kegoblogkan saya.

Sopril tiga hari lalu, sampai berkata,” Waduh sui tenan Cak, awakmu gelem ngakone aku koncomu” (Wah lama benar, kamu mau ngakui aku sebagai temanmu-Rus). Masalahnya seperti halnya ketika saya mengenal blog, saya juga terlambat mengenal Facebook. Saya benar-benar tak tahu dan kesalahan terbesar saya sebagai wartawan, tak berusaha mencari tahu apa itu Facebook.

Berkat bantuan teman-teman baik saya; Zacky Umam, Ezra Sihite dan Alfred Ginting, saya kemudian mengenal Facebook itu apa dan bagaimana cara menggunakannya. Hasilnya saya kecanduan: meminjam istilah majalah Tempo, saya ingin tahu se-Facebook apa diri saya. Setidaknya hingga saya menulis artikel ini.

Lalu sejak empat-lima hari itu, setiap hari email yahoo saya penuh dengan kiriman permintaan dari banyak teman untuk meng-add saya meskipun tentu saja saya juga melakukan hal serupa kepada beberapa teman. Beberapa di antara orang yang mengirimkan email itu, sebetulnya tidak saya kenal betul. Ada yang bahkan sama sekali belum pernah berkomunikasi dengan saya. Hanya tahu, kenal wajah. Namun di Facebook, teman-teman tadi, malah chating-an. Janjian bertemu. Ada yang mengajak membuat acara. Mengerjakan proyek bersama, dan sebagainya. Lucu.

Seorang teman lama berkomentar, “Kemana aja say, kok baru tahu?” “Bener Cak baru tahu?” Ada yang mengucapkan selamat datang dan sebagainya. Waduh saya ketinggalan apa sebetulnya? Adi Prianda kini sudah punya anak dua, dan kemarin mengirimkan foto mereka ke Facebook saya. Reindhy mengirimkan foto seorang teman bernama Martin untuk dikomentari meskipun saya paham maksud Reindhy sebetulnya, wajah Martin yang “ndeso” di foto itu supaya dijelek-jelekin. Chanang mengirimkan beberapa nama teman yang bisa saya add.

Yang juga menarik dari penggila Facebook, sebagian mereka juga memajang koleksi foto mereka sendiri. Di Facebook Iboy, bahkan ada ratusan koleksi foto dia, keluarganya, dan teman-temannya di Sastra Belanda UI. Salah satu foto dia, membuat saya menahan tawa. Iboy yang bernama asli Rizky Amelia –saya memanggilnya Riris Damayanti bin Sarni— mejeng dengan blouse merah motif kembang-kembang lengan panjang sambil tersenyum, persis ibu-ibu RT hendak kumpulan arisan. Wajahnya polos membagi senyum. “Yang mana sih Cak? Enak aja masak kayak ibu-ibu mau kondangan?” Iboy berusaha protes, ketika chating dengan saya, kemarin.

Yang lalu saya pahami dari Facebook, hampir semua orang membuat sebanyak mungkin hubungan dengan orang lain. Menjaringnya dari kampusnya dulu, SMA-nya, kampung halaman, profesi, dan seterusnya. Beberapa teman, saya lihat memiliki kontak dengan ribuan orang, ada yang ratusan, ada yang baru memulai seperti saya. Sebagian memajang foto-foto orang terkenal, entah dia kenal atau tidak, pernah berhubungan atau hanya tahu dari televisi dan koran.

Saya tersenyum melihat Facebook seorang teman, yang di dalamnya tercantum dua jenderal, Muchdi PR dan Wiranto. Bukan tidak percaya teman itu tak kenal Muchdi dan Wiranto. Saya hanya membayangkan, apa benar Wiranto dan Muchdi kemudian punya waktu untuk berkomunikasi lewat Facebook, misalnya menulis di wall Facebook teman tadi, langsung dengan jari mereka sendiri dari laptop. Tapi saya tak berusaha bertanya dan jelas saya tak punya keinginan meng-add Wiranto dan Muchdi. Dua orang itu pasti tidak mengenal saya.

Saya bahkan juga tak berusaha meng-add beberapa nama terkenal, yang saya kenal karena pernah berbincang langsung sebelumnya dan saya kagumi. Bukan karena tak mau tapi karena saya kuatir, saya hanya menjadi bagian dari orang-orang yang hanya senang memajang sesuatu tapi tak paham maksudnya. Facebook beberapa teman yang saya tahu, sudah penuh dengan nama mereka meskipun saya juga tidak tahu, sesering apakah mereka berkomunikasi melalui Facebook.

Ini memang hanya soal pilihan karena Facebook buat saya, mestinya memang sebuah mutualisme. Keseimbangan. Tak asal memamerkan koleksi jumlah “teman” tapi kemudian tidak ada komunikasi apa pun atau komunikasi yang terjalin tak setara.

Tak lalu, karena itu pertemanan di Facebook tak berguna. Setidaknya menambah banyak teman adalah pilihan yang lebih baik daripada menambah satu musuh. Lalu ketika sejak empat-lima hari itu, saya memajang foto tunggal di Facebook agar teman-teman lama mengenali wajah saya, Vivi Indri anak layout Koran Jakarta itu berkomentar, “Narsis sampean Pak.”

Iklan