Rizal, Choel, dan Andi MallarangengGanteng, muda, pintar, dan kaya. Itulah yang melekat pada tiga bersaudara Mallarangeng; Andi Alfian, Rizal, dan Andi Zulkarnain. Untuk tidak menyebut tidak ada, tak banyak anak-anak muda di Indonesia seberuntung kakak-adik itu; tiga bersaudara yang dekat dengan kekuasaan.

oleh Rusdi Mathari
LEBIH dari lima tahun belakangan, Mallarangeng Bersaudara hampir selalu menghiasi halaman-halaman koran, majalah dan tentu saja dunia gempita siaran televisi itu.  Dari semula yang bukan siapa-siapa, mereka lalu seperti angin malam yang menghanyutkan banyak perhatian publik. Awalnya hanya si sulung Andi, kemudian Rizal dan berlanjut ke Zulkarnain.

Adalah Andi yang kali pertama mulai dikenal publik. Pria kelahiran Makassar 14 Maret 1963 yang semula mengajar di Universitas Hasanuddin, Makassar ini kemudian bergerak mengikuti laju reformasi: bergabung dalam Tim Tujuh yang diketuai oleh Ryass Rasyid di masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie. Tugas tim itu antara lain merumuskan paket undang-undang politik yang baru dan undang-undang pemerintahan daerah. Nama Andi sejak itu mulai dikenal publik.

Namanya semakin berkibar, ketika dia kemudian juga dipilih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum, KPU, 1999, mewakili pemerintah. Banyak komentar dan pendapat Andi dikutip media. Andi pun rajin diundang oleh stasiun televisi untuk memberikan komentar dan ulasan. Tulisannya banyak dimuat di koran.

Sebelum bergabung dengan Ryass untuk mendirikan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan, PPDK, 2002, Andi sempat menjabat sebagai staf ahli Menteri Negara Otonomi Daerah. Di zaman Presiden Abdurrahman Wahid, kementerian yang dibentuk oleh Habibie untuk mengurusi desentralisasi itu, dibubarkan.

Saat PPDK dideklarasikan kali pertama di Hotel Indonesia, Minggu 28 Juli 2002, ikut hadir Susilo Bambang Yudhoyono yang ketika itu menjabat sebagai Menko Polkam. Di partai baru itu, Andi tercatat sebagai salah seorang ketua mendampingi Ryass yang menjabat sebagai ketua umum. Usai deklarasi Andi mengenalkan PPDK sebagai partai masa depan yang mengutamakan persatuan bangsa. Andi pun digadang-gadang menjadi kandidat presiden.

Sama dengan para politikus yang lain, pada musim kampanye Pemilu 2004 Andi juga termasuk orang yang rajin mendatangi tempat-tempat orang tak berdaya. Mengenalkan diri, memberikan harapan, lalu meminta orang-orang itu memilih partainya.

Wajah Andi lengkap dengan kumisnya termasuk yang menjadi daya tarik tersendiri terutama untuk kalangan perempuan. Pada masa kampanye kala itu, tak sedikit perempuan yang terpesona dengan wajah Andi. Salah satunya yang sempat dicatat oleh Kompas adalah Mak Ijah, warga Kramat Pulo Gundul RW 8, Johar Baru, Senen, Jakarta Pusat.

Pada Pemilu 2004 itu, PPDK yang digerakkan oleh Andi  meraih suara 1,16 persen suara atau lima kursi di DPR. Itu perolehan suara yang lumayan, untuk ukuran partai pendatang baru meski kemudian Andi memutuskan keluar dari PPDK tak lama setelah pesta “orang-orang penting” itu selesai. Salah satu pemicunya seperti yang pernah dikatakan Andi, karena PPDK ikut mendukung Wiranto sebagai kandidat presiden dalam Pemilu Presiden 2004.

Majalah Tempo edisi  12/XXXIII 17 Mei 2004 yang mengutip wawancara Andi dengan Liputan 6 SCTV menuliskan soal alasan Andi itu. Kata Andi, dengan meraih lima kursi di DPR, PPDK seharusnya memilih menjadi oposisi di luar pemerintahan. Wiranto diakui Andi memang memiliki mesin politik yang kuat. “Tetapi dia tak bisa menjadi presiden yang baik, dengan catatan masa lalu yang berkait dengan pelanggaran hak asasi manusia seperti di Timor Leste,” katanya.

Belakangan ketika Andi menjadi Juru Bicara Kepresidenan, perseteruannya dengan bekas Panglima TNI itu tak kunjung mereda. Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Press Room, DPR, Senayan, Jakarta, keduanya terlibat saling bantah soal isu kenaikan harga BBM (lihat “Wiranto Vs Andi Mallarangeng di DPR,” Kompas.com, 30 Mei 2008).

Resmi keluar dari PPDK, Andi kemudian mendukung pencalonan SBY-Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden. Sejak itu dia banyak terlibat dalam kampanye SBY-JK. Ketika pasangan itu memenangkan pemilihan, Andi diangkat sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Hubungan Andi dengan Yudhoyono semakin akrab.

Kedekatan itulah yang bisa jadi membuat Andi memutuskan bergabung dengan Partai Demokrat, Januari 2008. Kata Andi, dirinya diajak oleh orang-orang Demokrat untuk bergabung.

Partai Demokrat adalah partai yang mengusung Yudhoyono sebagai presiden pada Pemilu Presiden 2004. Partai itu dibentuk sejak tahun 2001 dan didirikan oleh sejumlah orang termasuk Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio alias Sys N.S. Sys belakangan keluar dari Demokrat karena menganggap dirinya sudah tak diperlukan oleh Demokrat (lihat “Sys N.S. Tinggalkan Partai Demokrat,” TempoInteraktif, 1 Desember 2005)

Kendati terkesan malu-malu mengakui kebergabungannya dengan Demokrat, Andi tak kuasa memuji-muji Demokrat sebagai partai masa depan, yang katanya cocok untuk anak-anak muda. Dan inilah keberuntungan Andi yang lain; meski sebagai pendatang baru dia langsung melompat ke kursi ketua.

Celli
Beda dengan Andi yang kalem, Rizal, termasuk sosok temperamental. Dalam diskusi, dia cenderung sering memonopoli pembicaraan. Sejawat dan koleganya memanggilnya dengan sebutan Celli. Sebutan itu mungkin berasal dari sebutan namanya Zal.

Sebelum dikenal seperti sekarang, Rizal ketika menjadi mahasiswa di UGM termasuk rajin menulis opini di Kompas dan Tempo. Seorang wartawan senior Tempo bercerita, Rizal termasuk mahasiswa yang diberi kesempatan untuk “menilai” isi majalah Tempo. Konon pula kuliahnya di Ohio State University, Columbus, Amerika Serikat salah satunya adalah berkat usaha Tempo.

Nama Rizal mulai benar-benar terdengar ketika dia kembali ke Indonesia pertengahan 2001. Dia melejit lewat siaran televisi. Ketika Abdurrahman Wahid berada di ujung kekuasaan, Rizal terlihat memandu siaran televisi hingga 12 jam dan baru berhenti ketika Megawati dilantik menjadi Presiden RI, 23 Juli 2001 sore (lihat “Rizal Mallarangeng dan Gandengan Kiemas,” RM09).

Usai siaran, Rizal mengaku ditelepon Taufiq Kiemas, suami Megawati.  Sejak itu Rizal dengan Taufiq, dan Mega terlihat sering runtang-runtung. Koran Tempo menyebut, Rizal merupakan ikon penting di setiap  perjalanan Presiden Megawati ke luar negeri. Dia dijuluki sebagai “otak politik” Megawati meski hanya berlabel researcher. Ketika Megawati berkunjung ke Amerika, Rizal mengaku dialah pembuat konsep pidatonya.

Keikusertaan Rizal dalam rombongan presiden sempat menghebohkan ketika Megawati berkunjung ke India di kuartal pertama 2002. Tiba di New Delhi, Rizal kala itu disebut-sebut meminta disediakan “ayam India” alias pelacur.

Esty mahasiswi Indonesia di India yang mengaku mendengar ucapan Rizal kemudian menyebarkan perihal  “ayam India” ala Celli itu lewat milis.  Melalui  milis pula, Rizal akan tetapi membantah soal memesan “ayam India”  yang disebutkan oleh Esty.

Tak lalu isu “ayam India” membuat hubungan Rizal dengan  Mega,  Taufiq dan PDIP tak berlanjut. Saat Megawati-Hasyim bertarung pada Pemilu Presiden 2004, Rizal pula yang terlibat sebagai salah satu tim sukses pasangan itu. Sebelumnya nama Rizal sempat akan dimasukkan dalam daftar calon anggota DPR dari PDIP.  Namun ketika  Mega tersingkir oleh Yudhoyono yang didukung Andi, Rizal pun mulai mundur teratur dari Kubu Mega.

Seperti kakaknya, pria yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 29 Oktober 1964 ini memang terbilang cepat mencari lompatan politik. Dia merapat ke Yudhoyono. Dalam sekejap Rizal lantas dipercaya menjadi anggota Tim Sebelas Lembaga Kepresidenan, tim yang digagas oleh  sang kakak dan Denny Januar Aly.

Tim ini menurut majalah Tempo edisi 49/XXXIII 31 Januari 2005  memiliki peran strategis dalam penyusunan kabinet dan watak pemerintahan baru Yudhoyono. Selain Rizal, tercatat pula nama M. Chatib Basri, dan Lin Che Wei.

Mereka masuk ke lingkaran dalam Yudhoyono setelah mengundang presiden yang baru terpilih itu ke sebuah diskusi Freedom Institute, lembaga kajian yang dipimpin Rizal. Diskusi itu membahas konsep 100 hari pertama kinerja Kabinet Indonesia Bersatu, September 2004. Ketiganya kemudian menjadi anggota staf khusus Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie.

Kepada Tempo Rizal mengaku, dirinya tidak merasa risau masuk dalam lingkaran Yudhoyono meski sebelumnya dikenal sebagai pendukung fanatik Megawati dan dekat dengan Taufiq. Kata dia jabatannya sebagai staf khusus Bakrie, berkat kedekatannya dengan pengusaha besar itu yang dikenalnya sejak masih kuliah dan sama-sama mendirikan Freedom Institute.

Rizal mengakui  pula, dialah  yang memperkenalkan Yudhoyono kepada Megawati. “Saya bukan aktivis partai. Saya netral saja membantu yang bisa saya bantu,” kata Rizal.

Tentu saja sebagai “pendatang baru” di kubu Yudhoyono, Rizal mengerti bagaimana seharusnya bersikap dan menjadi pendukung fanatik seperti yang pernah dilakukan kepada Mega dan Taufiq. Dukungan fanatik Rizal kepada Yudhoyono misalnya,  terang-terangan dinyatakannya pada sehalaman iklan koran  yang berisi pernyatan dukungan untuk  kenaikan harga BBM yang dikerek oleh pemerintahan Yudhoyono, 1 Maret 2005.

Iklan yang disponsori oleh Freedom Institut itu dipasang di Kompas, 26 Februari 2005, sepekan sebelum kenaikan harga berlaku resmi.  Sejumlah nama yang tercantum ikut mendukung kenaikan harga BBM itu antara lain Andi dan Rizal, Goenawan Muhamad, Lin Che Wie, Iksan, Chatib Basri, Raden Pardede, Sofyan Wanandi dan Todung Mulya Lubis. (bersambung)

Artikel ini bisa juga dibaca di Politikana.com dan Kompasiana.com

Iklan