Dalam Jimat Keramat yang Mematikan yang dikisahkan Dumbledore kepada Hermione, diceritakan tiga laki-laki bersaudara yang berhasil mengelabui Sang Kematian yang berkerudung: si sulung yang suka membual, yang nomor dua yang sombong, dan si bungsu yang ramah.

oleh Rusdi Mathari
DIPERBANDINGKAN dengan dua saudaranya yang lain, Andi dan Zulkarnain—  Rizal memang terlihat lebih sering menonjol. Dialah salah satu penggagas berdirinya Freedom Institute yang dimodali pengusaha Aburizal Bakrie.

Seorang kawan bercerita bagaimana Rizal meyakinkan Aburizal ketika hendak mendirikan Freedom. Saat mengajukan proposal, Rizal mengatakan lembaga itu kelak akan mengembangkan ide-ide liberal. Nama mendiang Ahmad Bakrie, bapak Aburizal disebut-sebut pula akan dijadikan ikon lewat penghargaan yang diberikan setiap tahun. Semacam penghargaan Raymond Magsaysay atau Nobel, tapi khusus untuk orang-orang Indonesia.

Aburizal setuju. Fredom Institute berdiri pada 2001 dan Rizal duduk sebagai Direktur Eksekutif. Dia dibantu oleh Luthfi Assyaukanie (deputi direktur), Saiful Mujani (direktur riset), dan Hamid Basyaib (direktur program). Selain nama-nama itu, ada Andi Mallarangeng, M. Chatib Basri, Mohamad Iksan, Nirwan Dewanto, Ahmad Sahal, dan Ulil Abshar Abdallah yang tercatat sebagai Associates (lihat “Ical Bakrie, Dua Wajah Politik Itu,” Rusdi GoBlog, 1 Juni 2009)

Nama Freedom Institute di Jakarta sama persis dengan Freedom Institute yang berdiri di New York. Bedanya Freedom yang di New York bergiat pada bidang kemanusiaan, mengurusi para pecandu alkohol dan mereka yang terjerat obat-obatan, sementara Freedom yang di Jakarta lebih banyak menggiring pendapat umum.

Lalu berdirinya Freedom di Jakarta, semakin menumbuhkan kepercayaan diri pada Rizal. Lembaganya menjadi ikon anak-anak muda yang tersihir oleh isu-isu liberalisme.

Kepercayaan diri Rizal semakin membuncah ketika dia juga dipercaya oleh Surya Paloh menjadi pembawa acara “Save Our Nation” di Metro TV. Sejak itu, dia menjadi lebih sering terlihat di layar kaca televisi, memasuki ruang-ruang publik. Suara beratnya terdengar sebagai sosok berwibawa, penuh ilmu dan mengandung kebajikan.

Ide Rizal memang banyak termasuk ketika dia melontarkan usulan untuk mendirikan lembaga konsultan politik. Gagasan itu disetujui oleh Andi, juga oleh Zulkarnain.

Terwujudlah kemudian Fox Indonesia, yang di situsnya disebut berdiri sejak 14 Februari 2008. Perusahaan itu terutama berhikmat sebagai konsultan politik untuk korporasi, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden. Strategic and Political Consulting, begitulah tertulis di situs Fox.

Ada tiga divisi di dalam Fox: divisi korporasi, divisi politik dan divisi media (produksi). Jasa yang diberikan meliputi penanganan pembiayaan, perencanaan strategis, relasi dan peliputan media, dan sebagainya. Semuanya, katanya, disesuaikan dengan kebutuhan dan obyektivitas klien, dengan standar dan ukuran yang jelas. Disebutkan pula, sesuai dengan misinya, Fox selalu inovatif dalam mencari cara-cara baru melakukan kampanye publik yang tidak hanya terbukti efektif tetapi juga cerdas, elegan dan efisien dalam mencapai tujuan.

Nama Fox mulai berkibar ketika perusahaan itu “mengantarkan” Alex Noerdin menjadi Gubernur Sumatra Selatan September 2008. Alex  menyingkirkan gubernur incumbent, Syahrial Oesman. Kepada Jawa Pos, Zulkarnain yang sering disapa sebagai Choel itu bercerita, bagaimana dia memenangkan  Alex.

Strategi pertama adalah membombardir seluruh Sumatra Selatan dengan iklan di televisi, radio, dan koran. ”Kami perlu merebut air supremacy, untuk softening the ground, sebelum ’serangan darat’ dilancarkan,” kata Zulkarnain.

Setelah itu Fox melakukan survei untuk mengetahui kabupaten mana yang masih resistan, mana yang sudah lunak. Rencana kampanye pun kemudian disusun untuk memenangi hati pemilih di daerah-daerah yang masih enggan memilih Alex. Hasilnya Alex terpilih menjadi gubernur. Padahal kata Zulkarnain, enam bulan sebelum hari pemilihan, popularitas Alex hanya 32 persen, jauh di bawah popularitas Syahrial.

Sukses itu mengantarkan Fox mendapat klien “kakap” Sutrisno Bachir. Ketua Umum PAN itu membayar Fox untuk mendongkrak popularitasnya. Nilai kontraknya Rp 120 miliar tapi baru di tengah jalan, Sutrisno mutung. Pemicunya adalah manuver Rizal yang pada masa-masa itu juga, tiga bulan terakhir 2008 gencar beriklan sebagai calon presiden Indonesia alternatif.

Jadilah di televisi “if there is a will, there is a way” yang diucapkan Rizal menimpali kata-kata dari Sutrisno “hidup adalah perbuatan.” Merasa dikadali, Sutrisno konon marah lalu memutuskan kontrak dengan Fox, yang baru meraup Rp 40 miliar dari pengusaha batik dan udang itu.

Gara-gara itu, Rizal lantas “didepak” dari Fox meski baik Zulkarnain mau pun Rizal membantah soal itu. Kata Rizal dia  mundur dari Fox karena sibuk mengurusi lembaga RM09. Ini lembaga baru yang dipersiapkan Rizal untuk pencalonannya sebagai presiden.

Sejak tahun lalu Rizal memang  mengiklankan dirinya sendiri sebagai calon pemimpin alternatif pada Pemilu Presiden 2009. Di iklan-iklannya di televisi dia tampil sebagai tokoh bijak: menggandeng orang papa, bermain bersama anak-anak miskin dan sebagainya. Ratusan hingga ribuan baliho juga dia pasang dengan merek dagang RM 09.

SBY Tak Lagi
Dikutip Antara, Rizal mengatakan,  Pemilu Presiden 2009 mestinya tidak diikuti lagi oleh tokoh-tokoh yang disebutnya sebagai “itu-itu” saja. Dia bahkan dengan terang-terangan, meminta Yudhoyono untuk tidak lagi mencalonkan kembali dalam Pemilihan Presiden 2009. Tak lupa Rizal menyebut dirinya sebagai orang yang mampu memimpin Indonesia karena kata dia, pembangunan yang ada selam ini tidak begitu cepat, mulai dari infrastruktur, pengangguran, kemiskinan, ekonomi dan BBM.

“Saat ini, masyarakat untuk mendapatkan minyak tanah saja harus antrean panjang. Insyaallah, saya siap untuk maju dalam pertarungan Pilpres 2009,” kata Rizal.

Di Makassar, Rizal membuka rahasia, mengapa nekat memajukan dirinya sendiri sebagai calon presiden. Salah satunya, karena dia yakin berpeluang untuk didukung PDIP dan Partai Golkar. Selain itu, Rizal mengaku juga disokong sejumlah partai, meski dia tak bersedia menyebutkan nama-nama partai itu.

Kepercayaan diri Rizal maju sebagai calon presiden bahkan dia nyatakan dengan menantang para kandidat lain untuk berdebat. Bukan 10 atau 20 kali, tapi 33 kali sesuai jumlah provinsi di Indonesia. Lewat debat itu, Rizal percaya, kapasitas kandidat capres bisa diketahui. Dikutip Fajar Makassar, dia mempersilakan masyarakat menilai dirinya melalui sejarah hidup dan rekam jejaknya.

Ada cerita Andi mengapa adiknya berambisi mencalonkan sebagai presiden itu. Syahdan bertemulah kakak-adik itu. Kepada Andi, Rizal mengutarakan maksudnya akan maju sebagai calon presiden. “Kalau kau maju (sebagai capres), aku tidak maju.” Andi bilang, dirinya mendukung Yudhoyono. Rizal menimpali, perlu pilihan baru bagi rakyat.

Atas pilihan adiknya itu, Andi menilai wajar dalam demokrasi. “Itu artinya dia sudah tidak mendukung Megawati. Mungkin selangkah lagi mendukung SBY,” kata Andi (lihat “Keluarga dengan Pilihan Politik Berbeda (3), Sejak Kecil Rizal tak Mau Kalah dengan Kakaknya,” Inilah.com, 14 Agustus 2008).

Belakangan ambisi Rizal perlahan surut. Dia mengaku harus rasional karena tingkat penerimaan publik terhadap dirinya tidak mendukung meski dia tetap mengaku cukup populer. Jawa Pos menulis, surutnya niat Rizal maju sebagai kandidat presiden itu, karena tak ada partai yang mendukungnya.

Lalu “tiba-tiba” Rizal muncul di dalam kereta yang ditumpangi Boediono, saat akan menuju Bandung, untuk acara deklarasi, 15 Mei 2009. Dia menjadi ketua rombongan Boediono. Masih menurut Jawa Pos, beberapa anggota rombongan terkejut melihat kehadiran Rizal. Dalam perjalanan di kereta api itu, Rizal bahkan tidak berhenti “digoda” oleh anggota rombongan lain termasuk Boediono.

“Kamu sabar dulu ya, tunggu 2014,” kata Boediono. Dewi Tjakrawati, istri Rizal ikut menimpali. “Tenang Pak Boed, pas deklarasi, Celi saya ikat biar tidak lepas ke panggung,” tuturnya lantas tertawa. Semua yang mendengar ikut tertawa. Rizal tersenyum kecut.

Bergabung dengan tim SBY-Boediono,  Rizal belakangan menjadi penyerang paling nyata terhadap lawan-lawan politik Yudhoyono pada musim kampanye Pemilu Presiden 2009., termasuk kepada Kubu Megawati, yang dulu pernah dipuja-pujinya. Ruhut Sitompoel menyebut peran Rizal di Tim SBY-Boediono sama dengan dirinya sebagai Tim Bayonet. Taufiq Kiemas, suami Mega, menganggap Rizal tidak menamatkan “pendidikan” di PDIP yang tidak lulus.

Choel
Zulkarnain atau Choel itu adalah orang yang senang bekerja di belakang layar. Seorang teman yang dekat dengan Zulkarnain bercerita, Zulkarnain termasuk orang yang lebih pintar dibandingkan dengan  Rizal dan Andi. Zulkarnain pula yang lebih telaten melayani pertanyaan wartawan. Dia bukan orang yang sinis.

Si bungsu itu, kini menjadi orang nomor satu di Fox. Di tangannya, Fox mendapat kepercayaan dari Partai Demokrat sebagai konsultan di ajang Pemilu Legislatif 2009. Segala tetek bengek kampanye, iklan, hingga pencitraan SBY diurus Choel melalui Fox Indonesia. Segudang ide untuk metode dan strategi kampanye Demokrat juga muncul dari Zulkarnain.

Salah satunya adalah kampanye hari terakhir Demokrat di Magelang, Jawa Tengah. Saat semua partai gencar melaksanakan rapat akbar di lapangan terbuka dengan ribuan massa, Demokrat justru menyewa gedung pertemuan yang mampu menampung  500 orang. Jumlah yang sedikit memang tapi Zulkarnain memboyong seratusan jurnalis dari Jakarta untuk meliput kegiatan tersebut. “Itu kampanye modern. Tidak perlu mengerahkan banyak massa, tapi efektif. Pesan tersampaikan,” kata Zulkarnain (lihat “Trio Mallarangeng di Ring Satu,” Jawa Pos, 3 Juni 2009).

Latar belakang pendidikan di Amerika, rupanya memang telah menginspirasi Zulkarnain dan juga kakak-kakaknya untuk me­ngembangkan model kampanye ala Abang Sam. Kata dia, kampanye modern merupakan cara paling efektif dalam menjaring pemilih. Dan ini hasilnya: Demokrat yang pada Pemilu 2004 hanya meraih sekitar tujuh persen suara, pada pemilu tahun ini sukses meraup kenaikan suara hingga 300 persen.

Saat deklarasi SBY-Boediono di Bandung itu, Zulkarnain pula yang merancang acaranya agar mirip deklarasi atau kampanye para kandidat presiden Amerika. Acara yang dihadiri sekitar dua ribuan undangan itu, dirancang khusus dan  dilangsungkan di auditorium hall berkapasitas 1.581 kursi dengan tambahan 200 tempat duduk.

Gedung tempat deklarasi SBY-Boediono merupakan gedung megah di kompleks ITB, Jalan Taman Sari 73, Bandung. Di situs www.sabugacenter.com, sewa gedung disebutkan Rp 25.650.000 per 12 jam. Ketua DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok menilai, deklarasi itu meniru deklarasi Obama-Joy Bidden di Illionis, 23 Agustus 2008, ketika keduanya maju sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden dari Partai Demokrat.

Dalam belanja iklannya, Zulkarnain lebih memilih menggunakan strategi media spinning. Misalnya dengan menampilkan wajah Yudhoyono di harian terbesar di Indonesia di halaman depan dengan setengah halaman tambahan. Jenis iklan flap-ads itu jarang digunakan di Indonesia.

Selain Demokrat dan Yudhoyono, klien Fox yang lain adalah Edhie Baskoro, putra bungsu Yudhoyono yang maju sebagai kandidat legislator di wilayah kampung halaman sang Bapak. Ongkos untuk Ibas –panggilan Edhie termasuk murah, hanya Rp 10 miliar.

Total ongkos yang dikeluarkan Demokrat dan tim Yudhoyono untuk membayar Fox, tentulah rahasia perusahaan Zulkarnain dan Fox. Namun juga bukan pekerjaan sulit untuk menerkanya. Jika Sutrisno yang Ketua PAN dan “tidak ada apa-apanya” bisa mengikat kontrak senilai Rp 120 miliar, tentulah ongkos yang dikeluarkan oleh Demokrat dan Yudhoyono “yang ada apa-apanya” akan jauh lebih besar.

Dalam Jimat Keramat yang Mematikan yang dikisahkan Dumbledore kepada Hermione, diceritakan tiga laki-laki bersaudara yang berhasil mengelabui Sang Kematian yang berkerudung: si sulung yang suka membual, yang nomor dua yang sombong, dan si bungsu yang ramah. Kecuali si bungsu, kakak-adik itu akhirnya tewas. Kakak pertamanya dibunuh tukang sihir,  dan kakak yang satunya mati bunuh diri. Kisah yang berjudul asli  The Deathly Hallow Sign itu ditulis oleh J.K Rowling dalam serial novel Harry Potter.

Pada kisah Mallarangeng Bersaudara mestinya orang tidak akan lupa kata-kata yang pernah diucapkan oleh Rizal, “if there is a will there is a way” itu.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana.com dan Kompasiana.com

Iklan