Megawati lebih populer dari Yudhoyono. Prabowo kalah tenar dari Boediono tapi unggul atas  Yudhoyono. Bagaimana dengan Jusuf Kalla?

oleh Rusdi Mathari
TAK perlu ongkos dan tak perlu dipesan. Sekarang, buka Google Trends, ketik nama “Yudhoyono,” “Megawati,” dan “Jusuf Kalla” lalu lihat hasilnya: Megawati ternyata lebih populer dibandingkan Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Di bawahnya ada nama Yudhoyono, itu pun dibayangi ketat oleh popularitas Jusuf Kalla.

Nama Megawati bahkan unggul di enam provinsi yang tercantum di Google Trends— DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Sumatra Utara itu. Nama Megawati juga tenar di semua kota yang tercantum di mesin pencari itu.

Yudhoyono baru mengungguli semua kandidat presiden jika namanya dimasukkan dengan singkatan “SBY.” Namun jika diketik dengan lengkap “Susilo Bambang Yudhoyono,” popularitas Yudhoyono malah lebih teruk merosot dibandingkan dengan “Megawati” dan “Jusuf Kalla.”

Popularitas di antara para kandidat wakil presiden Prabowo, Boediono, Wiranto, juga terlihat ketat meski popularitas semua calon kalah dengan Prabowo. Nama Prabowo justru kalah jika hanya diadu dengan nama Boediono. Lalu cobalah ketika nama “Yudhoyono” dan “Prabowo.” Hasilnya  popularitas Yudhoyono kalah dibandingkan popularitas Prabowo.

Popularitas para kandidat itu memang hanya versi mesin pencari Google dan tentu tak mencerminkan popularitas yang sebetulnya karena hanya digunakan para pengguna internet. Lewat Google itu, misalnya, bisa saja orang yang mencari satu nama kandidat, sebetulnya tidak dimaksudkan untuk memuja apalagi kelak memilih nama kandidat yang bersangkutan— melainkan justru hanya ingin mencari semua data jejak rekamnya, termasuk tentu catatan yang paling buruk.

Terlihat pada grafik Google Trends itu, persaingan popularitas para kandidat itu semakin menguat justru di tahun ini, saat hajatan pemilu digelar. Artinya memang banyak orang yang mengetikkan nama mereka di Google untuk berbagai keperluan. Semakin nama itu banyak dimasukkan ke mesin Google, niscaya akan semakin populer namanya di sana.

Anda kemudian mungkin akan bertanya tentang jumlah  pengguna internet di Indonesia. Data internetworldstats.com menyebutkan, jumlah pengguna internet di Indonesia hingga 2007 telah sampai pada angka 25 juta orang. Itu konon, peringkat kelima terbanyak di Asia meski tak semuanya tersambung ke internet setiap hari.

Dengan kata lain, jumlah pengguna internet di negeri ini, memang lumayan besar dibandingkan misalnya dengan jumlah responden dari lembaga survei. Atau jika pun hanya diambil 500 ribu pengguna internet paling aktif dan kemudian diciutkan lagi menjadi  10 ribu pengguna yang  “terlibat” dalam pencarian nama para kandidat, jumlah mereka juga tetap  lebih banyak dibandingkan angka tiga ribu responden yang selalu dipakai lembaga survei, itu.

Hasil dari Google itu pun, niscaya dijamin lebih akurat dan jauh lebih independen ketimbang hasil survei lembaga-lembaga pemeringkat dan polling SMS, yang di Indonesia,  sering kali digunakan dan dinilai hanya mewakili pihak pemesan terutama pada saat musim kampanye seperti sekarang.

Jadi, Anda yang berkubu dengan salah satu kandidat presiden dan wakilnya pada musim pemilu tahun ini, silakan memperbanyak memasukkan nama kandidat Anda di Google. Setidaknya ketika kelak calon Anda tersingkir dalam pemilihan, hasil popularitas yang ditampilkan mesin pencari itu, bisa digunakan untuk menghibur diri.

Atau iseng-iseng masukkan nama Anda bersanding dengan nama-nama kandidat itu, dan lihat hasilnya. Siapa tahu, justru nama Anda lebih populer dibandingkan mereka.  Gratis tidak perlu membayar ongkos ratusan juta rupiah kepada lembaga survei, kecuali Anda tentu harus membayar pulsa internet.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana.com dan Kompasiana.com

Iklan