Mahmoud AhmadinejadBagaimana Mousavi yang katanya santun itu dan juga para pendukungnya lalu menuding Ahmadinejad telah berlaku curang dalam pemilu sementara sebagai Presiden Iran, Ahmadinejad bahkan tak pernah mengambil gajinya sebagai presiden dan hanya sarapan setangkup roti?

oleh Rusdi Mathari
KEMENANGAN Mahmoud Ahmadinejad dalam pemilu Iran terus dipersoalkan oleh lawan-lawan politiknya, terutama oleh kubu Mir Hossein Mousavi. Sabtu pekan lalu, sesaat setelah kementerian dalam negeri Iran mengumumkan kemungkinan Ahmadinejad memenangkan pemilu, ribuan pendukung Mousavi memenuhi jalanan Teheran. Mereka, seperti dikutip AFP berteriak-teriak menghujat Ahmadinejad sebagai diktator.

Ahmadinejad kenyataannya memang memenangkan pemilu itu. Dia mendapatkan 21,8 juta suara (60 persen) dari 34 jutaan suara pemilih di Iran. Ada pun Mousavi mengantongi 11,7 juta suara (34 persen) dan sisanya untuk Mohsen Razai dan Mehdi Karroubi. Realitas itu niscaya berbanding terbalik dengan perhitungan yang dilakukan oleh Mousavi dan pendukungnya, yang sebelum pengumuman resmi dari kementerian dalam negeri telanjur mengklaim kemenangan sepihak, beberapa jam usai pemilihan berlangsung, Jumat, 12 Juni.

Hingga Minggu kemarin para pendukung Mousavi yang marah masih melakukan serangkaian unjuk rasa. Membakar ban di jalan-jalan, melemparkan batu kepada polisi, dan mengharapkan Ahmadinejad mati sambil tak lupa berteriak Allahu Akbar. Kata Mousavi, tindakan yang diambil oleh para pendukungnya merupakan bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan terhadap bangsa dan agama.

Ahmadinejad adalah bekas wali kota Teheran sebelum terpilih menjadi Presiden Iran 24 Juni 2005. Nama lahirnya Mahmoud Saborjihan tapi sang ayah kemudian mengubah namanya menjadi Mahmud Ahmadinejad setelah keluarga mereka bermukim di Ibu Kota Iran, ketika Ahmadinejad baru berusia beberapa tahun. Lewat perubahan nama itu, sang ayah berharap anaknya yang lahir 28 Oktober 1956 itu menjadi orang terpuji dan bijak, sesuai arti kata Ahmad.

Harapan itu belakangan memang terbukti, setelah Ahmadinejad terpilih menjadi walikota pada awal 2003. Sebagai wali kota, dia dikenal bersikap tegas dan tak pilih kasih memperlakukan warganya termasuk waktu itu kepada Presiden Iran, Mohammad Khatami.

Ada cerita bagaimana Pak Wali Kota pernah membuat kesal Pak Presiden. Suatu hari, sebagai presiden, Khatami bermaksud memberikan kuliah umum di Universitas Teheran. Namun di tengah jalan, iring-iringan mobilnya yang dilengkapi dengan patroli kawal itu terjebak oleh lalu-lintas di jalanan Teheran.

Khatami marah karena sebagai presiden dia merasa berhak mendapatkan keistimewaan, termasuk harus terbebas dari kemacetan lalu-lintas. Di perkuliahan itu, Khatami lalu mengkritik cara kerja Ahmadinejad, sebagai walikota yang tak becus.

Apa jawaban Pak Wali Kota itu terhadap kritik Pak Presiden? “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyat yang sesungguhnya.”

Dalam sebuah acara setelah itu, Khatami kemudian melarang Ahmadinejad menghadiri pertemuan Dewan Menteri. Itu adalah permufakatan tertinggi bagi seluruh petinggi Iran, dan sebagai wali kota Teheran, di mana Ahmadinejad termasuk anggotanya. Namun Ahmadinejad tak gusar, tak juga menempatkan dirinya sebagai orang yang dianiaya, dizalimi itu.

Tak Pura-Pura
Sesaat setelah dilantik menjadi Presiden Iran empat tahun lalu, hal penting yang kali pertama dilakukannya adalah mengumumkan kekayaan dan propertinya. Harta itu terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya di sebuah daerah kumuh di Teheran, dan rekening bank yang bersaldo minimum.  Satu-satunya penghasilan dia yang masuk ke rekening itu hanya gaji tetap bulanan sebagai dosen  sebesar Rp 2,5 juta.

Menurut Ahmadinejad, sejak menjadi presiden seluruh kekayaannya adalah milik negara dan dia hanya bertugas menjaganya. Setiap kali berangkat ke kantor kepresidenan dari rumah pribadinya yang lusuh itu, Ahmadinejad juga hanya membawa beberapa tangkup roti tawar yang dibuatkan oleh istrinya. Semua perilaku Ahmadinejad sebagai pemimpin itu bisa dibaca di sini.

Sungguh sikap dan perilaku Ahmadinejad sebagai pemimpin, kemudian memang mencengangkan sebagian publik dunia. Dalam sebuah wawancara dengan jaringan stasiun televisi Fox, dia ditanya apa yang dia katakan pada dirinya setiap kali memandang wajah di cermin setiap pagi. Lalu Ahmadinejad menjawab, saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: “Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran.”

Kesederhanaannya bukan pura-pura sederhana, meski kursi-kursi di rumahnya belum tentu bolong-bolong. Dia juga tak punya simpanan surat berharga dan emas berlian seharga belasan miliar rupiah meski belum tentu dia bisa menemani istrinya berbelanja di supermarket dan ikut mendorong kereta belanja.

Tak Mau Didikte
Saya masih ingat betul, wajah dan bahasa tubuh Ahmadinejad ketika dia berpidato di Kampus Universitas Indonesia, tiga tahun lalu. Dia menjawab seluruh pertanyaan peserta tanpa berusaha menampilkan diri sebagai sosok paling pintar dan tahu segalanya.

Jawabannya mengalir, jujur dan apa adanya, termasuk tawanya yang sesekali berderai. Bahkan kalau pun saat itu dia tak bisa menjawab, saya yakin Ahmadinejad akan berterus terang mengatakan tak bisa menjawab. Sama sekali tak ada raut wajah dan sikap  dia yang pura-pura, apalagi hanya sekadar untuk menjaga wibawa sebagai presiden dari sebuah negara yang diperhitungkan di dunia.

Tentu saja Ahmadinejad sebagai presiden, tahu bagaimana negaranya harus diatur. Dia karena itu tak memberikan tempat kepada negara lain, untuk mendikte dan mengatur negaranya. Dalam program nuklir Iran yang disoal oleh Amerika semasa Presiden Bush berkuasa, misalnya,  sikap tegas Ahmadinejad melawan.

Kata dia tak satu pun negara yang berhak membatasi negara lain mengembangkan teknologi apa pun termasuk program nuklir. Juga di kuliah umum di UI itu, yang saya ingat, dia mengatakan, negara-negara Barat kerap melakukan sesuatu atas negara lain seenaknya, merasa budaya mereka sebagai yang paling tinggi.

Lalu sejak Sabtu pekan silam, Ahmadinejad dihujat berbuat curang oleh musuh-musuh politiknya terutama Mousavi, bekas PM Iran (1980-1988) yang oleh  media Barat dicitrakan sebagai tokoh reformis yang santun, dan menjanjikan kehidupan ekonomi lebih baik melalui pasar bebas.

Sungguh saya tak bisa mengerti, bagaimana Mousavi yang katanya santun itu dan juga para pendukungnya kemudian menuding Ahmadinejad tak berbuat jujur dalam pemilu sementara sebagai Presiden Iran, Pak Nejad bahkan tak pernah mengambil gajinya sebagai presiden dan hanya sarapan setangkup roti, setiap hari?

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana.com dan Kompasiana.com.

Iklan