Kamis sore nanti, gerakan Pilpres Satu Putaran Saja ala Denny JA akan dideklarasikan di Pekan Raya Jakarta. Saat itulah, Denny mungkin akan mengumumkan hasil terbaru survei lembaganya tentang popularitas para kandidat presiden dan wakilnya: Mega-Pro di bawah 10 persen, SBY-Boediono di atas 60 persen, dan JK-Win di bawah 10 persen.

oleh Rusdi Mathari
GOSIP. Dua kali Denny Januar Ali menuliskan kata-kata itu dan mengirimkannya ke ponsel saya lewat SMS, pesan pendek itu. Dia seolah hendak menegaskan sesuatu atau mungkin malah hendak menihilkan. Karena dua kali menyebut kata gosip itulah, saya penasaran bertanya apa yang dia maksud sebagai gosip itu.

Jawaban Denny, “Ketemu SBY tidak tanggal 11 Juni. Dan tak ada kesepakatan memanipulasi publikasi survei.”

Lewat SMS, saya memang bertanya kepada Denny sore kemarin, sebelum kereta yang saya tumpangi tiba di stasiun Pasar Minggu. Awalnya saya bertanya, apa benar Denny bertemu dengan SBY di Cikeas sebelum iklan Pilpres Satu Putaran Saja muncul di media. Iklan itu merupakan bagian dari gerakan Pilpres Satu Putaran Saja yang diumumkan Denny lewat Lembaga Studi Demokrasi, awal Juni lalu.

Lembaga Studi Demokrasi adalah salah satu anak perusahaan Lingkaran Survei Indonesia. Keduanya milik Denny. Lembaga yang sama sebelumnya terang-terangan menyatakan dukungannya kepada  pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono pada Pilpres  8 Juli 2009.

Di SMS itu, tak lupa saya menyertakan hasil survei LSI milik Denny yang menyebutkan kemerosotan popularitas pasangan SBY-Boediono dan karena itu Denny mengusulkan semacam tindakan ekstrem untuk mendongkrak popularitas mereka. Semacam itu.

Setelah itu, kami baku kirim SMS hingga tujuh kali sebelum Denny mengakhiri tanya-jawab dengan pesan “Sudah cukup bung, ini bukan untuk konsumsi publik.” Saya tak meneruskan bertanya dan mengucapkan banyak terima kasih.

Selain tak ingin memaksa, saya merasa sudah cukup mendapatkan kunci jawaban dari pertanyaan saya kepadanya. Dalam balasan pertama pesan pendeknya, Denny membenarkan meski dia menolak angka-angka yang saya sebutkan. “He…he…he…saya jumpa SBY benar tapi angka surveinya tidak seperti itu. Maklum gosip, he…he…” Begitulah jawaban Denny.

Saya lalu menyusulkan pertanyaan berikutnya. “Tapi benar bertemu 11 Juni di Cikeas? Kalau boleh tahu, pagi, siang atau malam? Hasil survei yang benar seperti apa?” Denny membalas, “Ketemu malam. Hasil survei ya seperti yang kita publish di publik. Ini memang era gosip, he…he…he”

Pangkal pertanyaan saya bermula dari informasi yang masuk ke inbox email saya dari seorang sahabat yang dengannya, saya menitipkan rasa percaya. Isinya menjelaskan latar belakang kemunculan iklan Pilpres Satu Putaran Saja yang digagas oleh Denny.

Dalam email itu disebutkan, Direktur Eksekutif LSI itu ikut dalam pertemuan di Cikeas dengan SBY pada 11 Juni 2009 dan melaporkan hasil survei secara nasional maupun survei khusus di tujuh provinsi penghasil suara terbesar.” Begitulah kalimat awal yang ditulis teman tadi.

Untuk survei tingkat nasional yang melibatkan 12 ribu responden, dalam pertemuan dijelaskan oleh Denny, popularitas pasangan Mega-Pro sudah mencapai 22,76 persen, SBY-Boediono 48,38 persen, dan JK-Win 28,86 persen. Survei di tujuh provinsi penghasil suara terbesar (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan), hasilnya juga kurang lebih sama. Berangkat dari hasil survei itu, menurut Denny, popularitas SBY-Boediono harus dikerek kalau tidak ingin terus merosot.

Keterangan Barkah
Salah satu jalan keluar yang diusulkan Denny adalah melakukan tindakan konkret atau ekstrem. Caranya dengan menggiring pendapat umum lewat wacana pilpres satu putaran. Itu katanya demi menghemat waktu dan mencegah pemborosan. Susilo Bambang Yudhoyono, konon menyetujui usulan Denny.

Usai pertemuan malam itu, Denny lantas menghubungi Barkah Pattimahu, Direktur Konsultan Citra Indonesia. Perusahaan ini juga salah anak perusahaan di bawah bendera LSI. Denny meminta Barkah menindaklanjuti dengan membuat survei, lalu mengumumkan hasilnya dengan posisi masing-masing pasangan kandidat, Mega-Pro di bawah 20 persen, SBY-Boediono di atas 60 persen dan JK-Win di bawah 10 persen.

Sesaat setelah SMS pertama saya kirimkan ke Denny, saya menghubungi Barkah lewat sambungan telepon seluler. Kepadanya saya bertanya perihal yang sama, seperti yang saya tanyakan kepada Denny. Tak lupa saya menjelaskan, kenapa saya menghubunginya. “Nama Anda ikut disebut-sebut,” kata saya kepada Barkah.

Tak banyak yang dijelaskan oleh Barkah selain membenarkan ada permintaan kepadanya untuk membuat program-program kampanye pilpres satu putaran. Di antaranya termasuk untuk membuat sosialisasi di daerah-daerah. Hanya itu. Selebihnya dia meminta saya untuk menghubungi langsung Denny. “Saya kira Anda menghubungi mas Denny saja,” kata Barkah.

Saya tak berusaha memaksa, karena dari nada bicaranya saja, Barkah terdengar kaget saya bertanya soal itu. Seolah  khawatir. Saya lalu hanya meminta kesediaan Barkah mengirimkan alamat email, karena barangkali saya akan mengirimkan pertanyaan susulan lewat email. Barkah menyanggupi tapi hingga artikel ini saya tulis pagi ini, Barkah tak kunjung mengirimkannya.

Sebetulnya saya juga tak 100 persen meyakini informasi yang disampaikan  lewat email oleh teman saya itu. Terutama menyangkut tanggal pertemuan Denny dengan SBY, 11 Juni 2009, yang oleh Denny kemudian juga dibantah itu. Saya tahu gerakan Pilpres Satu Putaran Saja sudah muncul ke publik sejak awal Juni kecuali iklannya yang saya lihat baru muncul 11 Juni 2009.

Lewat SMS, saya karena itu menanyakan kesahihan informasi tersebut. “Itu A-1 Cak. Dijamin,” kata dia. Saya hanya tersenyum membaca email balasan teman tadi.

Namun keterlibatan Denny dalam tim SBY-Boediono, saya percaya sepenuhnya. Setidaknya berdasarkan keterangan Umar Bakry Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional.

Cerita Umar, Denny direkrut karena pengalaman dan akurasinya sebagai pengelola survei opini publik dan konsultan politik. “Sepertinya Denny ditarik masuk kembali, menempati posisi yang dulu dia mainkan ketika membantu SBY di tahun 2004. Tapi yang pasti, dia tidak masuk ke dalam tim sukses resmi. Mungkin divisi khusus,” ungkap Umar (lihat “Denny JA Atur Strategi Pilpres Satu Putaran,” Swaberita.com, 5 Juni 2009).

Rubrik Nasional majalah Tempo edisi 47/XXXVII 12 Januari 2009  pernah menuliskan, Lembaga Survei Nasional sebetulnya hanya kepanjangan tangan Denny. Umar, pemimpin Lembaga Survei Nasional dan Denny berhimpun di bawah atap yang sama: Asosiasi Riset dan Opini Publik. Denny adalah ketua umum asosiasi itu, sedangkan Umar menjabat sekretaris jenderal (lihat “Main Mata, Perang Pol,” Tempo, 12 Januari 2009)

Iklan Pilpres Satu Putaran Saja ala Deny saya ketahui kali pertama lewat status Budi Putra di jejaring Facebook. “Denny J.A, Direktur Lembaga Studi Demokrasi (LSD) pasang iklan di koran mengajak agar pilpres cukup satu putaran saja dengan cara memilih SBY-Boediono. Wow.” Begitulah status Budi Putra. Tak lupa Budi menyertakan gambar berikut link iklan kampanye itu, yang dimuat Media Indonesia halaman 3 pada 11 Juni 2009.

Lalu kapan sebetulnya pertemuan Denny dengan SBY itu berlangsung? “Bukan untuk konsumsi luar.” Begitulah jawaban SMS Denny selanjutnya.

“Lu Kali”
Sepintas, iklan ala Denny itu memang terlihat bijak. Di sana disebutkan jika pilpres berlangsung satu putaran, akan dihemat banyak biaya di saat ekonomi sulit. “Pihak yang bersaing dapat bersatu kembali dengan cepat dan pemerintah juga akan lebih cepat fokus mengatasi problem kita.”

Benar, iklan Denny memang menggunakan kata “kita” meski tak jelas, siapa “kita” yang dimaksud itu: Denny dan orang-orang yang bersimpati kepadanya, semua pendukung para capres,  pembaca iklan itu, Anda, tetangga Anda atau siapa. Saya sering mendengar percakapan anak-anak ABG soal kata “kita” itu.

“Kita?”

“Lu kali.”

Belakangan iklan Denny itulah yang memicu perang opini di media massa. Dua lawan politik pasangan SBY-Boediono pada pilpres kali ini, kubu Mega-Pro dan JK-Win, pastilah meradang. Mereka menganggap iklan Denny tak etis karena sudah menggiring pendapat umum untuk memenangkan satu pasangan capres: SBY-Boediono.

“Yang menentukan itu rakyat satu putaran atau dua putaran. Yang mengklaim pilpres satu putaran artinya itu di luar kehendak publik bahkan menyesatkan,” kata Ferry Mursidan Baldan (lihat “Iklan Pilpres Satu Putaran Menyesatkan,” Media Indonesia.com, 12 Juni 2009).

Muspani, anggota DPD malah bereaksi lebih keras. Iklan Denny itu dianggapnya sebagai upaya sistematis untuk menggiring rakyat pada satu calon. Baik itu melalui hasil survei maupun melalui iklan yang ada iming-iming door prize. “Kalau perlu iklan ini dilaporkan saja ke Bawaslu. Ini sudah pelanggaran serius,” kata Muspani.

Pangkal persoalannya adalah gambar pasangan SBY-Boediono yang dipasang di sebelah kanan iklan Denny. Gambar pasangan itu diliputi garis putus-putus dilengkapi dengan redaksi,  silakan gunting stiker ini, jika ingin terlibat dalam gerakan Pilpres satu putaran. Di bawahnya ada redaksi, “Ingin Terlibat…. Sebarkan…Bagikan.”

Dalam sebuah diskusi di Cikini, Adhie Massardi, yang sekarang aktif di Rumah Perubahan, menganggap gerakan Pilpres Satu Putaran Saja ala Denny, sebagai peringatan dini bagi lawan-lawan SBY-Boediono. Kata dia, lewat gerakan itu, Denny meminta agar lawan politik SBY waspada karena SBY bisa menang dalam satu putaran saja.

Yang agak mengejutkan, Adhie lalu menduga yang dilakukan Denny sebetulnya merupakan upaya lawan politik SBY untuk menggagalkan pilpres berlangsung satu putaran. “Faktanya kan kita semua jadi waspada dengan pilpres satu putaran ini. Justru ini menguntungkan lawan politik SBY. Tapi saya tidak tahu siapa yang menyuap Denny ke SBY. Yang pasti Denny itu dekat dengan Wiranto dan pernah jadi konsultan PDIP pada pemilu legislatif lalu,” kata Adhie (lihat “Denny JA Untungkan Lawan SBY,” Inilah.com, 15 Juni 2009).

Soal kenapa Denny –yang dalam Pemilu 2009 April silam sempat menjadi konsultan PDIP (Mega)—  cepat menyeberang ke kubu SBY, juga saya tanyakan kepada Denny. “Tentu ada alasan yang kuat sekali tapi tak enak membuka rahasia mantan klien, he…he…he…” kata Denny.

Saya akan tetapi terus bertanya, alasan utama dia, yang lalu dibalasnya dengan satu kata “reputasi.”

“Reputasi siapa? Anda? LSI? Atau SBY, Mega?” saya kembali mengirimkan pertanyaan.

Denny menjawab, “Sudah cukup bung. Ini bukan untuk publik.”

Kamis sore nanti, deklarasi gerakan Pilpres Satu Putaran Saja ala Denny akan dilakukan di Pekan Raya Jakarta. Saat itulah, Denny mungkin akan mengumumkan hasil terbaru survei lembaganya tentang popularitas para kandidat presiden dan wakilnya, seperti yang disebutkan teman saya lewat email: Mega-Pro di bawah 10 persen, SBY-Boediono di atas 60 persen, dan JK-Win di bawah 10 persen.

Meskipun ingin sekali bertemu Denny untuk menanyakan kembali apa yang dia maksud sebagai gosip itu, saya jelas tak bisa datang ke PRJ sore nanti. Badan saya meriang. Dan soal demam ini, tentu saja bukan gosip.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana dan Kompasiana.

Iklan