Mega mengarahkan pandangannya ke Yudhoyono. Matanya tajam menatap. Pendukung Mega yang hadir di acara debat itu bertepuk tangan. Anis Baswedan yang menjadi moderator, mengisyaratkan tangan kepada Yudhoyono, agar tidak segera menjawab. “Silakan giliran Anda, Pak Presiden,” kata Anis, kemudian.

oleh Rusdi Mathari
MEGAWATI menyerang Susilo Bambang Yudhoyono dengan telak. Kandidat presiden dari PDIP itu menuding Republik Indonesia di bawah  pemerintahan Yudhoyono semakin tak punya martabat. Bukan hanya karena utang yang semakin menggunung, melainkan karena negara kecil seperti Malaysia pun mulai berani mengusik kedaulatan negara.

Tak lupa Mega menuding Yudhoyono sengaja memanfaatkan kebodohan dan ketidakberdayaan ekonomi rakyat lewat BLT yang dibagi-bagikan menjelang Pemilu 9 April lalu, untuk mempertahankan kekuasaannya. Kata dia, tiga hari menjelang Pilpres 8 Juli nanti, BLT itu kembali akan dibagi-bagikan. “Bagaimana pemerintahan seperti ini akan dilanjutkan?” tanya Mega.

Sambil berucap itu, dia mengarahkan pandangannya ke Yudhoyono. Matanya tajam menatap. Pendukung Mega yang hadir di acara perdebatan itu bertepuk tangan. Anis Baswedan yang menjadi moderator, mengisyaratkan tangan kepada Yudhoyono, agar tidak segera menjawab. “Silakan giliran Anda, Pak Presiden,” kata Anis, kemudian.

Dengan wajah sedikit memerah, Yudhoyono membalas Mega. Kata dia, utang yang kini menggunung merupakan warisan pemerintahan sebelumnya termasuk pemerintahan Megawati.

“Semua tahu, tiga tahun Ibu Mega berkuasa, tak ada perubahan apa pun bagi kemajuan ekonomi nasional kecuali telah menjual BUMN strategis Indosat,” kata Yudhoyono.

Dia lalu menjelaskan, sejelek apa pun BLT, program itu masih lebih baik dan berguna bagi rakyat, daripada sama sekali tak ada yang bisa diberikan. “BLT itu bukan sedekah dari negara, melainkan hak rakyat karena negara memang wajib menjaga orang-orang tak mampu,” kata Yudhoyono, tapi tak menjawab tuduhan Mega, kenapa BLT diberikan pada saat-saat menjelang hari pemilihan termasuk nanti, tiga  hari menjelang pilpres.

Ketika Anis memberikan giliran kepada Jusuf Kalla  untuk menjawab soal utang negara lima tahun ke depan itu, Kalla juga langsung menggebrak. Kata calon presiden dari Partai Golkar itu, utang harus dikurangi salah satunya lewat pengurangan bunga obligasi rekap BLBI. Beban pembayaran itu, kata dia, sudah saatnya dikeluarkan dari APBN karena hanya menguntungkan segelintir pengusaha dan pemilik bank lama. Dengan cara itu, dana APBN bisa digunakan untuk mencicil utang dan sisanya untuk meningkatkan pembangunan.

Namun untuk melakukan itu semua, menurut Kalla dibutuhkan pemimpin Indonesia yang berani mengambil keputusan. Bukan pemimpin yang waktunya hanya habis digunakan untuk memoles imaji sebagai orang yang santun dan berwibawa tapi sebetulnya melempem. Sebelum menyudahi pernyataannya, Kalla lalu menyindir SBY yang dinobatkan majalah Time sebagai salah satu dari 100 tokoh berpengaruh di dunia.

“Saya tertawa membaca Time memasukkan Pak SBY sebagai tokoh berpengaruh dunia mengalahkan Presiden Obama, karena saya tahu, siapa yang memesan ke majalah Time agar memasukkan Pak SBY di majalah itu dan imbal balik apa, yang kelak akan dibayarkannya kepada Washington,” kata Kalla.

Sadar dirinya dituding, Yudhoyono langsung menjawab, “Saya kira, kini rakyat bisa menilai, siapa yang sebetulnya diakui oleh dunia,” kata Yudhoyono. Megawati hanya mesam-mesem, melihat Presiden dan Wakil Presiden yang masih menjabat itu saling mengkritik dan menyindir.

Acara debat antarkandidat presiden tadi malam yang dipandu oleh Anis, sungguh mencengangkan saya. Dari layar televisi, saya menyaksikan ketiga calon presiden itu, masing-masing ternyata memang punya alasan kuat untuk dipilih menjadi presiden.  Ketiganya, juga mulai mengubah anggapan umum yang telanjur dilekatkan kepada mereka.

Megawati berani bersuara jelas dan to the point. Tidak berputar-putar.  Yudhoyono mulai tampil sigap dan tegas mendebat. Lalu Kalla memulai tradisi membuka kotak Pandora, membeberkan apa yang sebetulnya selama ini terjadi di Istana.

Usai menyaksikan acara itu, saya melihat tingkat popularitas masing-masing bergerak,  berubah. Lembaga poling dengan jujur membeberkan hasil apa adanya. Poling di televisi juga demikian. Tak ada popularitas yang dominan. Mega 29 persen, SBY 36 persen dan JK 30 persen. Sisanya belum jelas. Peluang mereka sama besar.

Saya pun mulai ragu memutuskan untuk tidak memilih pada 8 Juli nanti, karena ketiganya sekali lagi sungguh luar biasa. “Debat antarcalon wakil presiden, akan berlangsung besok malam, di Kampus Unair Surabaya,” kata Anis  mengakhiri acara itu.

Saya menduga acara debat besok malam pasti akan lebih seru dan tetap berpengaruh pada calon pemilih dan masih memungkinkan popularitas ketiga kandidat presiden berubah. Prabowo yang meledak-ledak akan berhadapan dengan Boediono yang kalem, dan Wiranto yang sistematis.

“Pa kenapa Bapak tadi memberikan anaknya kepada orang kaya itu,” pertanyaan Voja, anak lelaki saya membuyarkan lamunan. Masyaallah, saya ternyata sedang monton acara Termehek-Mehek.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana dan Kompasiana.

Iklan