Ketika orang-orang penting itu sibuk berkampanye telah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat, di sudut yang pengap, seorang anak telah mati karena kelaparan dan seorang bayi terbaring lemas berbalut kulit.

oleh Rusdi Mathari
EKA Pratiwi adalah balita yang malang. Di usia yang belum lagi genap empat tahun, anak yatim piatu itu hanya lunglai di tempat tidur kumuh, bersama kulit tubuh yang berimpit dengan tulang dan mata cekungnya yang  seolah melesat ke dalam tengkorak. Tak ada yang memberi Eka asupan memadai setelah Jalileng, paman satu-satunya yang merawatnya juga sudah lama tak memiliki pekerjaan. Lalu sebulan silam dokter yang memeriksa memvonis bayi itu menderita HO, Honger Oedem alias busung lapar.

Tidak, jangan dibayangkan kisah Eka terjadi di ujung tanah terpencil. Di tulis oleh TempoInteraktif, Eka yang lapar, justru bermukim di Jakarta, tempat sebagian besar uang di negara ini berputar berpindah, tempat para elite berdiskusi tentang niat menyejahterakan rakyat. Entahlah kini bagaimana nasib Eka meski dia tentu bukan satu-satunya bayi yang mengalami busung lapar di negeri ini.

Di Lampung, busung lapar malah sudah merenggut Sukria, warga Pempen, Lampung Timur. Anak berusia sembilan tahun itu meninggal dunia di rumah pamannya, di  Bulok, Pekon Gunung Terang, Tanggamus, Senin kemarin. Di provinsi itu, maut juga mengendap-ngendap pada puluhan anak yang bernasib serupa dengan Sukria. Lalu di NTB, NTT, Jawa Barat dan tempat-tempat lain, kisah yang sama seolah tenggelam oleh hiruk pikuk iklan Indomie di televisi.

Laporan terbaru Organisasi Pangan Dunia, FAO yang dikeluarkan awal pekan ini mengungkapkan, saat ini ada sekitar semiliar orang yang hidup tapi dengan perut kosong, tak makan. Angka itu bertambah 100 juta dari jumlah yang pernah tercatat pada tahun lalu. Juru bicara FAO Kostas Stamoulis mengatakan, jumlah itu sebagai yang pertama yang tercatat dalam sejarah manusia.

Organisasi di bawah PBB itu menyebutkan, hampir semua kasus kelaparan dan kekurangan gizi itu terjadi di negara berkembang dan sebagian besar, sekitar 642 juta jiwa, tinggal di kawasan Asia-Pasifik termasuk di Indonesia. Lembaga itu juga mengatakan, meningkatnya jumlah orang yang kelaparan di dunia salah satunya disebabkan oleh turunnya pendapatan, dan meningkatnya pengangguran.

Mereka tak sanggup lagi membeli harga bahan pokok, beras gandum, dan jagung itu setelah harganya meningkat hingga dua kali lipat sejak tahun lalu. Oleh PBB keadaan semacam itu digambarkan sebagai tsunami yang sunyi dan melanda dua miliar penduduk miskin yang sudah biasa menahan lapar.

Realitas yang paling mengerikan dari semua tragedi semacam itu, adalah harga beras di pasar internasional yang sudah melonjak berlipat kali. Kenaikan itu sejalan dengan pengurangan ekspor dari negara-negara produsen beras utama dunia, seperti Cina, India, Vietnam dan Thailand. Di Cina harga-harga kebutuhan sudah naik 21 persen pada tahun lalu dan masih akan terus seperti itu akibat persediaan global yang berkurang dan konsumen domestik yang memborong bahan pangan karena ketakutan harga naik.

Di sini, di Indonesia yang katanya sudah swasembada beras itu, mahalnya harga bahan pangan niscaya sudah lama tak terjangkau oleh orang-orang miskin, seperti Jalileng, paman Eka itu. Dan di musim ketika banyak orang kaya menyumbangkan uangnya pada para capres dan partai politik, orang-orang penting itu mungkin akan berdalil, kasus kelaparan dan busung lapar seperti yang menimpa Eka dan Sukria hanya menimpa sebagian kecil penduduk dan karena itu tak perlu dibesar-besarkan.

Tapi jika kepada yang sebagian kecil itu sudah abai, bagaimana mereka bisa lelap tidur dengan perut buncit kekenyangan sambil terus berpidato telah berhasil membangun negeri?

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana dan Kompasina.

Iklan