Bahkan seandainya buaya itu lalu menampakkan wajah lucu atau berlinang air mata di bawah terik matahari, orang yang waras tetap akan memilih menghindarinya ketimbang kemudian disergap dalam senyap lalu ditenggelamkan ke dasar lumpur hingga membusuk.

oleh Rusdi Mathari
CECAK atau cicak seharusnya memang tak sebanding dengan buaya. Dua binatang itu bukan hanya hidup di alam berbeda –cecak merayap di dinding atau di pohon-pohon, dan buaya mengendap-endap di air kubangan— melainkan ukuran tubuhnya juga sangat jauh berbeda. Kalaulah harus diperbandingkan, cecak mestinya disandingkan dengan tokek, dan buaya mungkin cocok disejajarkan dengan komodo.

Cara hidup cecak dan buaya jugalah berjauhan. Cecak hanya menerkam nyamuk atau serangga kecil yang lain. Lidahnya dijulurkan, dan hap… hanya seekor nyamuk yang bisa diseret ke mulutnya. Hanya itu dan dengan cara begitu.. Kecuali si nyamuk terkena semprotan pestisida, operasi cecak biasanya berlangsung aman-aman saja. Singkat dan tak bertele-tele dan bermanfaat bagi manusia, karena nyamuk-nyamuk yang ditangkap cecak itu minimal tak akan mengganggu tidur mereka.

Cecak bisa menyebalkan jika saat dan hendak kawin. Suara cek…cek…cek… yang keluar dari mulutnya, bisa menandakan ia sedang berahi atau sedang bercinta. Suaranya itu kadang menimbulkan rasa ciut bagi yang mendengarnya di tengah malam. Cek…cek…cek…

Cara hidup buaya tidaklah demikian. Buaya bisa melahap apa saja. Dari ayam hidup yang sengaja dilemparkan oleh pawang kepadanya, hingga seekor zebra malang yang beratnya dua kuintal yang menyeberang sungai, bisa diterkamnya. Kecuali ayam yang langsung ditelan, binatang-binatang berukuran besar yang dimangsa buaya tak bisa langsung dikunyah. Oleh buaya, mangsa-mangsa itu disergap dengan licik lalu ditenggelamkan  hingga ke dasar lumpur. Dibiarkan berhari-hari.

Ketika mangsa-mangsa itu sudah membusuk dan mulai menyebarkan bau menyengat, buaya baru menelannya. Hanya menelan, tak bisa mengunyah. Semua itu dilakukan buaya, karena kecuali kekuatan rahangnya, buaya tak cukup memiliki gigi-gigi memadai. Dan ketika menelan mangsa-mangsa itu, buaya sering pamer ke permukaan air.

Lalu bila akan dan saat kawin, buaya bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Mereka berputar-putar di dalam air nyaris tanpa suara kecuali kemudian tampak air di delta sungai telah keruh karena diaduk-aduk dari dasarnya. Setidaknya begitulah, kisah percintaan buaya seperti yang pernah digambarkan di film Buaya Putih di tahun 70-an.

Baik cecak dan buaya, akan tetapi bisa dianggap sangat berguna manusia. Orang yang tangan dan kakinya dilanda eksim atau kudis, sering disarankan menyantap cecak. Saran serupa juga dianjurkan kepada para penderita asma, sesak napas itu. Si cecak bisa digoreng, direbus atau jika merasa jijik dapat dibakar lalu digerus ke dalam minuman kopi. Di Sulawesi Utara, cecak malah dijadikan kudapan sebagai teman minum teh di sore hari. atau manusia yang didera asma

Buaya pun bisa dimakan. Di Kuta, Bali, ada restoran yang menjual sate dan sup daging buaya. Daging buaya yang berwarna pucat jika dimasak rasanya konon mirip daging ayam. Juga di Vietnam dan di China, daging buaya sudah sejak lama disajikan di meja-meja makan.

Kecuali untuk keyakinan bisa menambah keperkasaan seksual pada lelaki, sama dengan cecak, daging buaya juga dipercaya bisa menyembuhkan borok dan gatal-gatal. Dan percaya atau tidak, perempuan yang menyantap daging buaya secara teratur, diceritakan akan  mendapati kulitnya lebih halus dari sebelumnya.

Tentu saja, daging buaya yang dianggap bisa menghaluskan kulit perempuan itu tak ada hubungannya dengan kulit buaya yang kasar dan tebal. Buaya di mana-mana selalu diburu manusia dan di beberapa tempat bahkan diternakkan, justru karena kulit kasarnya: bisa dijadikan busana, tas, ikat pinggang dan sebagainya. Harganya mahal, karena kulit buaya dipercaya bisa digunakan dalam waktu yang lama. Belum ada cerita dan tak pernah dijumpai, ada gerai di pusat perbelanjaan yang memajang sepatu dari berbahan kulit cecak.

Mistis Buaya
Mitos tentang dua hewan itu juga berlainan. Banyak orang menganggap cecak adalah binatang pembawa sial. Orang yang kejatuhan cecak, misalnya, dipercaya akan segera mendapat musibah. Peruntungannya akan buruk. Lalu suara cek…cek… cek… di tengah malam itu sering pula diyakini sebagai pertanda tak baik. Cecak dianggap pula sebagai hewan yang suka mengadu, meski tak jelas mengadu kepada siapa.

Ada pun buaya sudah sejak dulu dipercaya sebagai hewan yang diliputi mistis. Cerita-cerita tentang keberadaan buaya putih, buaya kuning dan buaya buntung, adalah beberapa mitos yang menempatkan buaya sebagai hewan yang harus diperlakukan istimewa. Diberi sesajen secukupnya disertai doa, agar tidak mengganggu dan kalau bisa diharapkan menjauh. Mitos lainnya, buaya dianggap sebagai hewan yang mampu melakukan hubungan badan dalam waktu yang lama.

Para lelaki hidung belang dan para pria yang kehilangan kepercayaan diri, karena itu sering memburu alat kelamin buaya, tangkur itu. Tukang tipu, banyak yang mengaku mendapatkan tangkur buaya dan menjualnya di pasar-pasar becek. Diseduh dengan air lalu diminum, bisa pula dioleskan ke alamat kelamin, kata tukang obat itu.

Barangkali karena soal-soal semacam itu, para pria hidung belang dan lelaki mata keranjang sejak lama disamakan dengan buaya. Maya Estanti, pernah menyanyikan perihal itu lewat lagu berjudul Buaya Darat. Di Surabaya, anak-anak muda di sana sering memplesetkan nama kotanya sebagai Surga Buaya.

Kecuali bunglon sepupu cecak itu, belum pernah ada konotasi buruk terhadap cecak seperti semua tabiat buruk yang melekat pada buaya. Di beberapa cerita komik, yang ada malah kisah heroik tentang manusia cecak. Dia melekat di dinding dan membasmi kejahatan. Di alam nyata, para penggiat olahraga panjat tebing dan dinding juga dijuluki sebagai manusia cecak. Plak. Mereka seolah lengket dan merayap hingga puncak. Berlomba dan mendapat medali.

Alain Robert dari Prancis adalah manusia cecak itu. Dia pernah merayap di dinding-dinding sejumlah gedung tinggi di kota-kota besar di beberapa negara termasuk di Jakarta. Tamara Bleszynski dan Saiful Apek pernah dua kali membintangi film Cicak Man, 1 dan 2.

Selain berkonotasi buruk, buaya dikenal juga memiliki kotoran yang aromanya sungguh aduhai ketimbang kotoran cecak yang sangit dan lengket. Dan untuk soal mana yang paling menyeramkan, buaya jelas lebih menakutkan ketimbang cecak. Sudah banyak cerita tentang buaya yang menerkam manusia tapi belum ada kisah tentang manusia yang dimangsa oleh cecak.

Benar, orang mungkin akan menghindari untuk bersentuhan dengan cecak, kecuali si cecak iseng menjatuhkan diri ke manusia, tapi sungguh tak ada orang yang sudi berurusan dengan buaya, kecuali pawang atau orang-orang nekat. Bahkan seandainya buaya itu kemudian menampakkan wajah lucu atau berlinang air mata di bawah terik matahari, orang yang waras tetap akan memilih menghindarinya ketimbang kemudian disergap dalam senyap lalu ditenggelamkan ke dasar lumpur hingga membusuk. Menjadi bangkai.

Iklan