Malam itu sepulang dari Surabaya, di rumahnya di Bangkalan, Busairi dengan bangga bercerita tentang pengalamannya yang dicegat polisi di Surabaya karena tak mengenakan helm tapi kemudian berhasil lolos.

oleh Rusdi Mathari
SEPEKAN setelah jembatan Suramadu diresmikan, Busairi dengan sepeda motornya menyeberangi Selat Madura. Sendiri dia berangkat dari Bangkalan, Madura, menjelang magrib. Sore itu, selain hanya ingin mencoba jembatan baru  itu, Busairi juga ingin tahu, berapa lama waktu tempuh dari Bangkalan ke Surabaya jika bersepeda motor. Dia karena itu tak menghiraukan lampu-lampu jembatan Suramadu yang menyala terang yang tampak indah dari kejauhan. Sepeda motornya terus dikebut, hingga sekitar 20 menit kemudian dia sudah tiba di ujung Suramadu di Surabaya.

Dia berhenti. Busairi menoleh ke belakang memandangi Suramadu dan berdecak kagum sembari membetulkan rambut pendeknya. Dia memang tak mengenakan helm. Sejurus kemudian, dia sudah terlihat mengarahkan sepeda motornya ke Kenjeran tapi Busairi tak sadar seorang polisi lalu lintas telah membututinya.

Singkat cerita, polisi itu menyetop sepeda motor yang ditumpangi Busairi. “Selamat malam mas,” sapa polisi itu.

“Malam Pak,” sahut Busairi.

“Bisa lihat SIM dan STNK?” tanya si polisi.

“Lo ada apa ini?” Busairi balas bertanya.

“Anda tidak mengenakan helm,” kata polisi.

“Sampean ini gimana, mosok ndak tahu saya.”.

“La Bapak siapa?

“Lo sampean ndak tahu, saya ini anggota,” kata Busairi. Matanya melotot.

“Waduh kalau begitu maaf Pak,  lain kali tolong kenakan helm,” jawab si polisi.

“Ya sudah, kali ini saya kasih maaf sampean.”.

Malam itu sepulang dari Surabaya, di rumahnya di Bangkalan, Busairi dengan bangga bercerita tentang pengalamannya yang dicegat polisi di Surabaya karena tak mengenakan helm tapi kemudian berhasil lolos. Arifin yang juga anggota Anshor dan ikut mendengarkan cerita Busairi lalu bertanya, ”Kok bisa?”

Busairi menjawab, “Gampang Pin, jawab saja anggota. Pasti beres.”

Malam minggu berikutnya, giliran Arifin ingin yang mencoba menyeberangi Suramadu. Dia juga mengendarai sepeda motor dan berdasarkan cerita Busairi, Arifin pun tidak mengenakan helm. Tiba di Kenjeran, Arifin dan sepeda motornya mengalami nasib yang sama dengan yang dialami oleh Busairi: dicegat polisi.

“Malam mas,” kata polisi.

“Malam Pak, ada apa kira-kira ya?” tanya Arifin.

“Coba lihat SIM dan STNK,” pinta polisi.

“Sampean jangan macam-macam, saya juga anggota,” jawab Arifin.

Mendengar jawaban Arifin, polisi itu tak mau digertak. “Maaf Pak, anggota dari kesatuan mana?” tanya polisi.

“Lo saya ini anggota Anshor,” jawab Arifin lantang.

Sapi Jawa
Seorang komandan militer di Malang mendadak dipanggil ke Surabaya.  Dia diminta menghadap oleh panglima di Surabaya untuk sebuah keperluan mendesak dengan perintah harus menghadap pada pukul 6.30. Sehabis subuh, berangkatlah perwira itu ditemani sopir yang berpangkat kopral dan seorang ajudan berpangkat sersan. Jalanan masih sepi sehingga mobil jip yang mereka tumpangi bisa melaju tanpa hambatan. Persoalan muncul ketika mereka sampai di Lawang pada waktu akan melewati fly over.

Dari arah Purwosari, Pasuruan arus lalu lintas padat dengan bus dan truk yang hendak menuju Malang sementara di depan kendaraan mereka, sebuah pedati yang dihela dua sapi berjalan pelan. Di belakang gerobak pedati itu, tertulis bacaan “Arudam Lites.” Itu bahasa Malang, yang maksudnya Madura Setil (style atau gaya).

Berkali-kali jip mereka mencoba menyalip pedati itu tapi tetap tak ada celah karena kepadatan arus lalu lintas dari arah utara. Si perwira mulai tampak kesal, sementara ajudan dan sopirnya kelihatan tegang. Ketika akhirnya berhasil disalip, jip tentara itu lalu menghadang laju pedati. Ajudan dan sopir dengan sigap turun dan menghampiri penarik pedati.

“He duro gendheng, kalau sudah tahu gerobak, awakmu mestinya lewat bawa bukan lewat di sini. Gara-gara gerobakmu, komandanku bisa telat ke Surabaya,” kata si ajudan sambil menampar pipi penarik pedati. Duro gendheng maksudnya orang Madura sinting.

Sambil meringis, yang entah karena kesakitan ditampar oleh tentara itu atau karena kedinginan oleh udara Lawang, si penarik pedati yang ternyata memang benar orang Madura itu menjawab sekenanya. ”Saya memang orang Madura Pak, tapi sapi saya ini, sapi Jawa,” katanya.

Sampean Picek
Keinginan Zainuri naik bus Transjakarta akhirnya kesampaian. Juragan besi tua asal Sampang Madura itu, naik dari Halte Ragunan dengan tujuan berkeliling kota. Bukankah satu tiket Transjakarta bisa digunakan untuk berulang-ulang dan keliling Jakarta sampai bosan? Begitulah pikiran Zainuri.

Dari Ragunan hingga Halte Dukuh Atas, Zainuri bisa duduk di dalam bus. Namun ketika hendak pindah ke bus jurusan Pulo Gadung, di Dukuh Atas penumpang berjubel sehingga Zainuri tak kebagian tempat duduk. Dia berdiri di bagian belakang, berdesak-desakan dengan penumpang yang lain.

Bus melaju. Lalu ketika baru tiba di depan Markas POM, Guntur, Zainuri mulai terlihat meringis, seolah menahan rasa sakit yang perih. Tepat di depan dia berdiri seorang pemuda berbadan tegap, rambut cepak ala tentara, dan memakai sepatu PDH militer.

Secara tak sengaja, kaki pemuda yang bersepatu laras itu menginjak beberapa jari kaki Zainuri yang hari itu hanya mengenakan sandal jepit dan rupanya itulah yang  menyebabkan Zainuri meringis menahan sakit. Namun Zainuri tak berani menegur karena mengira pemuda itu seorang tentara. Paling tidak polisilah. Zainuri bertahan.

Namun 15 menit setelah itu, Zainuri tak sanggup lagi menahan perih. Dia dengan sopan dan suara pelan lantas memberanikan diri mencolek punggung pemuda itu.

“Mas maaf, sampean tentara?” tanya Zainuri ramah sambil tersenyum. Pemuda itu menoleh ke arah Zainuri dan menggeleng.

“Atau sampean polisi?” Zainuri bertanya lagi, masih dengan tersenyum.

“Bukan,” tanya pemuda itu.

“Kenapa ndak bilang dari tadi,” Zainuri kesal.

“Memang ada apa Pak?”

“Mata sampean picek apa? Kaki saya sampean injek”  Zainuri membentak sambil mendorong pemuda tadi ke arah depan.

Iklan