Tidakkah bahkan ketika belajar berdemokrasi seperti yang menjadi cita-cita Politikana, mestinya juga dituntut sebuah keterangan dan kejelasan laku dan bukan sebuah sikap yang sengaja terus ditutupi apalagi sengaja dengan niat menipu agar orang lain tak tahu, siapa yang bersuara, menulis dan berkomentar itu, dengan alasan, itu adalah hak pribadi?

Oleh Rusdi Mathari
SUATU malam, lebih sebulan lalu, saya bertemu dengan seorang petinggi media yang cukup terpandang di negeri ini. Habis membicarakan isu macam-macam, dia bertanya soal keaktifan saya menulis di Politikana. Saya mengiyakan dan memberitahukannya, yang mendorong saya menulis di Politikana adalah Iman D. Nugroho, wartawan tangguh yang saat ini berburu berita di Timor Leste.

“Terus terang Cak, ancaman serius bagi kami bukan dari pesaing kami media sejenis, melainkan Politikana,” kata dia.

Saya mencoba melihat wajahnya, mencari sesuatu di matanya: jangan-jangan teman saya itu berbohong, atau malah sinis. “Kenapa?” tanya saya.

Dia lalu menjelaskan, kebanyakan tulisan di Politikana berbeda dengan tulisan-tulisan di situs-situs yang lain. Selain soal informasinya yang dia anggap banyak yang tidak dimuat di arus media utama, cara penulisan di Politikana dianggapnya juga lebih bagus ketimbang tulisan-tulisan berita di situs-situs itu. “Kami sekarang mencoba mengembangkan situs semacam Politikana,” kata dia.

Beberapa hari setelah pembicaraan di malam itu, ketika bertemu dengan Mas Didi Nugrahadi dan Mas Yusro, saya sampaikan apa yang saya dengar itu. Mas Didi serius, Mas Yusro tertawa. “Enggaklah, kita bukan pesaing. Ayolah kita kerja sama saja,” kalau tidak salah ingat, begitulah ucapan Mas Didi, yang saya dengar.

Saya tak hendak menempatkan Politikana sebagai sesuatu yang ajaib, kecuali sekadar sebagai media alternatif itu. Sejak mengenal blog (yang celakanya hingga kini saya tetap tak paham-paham caranya itu), saya memang menebalkan niat menjadikannya sebagai media perlawanan.  Nawaitunya, blog gratisan yang saya buat, akan saya jadikan sebagai jawaban terhadap pemberitaan dari media arus besar, yang menurut saya sudah telanjur banyak berkompromi untuk tidak mengatakan sudah banyak yang tidak jujur.

Wael Abbas yang mendapat penghargaan dari Pusat Wartawan Internasional (ICJ) di pengujung 2007, menjadi inspirasi saya membuat blog. Wael adalah blogger asal Mesir. Dalam tulisannya di Washington Post 27 Mei 2007, dia mengaku mengenal blog sejak akhir 2004 atau beberapa bulan sebelum pemilu Mesir pada 2005.

Nama Wael terutama dikenal setelah foto-foto dan rekaman videonya tentang aksi-aksi protes dari  para aktivis Mesir yang menentang Presiden Hosni Mubarak diakses banyak orang. Dia juga berhasil mewawancarai seorang yang dibayar untuk melawan para demonstran. Kepada Wael, orang itu mengaku diangkut dengan bus dari daerah kumuh di pinggiran Kairo untuk melawan orang-orang yang melakukan unjuk rasa menentang Mubarak. Semua hasil rekaman video dan foto, dan juga hasil wawancara yang dilakukan Wael dengan seorang demonstran bayaran itu, dimuat di blognya.

Reaksinya sungguh luar biasa: blog Wael diakses oleh setengah juta pengunjung hanya dalam dua hari meski tulisan-tulisan dan gambar-gambar di blog Wael tentu saja tak bisa memengaruhi hasil pemilu 2005 di Mesir, yang sudah direkayasa oleh rezim Mubarak. Presiden yang menggantikan Anwar Sadat sejak 1981 itu, pada pemilu 2005 kembali menjadi Presiden Mesir. Tulisan lengkap tentang Wael bisa dibaca di sini.

Tak Paham
Tak mudah tentu saja mewujudkan niat agar blog saya menjadi seperti blog Wael itu, meski sebagian tulisan saya beberapa kali dijadikan referensi oleh beberapa pembaca. Sebuah media nasional yang mapan bahkan pernah begitu saya mengambil utuh tulisan dari blog saya, plek hingga titik komanya, dimuat di halaman depan, dijadikan sampul utama. Dua kali itu dilakukan, meski yang satunya hanya dimuat di halaman dalam.

Ketika Iman mengabarkan kepada saya tentang Politikana, saya lalu mencari tahu apa itu. Saya membaca tulisan-tulisan yang terpampang dan deretan nama pengelolanya. Sebagian saya hanya kenal nama seperti Enda Nasution, Mas Yusro dan Herman Saksono, yang lain seperti Mas Didi dan Wicaksono, saya pernah bertemu.

Kesimpulan saya waktu itu, Politikana adalah situs yang lumayan menantang. Menarik dan berbeda. Saya karena itu lalu memutuskan mendaftar dan memosting tulisan.

Tulisan pertama berjudul Tentara Itu Mulai Berdemonstrasi saya posting 30 April. Iman yang memberi komentar paling awal. Arysani, Wonggantenk, Herman, dan Jangdesur saya ingat adalah empat orang pertama yang memberikan komentar pada profil saya.

Saya yang semula tak paham dunia belantara blog, juga mulai mencoba mengenal apa itu blog dan karakter para blogger meski kemudian saya sadar dunia blog memang dunia yang sama sekali tak saya kenal, tidak saya pahami: siapa saja boleh menulis dan bebas berkomentar. Saking bebasnya, hingga komentar-komentar yang sebetulnya tak pantas ditulis dan tak relevan, juga bebas disampaikan. Di blog saya, ada yang bahkan menyerukan penghalalan darah saya.

Dari Politikana pula, saya juga tahu, banyak penulis dan orang-orang yang berkomentar rupanya lebih enak jika menggunakan nama samaran. Dari beberapa penulis di Politikana yang lebih dulu malang melintang di dunia blog—  yang saya dapatkan kontak email dan nomor ponselnya— diberitahukan kepada saya, kenapa sebagian teman-teman itu lebih enak memakai nama samaran. Alasannya macam-macam.

Ada yang katanya soal masa lalu politik, ada yang hanya sekadar agar terbaca gagah karena namanya aneh, tapi tak sedikit yang sebetulnya memang hendak bersembunyi dan sebagainya. Dan yang kemudian mengejutkan, karena katanya pula, tak sedikit teman-teman di Politikana yang mendaftarkan diri dengan identitas berbeda. Ada yang memiliki dua, tiga dan seterusnya. Selain agar aman memberikan komentar, katanya lagi, tujuannya untuk menaikkan rating tulisan yang dibuat dan pamor. Luar biasa.

Saya yang betul-betul awam soal blog, semula tak percaya dengan semua penjelasan itu tapi akhirnya harus manggut-manggut ketika mendapati, isyarat semacam itu memang ada di Politikana.

Lewat Facebook, seorang teman yang aktif di Politikana saling berkirim pesan dengan saya pekan lalu. Saya bertanya soal itu dan dia menjelaskan semua alasan penggunaan nama samaran itu, termasuk katanya, itu adalah hak pribadi.

Lalu Jumat silam beberapa jam sebelum Politikana mengadakan pertemuan di Yogyakarta, seorang teman di kota itu yang juga aktif di Politikana memberitahukan, dia dan beberapa teman yang lain di Yogyakarta mulai bosan menulis di Politikana. Alasannya, tulisan di Politikana mulai banyak yang tidak jelas sejak musim Pemilu Presiden hingga kejadian bom itu.

Kata dia, kalau Politikana terus seperti itu, nasibnya tak akan jauh berbeda dengan nasib situs serupa yang pernah ada, yang sudah ditinggalkan orang. Dia menyebut nama situs itu, tapi saya lalai mengingatnya.

Kantong Sampah
Jumat malam itu, usai berkirim kabar dengan teman dari Yogyakarta tadi, saya mengingat kembali ucapan petinggi media di Jakarta itu yang menganggap Politikana sebagai ancaman bagi medianya. Saya yang mengenal betul jejaknya sebagai aktivis, intelektualitas dan reputasinya sebagai wartawan, menganggap ucapannya bukan tidak bersungguh-sungguh. Dia serius.

Soalnya sekarang, ya itu tadi, ketika orang “luar” menilai Politikana sebagai sesuatu yang wah, media yang harusnya memang memberikan banyak alternatif tulisan dan komentar sehat, ternyata juga banyak diisi oleh orang-orang yang hanya nyaman menyembunyikan tangan setelah melempar batu postingan atau kerikil komentar.

Mungkin memang bukan sebuah ironi, karena sejak awal Politikana dihadirkan adalah untuk menampung semua orang agar berani menulis dan berkomentar. Belajar berdemokrasi. Tapi ketika keberanian menulis dan berkomentar sebetulnya sudah menjadi sesuatu yang niscaya pada zaman ini, semua orang yang memang peduli dengan niat baik dari Politikana itu, mestinya juga tak malu-malu lagi membangun Politikana agar semakin baik. Itu bisa terwujud, terutama jika semua orang yang aktif di situs ini juga mulai bersedia mengenalkan diri dengan identitas jelas.

Sudah bukan zamannya  bersembunyi dengan topeng, sembari kemudian hanya terus bisa memaki, menghardik dan agar orang lain tak tahu siapa yang memaki dan menghardik. Politikana bukan kantong sampah.

Juga, tidakkah bahkan ketika belajar berdemokrasi seperti yang menjadi cita-cita Politikana, mestinya juga dituntut sebuah keterangan dan kejelasan laku dan bukan sebuah sikap yang sengaja terus ditutupi apalagi sengaja dengan niat menipu agar orang lain tak tahu, siapa yang bersuara, menulis dan berkomentar itu, dengan alasan, itu adalah hak pribadi?

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana.

Iklan