Sejak awal Keluarga Hartanto sudah curiga, ada yang ditutup-tutupi menyangkut kematian David Hartanto Widjaja, anaknya yang berkuliah di NTU.

oleh Rusdi Mathari
PENGADILAN koroner Singapura akhirnya tiba pada keputusan: David Hartanto Widjaja mati bunuh diri. Ini keputusan kontroversial yang kesekian kali yang dibuat oleh aparatur di negara itu, setelah sebelumnya, David dituduh telah menusuk Profesor Chan Kap Luk. Nama terakhir adalah wakil direktur Biomedical Engineering Research Centre dan dosen pembimbing David di Universitas Teknologi Nanyang (NTU).

Sidang koroner digelar untuk mendapatkan izin menggelar pengadilan kriminal. Usaha itu adalah inisiatif Hartanto (ayah David) yang menginginkan kasus kematian David diusut tuntas. Menurut mereka, David dibunuh dan bukan bunuh diri. Dengan keputusan yang dikeluarkan kemarin itu, maka peluang untuk menggelar sidang terbuka lanjutan (open verdict) untuk menguak tabir kematian David menjadi semakin kecil.

David ditemukan tewas di pelataran gedung kampus NTU, Senin 2 Maret 2009, sekitar pukul 11 siang. Di tubuhnya ditemukan 36 titik luka. Beberapa saksi mata menuturkan, sesaat sebelum tewas, mahasiswa asal Indonesia itu terlihat  keluar dari kantor Chan. Dia berlari dan entah bagaimana ceritanya, David kemudian sudah ditemukan tewas.

Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintahan Singapura, tak juga soal kenapa David tewas: Bunuh diri atau dibunuh. Satu-satunya keterangan, hanyalah penjelasan dari polisi setempat yang menyebutkan David tewas di lokasi. Asumsi polisi, David dipercaya telah menusuk Chan. Hanya itu tapi polisi tak menjelaskan, dari mana asal-usul asumsi mereka hingga sampai pada kesimpulan seperti itu.

Berdasarkan keterangan dari polisi Singapura, media massa di sana semula menggambarkan David sebagai orang yang telah mencoba melakukan pembunuhan tapi tidak berhasil. Dia karena itu kemudian nekat melompat dari lantai empat. Pemberitaan koran-koran itu juga mengutip keterangan Su Guaning, Rektor NTU yang isinya kurang lebih sama dengan penjelasan polisi Singapura: David memutuskan bunuh diri gara-gara beasiswanya diputus. Beberapa media  terutama The Strait Times, belakangan memperbaiki pemberitaan mereka dan menyebutkan kematian David masih misterius.

Koran Jakarta edisi Minggu 29 Maret 2009 pernah memuat cukup lengkap cerita kematian David. Wartawan Rangga Prakoso, mendapatkan cerita lengkapnya dari Keluarga Hartanto.

Dilarang Polisi
Diceritakan kabar kematian David diterima oleh keluarga tak lama setelah David ditemukan tewas. Chua Poh Gaek dari NTU yang menyampaikan lewat sambungan telepon. “Saya Ms. Chua dari NTU, Singapura, mau mengabarkan bahwa David ada kemalangan,” begitulah Chua menelepon Keluarga Hartanto di Jakarta.

Ibu David, Tjhay Lie Khiun yang menerima telepon itu bertanya kemalangan apa yang menimpa anaknya.

“Ada orang lain di rumah?” tanya Chua lagi.
“Ada papanya David,” jawab Tjhay.
“David terjatuh dari lantai enam dan meninggal,” kata Chua.
“Terjatuh bagaimana?” tanya Hartanto.
“Sebelumnya gaduh dengan dosennya. Harap segera datang,” kata Chua.

Hartanto mengiyakan. Itu 2 Maret 2009, sekitar pukul 10 pagi. Hartanto bergegas memesan tiket pesawat Garuda. Pukul 14.55, bersama Tjhay dan putra sulungnya, William Hartanto Widjaya, Hartanto bertolak ke Singapura. Mendarat di Bandara Changi, Hartanto sekeluarga disambut Chua yang mengacungkan karton bertuliskan “David Widjaya.”

Terlihat ikut bersama Chua, dr Yo dan Mariam. Nama yang disebut terakhir adalah ahli psikologi di NTU, berdarah Hindustan. Dari Changi, mereka dibawa langsung dengan mobil Alphard warna perak ke kampus NTU. Hartanto sempat mengelak dan meminta agar segera ke rumah sakit untuk melihat jenazah David.

Mendengar itu Chua tampak panik. Dia mengambil ponselnya dan terlihat mengirim SMS, entah kepada siapa. Sejurus kemudian Chua memberitahukan bahwa pihak kepolisian Singapura melarang mereka melihat jenazah David malam itu. Izin baru diberikan, katanya, besok pagi.

Sekitar pukul 7 malam, waktu Singapura, Keluarga Hartanto tiba di NTU. Sudah sepi. Chua mengantarnya ke sebuah ruangan dan bertemu Rektor NTU, Guaning beserta beberapa petinggi kampus. Mereka menyambut hangat dan menyampaikan ucapan turut berduka.

Guaning bercerita, David membawa pisau dan masuk ke ruangan Chan. Entah apa pemicunya, David menurut Guaning sekonyong-konyong menusuk profesor itu. Setelahnya, David keluar ruangan dan memotong urat nadinya dan melompat terjun dari lantai enam.

Sebelum melompat, masih menurut Guaning, ada mahasiswi yang berusaha membujuk David. “He ngapain kamu di sana, jangan-jangan melompat.” Begitulah Guaning menirukan seruan mahasiswi itu kepada David.

Hartanto akan tetapi tak langsung yakin. “Benar kejadiannya seperti itu?”

“Ini keterangan profesor Chan Kap Luk dan saksi mata,” kata Guaning.
“Siapa mahasiswi itu?” Tjhay ikut bertanya.

Guaning memberitahukan mahasiswi yang dimaksud berasal dari Iran. Selesai. Dia lalu mengajak Keluarga Hartanto melihat-lihat TKP. Sejak melihat lokasi itulah, Hartanto mulai curiga. Hati kecilnya berkata TKP sudah dibersihkan dan tidak ada bercak darah maupun garis polisi. Guaning menunjuk ke atas, tempat David melompat, atap kaca itu.

Mereka juga diajak ke ruangan Profesor Chan, di lantai bangunan dosen, persis di sebelah kiri dari pintu darurat. William hendak membuka ruangan itu, tapi semuanya sudah dikunci. Mereka kemudian menuju ke tangga darurat dan tiba di lantai empat yang di bawahnya terdapat jembatan penghubung terbuat dari fiber bening. Kata Guaning, David naik ke balkon lalu melompat ke kaca dan menerjunkan tubuhnya. Singkatnya, Guaning mengarahkan cerita: David bunuh diri.

Keterangan Polisi
Menunggu di sebuah hall, sekumpulan mahasiswa Indonesia menyampaikan belasungkawa kepada Hartanto. Guaning kemudian memanggil Herdian, salah seorang teman David. Herdian bersaksi, sepekan sebelum kejadian David cenderung menyendiri. Malam itu Keluarga Hartanto menginap di kampus NTU.

Paginya, 3 Maret 2009 pukul 9 pagi, sesuai janji Keluarga Hartanto diantarkan ke Singapore General Hospital. Mereka menuju kamar mayat tapi hanya diizinkan melihat jenazah dari ruangan berkaca. Tak boleh mendekat.  Dari balik kaca itu, Hartanto  melihat jasad David sudah dibungkus kain putih mirip mummy kecuali bagian leher hingga kepala.

Di dahinya tampak beberapa luka goresan. Lubang hidungnya menyisakan bekas darah kering. Di leher ada tiga baris plester sepanjang kira-kira 10 cm. Bibir kiri atas sobek seperti dipotong. Mulutnya meringis. Giginya terlihat utuh. “Anak saya meninggal  penuh penderitaan,” kata Hartanto.

Hanya sebentar Keluarga Hartanto melihat jasad David, kira-kira lima menit. Dari kamar mayat, mereka  diajak menemui Soh Chee Ing, seorang reserse dari Kepolisian Singapura. Mereka diberi kesempatan bertanya mengurai kematian David. “Benarkah anak saya memotong urat nadinya?” tanya Thjay.

Chee menjawab, “Jangan percaya berita yang beredar.”

Thjay agak lega mendengar ungkapan si polisi tapi ketika Hartanto bertanya, soal plester yang ada di leher David, Chee terperanjat. “Oh itu luka ketika terjatuh. Mungkin terbentur beton saat jatuh.”

“Kok bisa di leher saja, sedangkan bagian tubuh lainnya utuh?”
“Bisa saja, mungkin akibat pergeseran,” jawab Chee.
“Mana mungkin, karena setelah terjatuh… buk… mau geser ke mana lagi?”
“Oh bisa saja,” kata polisi itu.

Hartanto semakin curiga tapi tak tahu harus berbuat apa. Hari itu, koran-koran Singapura menulis kematian David. Di internet kasus itu juga menjadi berita hangat.

Chee mengembalikan tas punggung David berisi air minum satu setengah liter penuh dan handuk—kebiasaannya sejak kecil.  Hartanto, Thjay, dan William tertegun saat Chee mengangkat plastik transparan dari bawah meja. Plastik itu berisi baju dan celana David. Baju kuningnya kini sudah berwarna merah karena darah. Tak lupa, Chee bilang penyelidikan kasus itu akan memakan waktu 3-4 bulan.

Keluar dari ruangan polisi, Hartanto bertanya kepada Yayan Muhyana, Sekretaris I KBRI di Singapura, yang turut mendampingi Keluarga Hartanto. “Kenapa begitu lama penyelidikannya?”

“Kasus David merupakan kasus luar biasa maka membutuhkan investigasi khusus dan akan memakan waktu,” jawab Yayan.

Soal Kremasi
Di kampus NTU itu pula, Chua Poh Gaek kemudian menyampaikan kepada Hartanto, jasad David akan diotopsi. Dia menyarankan agar usai otopsi, jasad David segera dikremasi. Itu kata Chua merupakan kebiasaan orang-orang Budha di Singapura.

Hartanto merundingkan sejenak tawaran Chua Thjay dan William, lalu menelepon keluarganya di Jakarta. Dari kerabatnya, seorang Budhis yang saleh, Hartanto mendapat saran agar jasad David segera dikremasi supaya arwahnya tidak gentayangan. Lagi pula, dalam iman Buddhis, anak muda mati dan belum menikah tak boleh dibawa ke rumah. “Sudah dirundingkan?” tanya Chua.

“Iya sudah, kami memutuskan untuk dikremasi,” jawab Hartanto.

Keluarga itu lalu kembali diajak melihat jenazah David. Kali ini bisa lebih dekat. Mereka kini memperhatikan tubuh David dengan versi berbeda dari seperti yang kali pertama mereka lihat. Mulut David terlihat sudah tidak meringis. Begitu juga luka robek pada bibir atas sudah tidak tampak. Namun Hartanto masih bertanya-tanya, mengapa tubuh anaknya dililit oleh plastik bening, penuh mulai dari pundak hingga ujung kaki.

Pukul 15.15 waktu Singapura, 3 Maret 2009, jasad David dikremasi. Tidak ketinggalan baju dan celana pendek yang penuh darah ikut dibakar tapi Hartanto baru menerima guci putih bermotif berisi abu David keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi.

Iskandar, pegawai Mambai Crematorium, datang langsung ke NTU untuk mengantar guci berisi abu jasa David itu. Dia juga yang diberi mandat oleh NTU untuk melarangnya di laut, karena katanya ketentuan Singapura yang ketat melarang Keluarga Hartanto melakukannya sendiri.

Siangnya, Chua memberitahukan Hartanto, mereka diizinkan melihat kamar David yang terletak di hall 4 lantai 1. Kamar itu berukuran 3 x 4 dan kondisinya berantakan, karena katanya polisi telah menggeledah kamar itu. Laptop dan ponsel David sudah raib disita oleh polisi untuk penyelidikan. Hartanto hanya mengambil hard disk eksternal yang tertinggal di kamar itu. Isinya antara lain skripsi David. Beberapa foto David ikut disimpan oleh mereka.

Pukul 20.30 waktu Singapura, Mereka bertolak ke Jakarta. Namun saat boarding pass, betapa terkejutnya mereka melihat foto-foto tewasnya David beredar di internet. Sebagian besar berisi ketidakpercayaan David bunuh diri. Sebagian lagi menuding David sengaja dibunuh.

Penyesalan pun tak bisa ditolak: mengapa mereka terburu-buru mengkremasi jasad David. “Pada waktu itu pikiran masih shock dan kurang logis,” kata Hartanto. (bersambung)

Iklan