Ada yang menyebutkan kematian David berkaitan dengan skripsi yang disusunnya, tapi ada pula yang mengatakan kematiannya berhubungan dengan perilaku seks dari dosen pembimbingnya, Profesor Chan.

oleh Rusdi Mathari
LIBURAN Imlek, 26 Januari silam adalah kali terakhir David berkumpul dengan keluarganya di Jakarta. Hanya lima hari.  Mahasiswa Teknik Elektro NTU, yang suka bermain basket itu memang tak sempat berlibur panjang karena beralasan ingin merampungkan skripsi yang sudah disusunnya. Sejak menggarap skripsi itulah David memutuskan tinggal di asrama mahasiswa NTU. Sendiri.

Menjelang minggu ketiga Februari, David menelepon ayahnya dan memberitahukan bahwa beasiswa yang dia terima telah dicabut sepihak oleh NTU. Nilai mata kuliah di akhir studinya dinilai tak lagi bagus.

Hartanto ingat, saat itu dia menasihati agar David yang suka main game itu belajar serius. Hartanto juga meyakinkan bahwa dirinya akan membayar semua keperluan sisa studi David, pengganti bea siswa yang dicabut. “Tak benar David stres karena bea siswanya dicabut. Pasti pihak NTU yang menyebarkan David bunuh diri karena itu,” kata Tjhay, sembari menyebutkan, pencabutan beasiswa itu hanya diketahui oleh NTU, David dan keluarga.

Senin 2 Maret 2009 mahasiswa kelahiran Jakarta 2 Mei 1987 itu, benar-benar tak menyelesaikan proyeknya atau Final Year Project berjudul “Multiview Acquisition from Multi-Camera Configuration for Person Adaptive 3D Display.” Dari hard disk milik David diketahui skripsi itu sudah rampung sekitar 70 persen.

Tubuh David setinggi 180 cm dan seberat 80 kilogram hari itu ditemukan tergeletak di balkon setelah jatuh dari lantai enam. Benarkah dia bunuh diri?

Teman-teman David di NTU tidak percaya kabar itu. Malam sebelum kejadian, David menurut mereka masih terlihat main game online hingga jam 2 dini hari. Senin pagi sekitar jam 9, melalui Yahoo Messenger, David juga menjawab pertanyaan temannya yang menanyakan mengenai taktik game.

“Logikanya, bila orang merencanakan melakukan penusukan maka tidak mungkin dia main game maupun chatting. Dia lebih terkonsentrasi bagaimana cara untuk menusuk dan lain sebagainya,” kata seorang teman David di NTU.

Belakangan, Hartanto semakin yakin keterangan Rektor NTU, Guaning memang menyimpan banyak kebohongan. David yang bernama asli Hwang Pi Ming—yang berarti “harus maju dan gemilang”— menurut mereka meninggal dalam kondisi tidak wajar.

William kakak David juga percaya adiknya memang sengaja dibunuh, dianiaya dan kemudian dilempar. “David yang menikam tapi kenapa malah dia yang berdarah-darah dan terbunuh sedangkan si professor lukanya tidak parah,  hanya di tangan dan di punggung?” kata William.

Jumat 3 April, Keluarga Hartanto menerima hasil otopsi kematian David seperti yang dijanjikan pihak NTU. Hasil otopsi itu dikirimkan lewat email. Banyak istilah kedokteran yang tidak mereka pahami tapi setelah diverifikasi oleh tim forensik di Jakarta, ada beberapa kejanggalan yang ditemukan pada hasil otopsi itu.

Antara lain disebutkan ginjal David robek karena hantaman benda tumpul. Lalu di pergelangan tangan David ada luka menganga dan cukup dalam karena tusukan benda tajam, bukan karena goresan.

Seorang kawan yang dekat dengan Keluarga Hartanto bercerita, dari hasil otopsi itu, ketahuan, dokter-dokter yang melakukan otopsi jelas tak bisa berbohong tentang apa yang sebetulnya menimpa David. Mungkin para dokter itu memang ditekan tapi kode etik kedokteran melarang mereka untuk berbohong.

Mereka karena itu akan tetap menuliskan apa yang telah terjadi berdasarkan otopsi mereka, atau kalau pun harus diubah, yang berubah hanya konklusinya. Itu pula yang tampaknya dilakukan terhadap hasil konklusi otopsi David. Siapa yang mengubah redaksinya?

Asmara Profesor
Kawan tadi bercerita, kemungkinan besar pihak NTU diduga telah mengubah hasil konklusi otopsi David. Tanda-tanda itu bisa diketahui dari asal otopsi yang ternyata dikirimkan oleh pihak NTU bukan oleh kepolisian Singapura atau pihak rumah sakit. “Mereka sudah mengubah redaksinya, tapi setelah hasil otopsi diverifikasi para dokter di sini, ginjal yang robek itu tak mungkin disebabkan oleh bunuh diri,” kata dia.

Soalnya sekarang, kenapa pihak NTU dan juga Singapura berkepentingan menutup-nutupi kasus kematian David?

Seperti diceritakan Herdian, teman David di NTU itu, sepekan sebelum ditemukan tewas, David terlihat sering menyendiri. Dan ini yang kemudian juga diketahui Herdian: David sering terlihat ketakutan jika bertemu dengan Profesor Chan. “Enggak tahu kenapa, David tak pernah bilang,” kata Herdian atau Acong.

Namun menurut sumber lain, ketakutan David bisa jadi dipicu oleh perilaku Chan Kap Luk. Profesor yang merangkap kepala laboratorium di NTU itu, diduga penyuka sesama jenis alias homo (informasi ini belum diverifikasi kepada Chan). Dan David tampaknya menjadi salah satu mahasiswa yang memang diincar dan diduga pernah dilecehkan oleh Chan.

Hal itu antara lain terungkap dari catatan yang pernah dibuat David, yang selalu menghindari jadwal bimbingan skripsi dengan Chan di malam hari. “Banyak jadwal pertemuan yang di-rescheduling oleh David,” katanya.

Dia bercerita, NTU adalah kampus yang sangat luas. Arealnya berbukit-bukit, penuh pohon dan jauh dari kebisingan. Mirip Kebun Raya Bogor. Banyak mahasiswa yang akan melakukan bimbingan dengan dosen pada sore atau malam hari, datang hanya menghadap mengenakan celana pendek dan bersepeda. Suasana malam  di Kampus NTU tentu saja semakin sepi.

David kata dia, tahu kelakuan Chan dan kejadian di Senin pagi yang nahas itu, kemungkinan besar juga menyangkut soal libido sang profesor. “Siapa yang tahu, karena saksi mata satu-satunya juga sudah meninggal,” kata dia.

Saksi mata yang disebut teman tadi adalah Zhou Zheng. Dia berasal dari China. Ketika David ditemukan tewas, Zhou sebetulnya baru lima hari bekerja sebagai asisten Chan di laboratorium. Setiap kali akan memulai bekerja, Zhou harus selalu mendatangi Chan di ruangannya untuk meminta kunci laboratorium yang memang dipegang Chan.

Ketika terjadi keributan antara Chan dan David, kemungkinan besar Zhou memergoki dan tahu semua yang terjadi tapi tak bisa berbuat apa-apa. Lalu dari hasil penelusuran keluarga di kampus NTU, Zhou diduga juga dipaksa oleh Chan untuk membantu menyeret tubuh David yang sudah berlumuran darah.

Itu antara lain bisa diketahui dari hasil otopsi yang menyebutkan salah satu engsel kaki David sudah lepas sebelum terjatuh. Engsel kaki yang terlepas itu, diduga karena David terlebih dulu diseret dengan kuat ke tangga dan dinaikkan ke atap.

Keterangan itu berbeda dengan penjelasan NTU yang menyebutkan, setelah berusaha menikam Chan, David yang tangannya berlumuran darah berjalan menuju ke tangga darurat. Kata sumber itu, kalau memang benar David sempat berjalan ke tangga, di pegangan tangga (trilling) mestinya ada bekas bercak-bercak darah yang tertinggal.

Faktanya di pegangan tangga itu sama sekali tak ada bekas bercak darah. Bekas bercak darah sebaliknya justru ditemukan di lantai. Berceceran dari depan pintu ruang Chan, di lorong, hingga ke tangga darurat. Itu sesuai dengan gambar David, saat kali pertama ditemukan tewas yang mengenakan celana pendek, dan di bagian celana belakangnya penuh sisa darah.

“Dia diduga diseret sangat kuat sehingga engsel kakinya copot dan kemudian didudukkan di atap dalam keadaan pingsan,” katanya.

Lima hari setelah kematian Zhou juga ditemukan tewas. Dia disebutkan bunuh diri meski tak sedikit yang menduga, Zhou sengaja dibunuh.

Kastari
Sehari setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla bertemu dengan Keluarga Hartanto, Kamis  7 Mei 2009, hampir semua media Singapura mengangkat penangkapan Mas Selamat Kastari oleh polisi Malaysia di Johor, Malaysia. Kastari adalah warga Singapura dan dianggap sebagai bos Jamaah Islamiah Singapura.

Penangkapan Kastari terjadi 1 April 2009 dan tentu saja memalukan bagi Singapura. Pihak keamanan Singapura karena itu meminta Kuala Lumpur mengekstradisi Kastari tapi tidak dihiraukan oleh Malaysia. Hingga lebih sebulan sejak penangkapan Kastari itu, tak ada media Singapura yang memberitakannya.

Berita besar penangkapan Kastari justru menjadi HL koran-koran Singapura, Jumat 8 Mei 2009. Mengutip penjelasan Walter Chia juru bicara Kedutaan Besar Singapura di Kuala Lumpur, The Straits Times menyebutkan, Kastari ditangkap dalam sebuah operasi gabungan yang melibatkan aparat keamanan Singapura dan Malaysia. Namun menurut Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammudin, keberhasilan penangkapan Kastari merupakan hasil investigasi intelijen Malaysia dan Indonesia.

Ke mana pemberitaan kematian David? Tak ada.

Tidak juga berita tentang pertemuan Kalla dengan Keluarga Hartanto, Kamis itu. Padahal pada saat pertemuan berlangsung di Istana Wapres, sejumlah media termasuk dari Singapura ikut meliputnya. Mereka juga mengabadikan gambar Kalla yang berpelukan dengan Hartanto. “Beritanya lenyap oleh berita Kastari,” kata sumber itu.

Dia menduga, pemberitaan Kalla yang bertemu Keluarga Hartanto akan merupakan tamparan keras bagi Singapura. Sebagai wakil presiden, Kalla telah dianggap memberikan sinyal, agar Singapura tidak main-main dengan kematian warga negara Indonesia dan bersikap adil dalam pengusutannya.

Di antara dua peristiwa yang seharusnya memalukan bagi Singapura tadi: penangkapan Kastari oleh polisi Malaysia yang bekerjasama dengan Indonesia dan berita dukungan Kalla untuk mengusut kematian David, pemerintah Singapura tampaknya memang lebih memilih untuk memberitakan penangkapan Kastari yang sebetulnya sudah mereka ketahui sebulan sebelumnya.

Kemarin, persidangan koroner kematian David sudah digelar di Singapura. Hasilnya seperti sudah diketahui, menyatakan, David tewas karena bunuh diri. Yang tidak diketahui, tiga hari sebelum keputusan pengadilan koroner itu, Boediono juga sudah berada di Singapura sebagai utusan pemerintah Indonesia untuk berbicara di NTU.

Dia tiba hari Minggu, 26 Juli 2009 untuk antara lain menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Program Rajaratnam Master Degree, NTU.  Selasa, 28 Juli, Boediono memberikan pidato di Rajaratnam Forum yang digelar NTU di Hotel Shangrila, Singapura. Wakil Menteri Dalam Negeri Singapura dan sejumlah Guru Besar NTU hadir di sana.

Dan ini yang kemudian bisa jadi mengejutkan Singapura: Boediono ternyata juga meminta pengadilan di negeri itu berlaku fair untuk persidangan kematian David.

Namun sama dengan pemberitaan Kalla yang lumat oleh berita pemberitaan penangkapan Kastari, pidato Boediono di NTU dan pernyataannya soal kematian David, juga tak menjadi HL di media Singapura. Mereka rupanya salah berhitung, kedatangan Boediono dianggap akan mengecilkan berita soal persidangan koroner kematian David. Di Tanah Air, pernyataan Boediono, dikutip oleh hampir semua media, cetak dan elektronik.

Pengadilan di Singapura juga dikecam dan akhirnya memperlebar masalah, karena pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia pun ikut terseret. Berbicara kepada wartawan, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda membantah bahwa KBRI di Singapura tidak membantu persidangan kasus David. Kata dia pihak KBRI bahkan telah melakukan pendampingan sejak awal dan ikut menawarkan bantuan hukum meski semua itu dibantah oleh Keluarga Hartanto.

“Saya marah dengan konspirasi pengadilan Singapura dan kecewa tidak ada bantuan pemerintah,” kata Hartanto.

Ke manakah kasus David akan berujung? Pihak keluarga berencana membawa kasus itu ke Mahkamah Internasional.

“Keputusan kemarin, justru sebuah awal untuk menunjukkan, betapa bobroknya pengadilan Singapura,” kata Christovita Wiloto, praktisi PR yang selama ini dikenal selalu mendampingi Keluarga Hartanto. (selesai)

Iklan