Lalu siapa pemilik blog Bushro yang menuliskan pernyataan pengakuan dari seseorang yang mengaku sebagai Noordin M. Top, yang kemudian dikutip oleh banyak situs berita itu?

oleh Rusdi Mathari
TULISAN Wicaksono berjudul “Detik Pecas Ndahe” yang ditampilkan  di blognya, menarik dan menggelitik. Wicaksono, yang di kalangan para blogger dikenal dengan nama Ndoro Kakung, lewat tulisan itu mencoba mencari kejelasan, antara gambar yang terpampang di detik.com dengan tulisan di blog Bushro. Nama yang disebut terakhir adalah sebuah blog baru yang tiba-tiba mencuat gara-gara menayangkan pernyataan dari seseorang yang mengaku sebagai Noordin M. Top dan mengaku sebagai orang yang bertanggung jawab atas pemboman di dua hotel internasional di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli silam.

Menurut Wicaksono ada yang aneh dari gambar yang ditampilkan oleh detik.com. Gambar yang berisi tulisan pernyataan Noordin M. Top itu, menurut dia diambil dengan cara memotret halaman depan blog Bushro dari sebuah pc atau laptop sehingga gambar yang dihasilkan juga agak buram. Screenshot kemungkinan besar tak dilakukan dengan cara print screen. Begitulah Wicaksono menulis. Dia menyebut, gambar yang ditampilkan detik.com, sebagai “ada yang aneh.”

Dugaan Wicaksono terutama didasarkan pada dua tanda editing di blog Bushro yang juga muncul di detik.com. Tanda-tandanya ada lambang obeng dan kunci bersilangan di sebelah kanan tulisan. Sejauh pengetahuan Wicaksono, dua tanda itu hanya bisa dilihat si pemilik blog, ketika yang bersangkutan sedang log in.

Dia karena itu sampai pada kesimpulan, orang yang mengambil foto di blog Bushro kemungkinan besar adalah juga pemilik account blog Bushro. Tapi Wicaksono  tak melangkah lebih jauh. Di akhir tulisan yang hanya empat paragrap itu, dia hanya menulis “moga-moga analisis ini salah …” Hanya itu.

Wicaksono adalah wartawan Tempo dan secara jurnalistik, sedikit banyak dia mengetahui standar dan kaidah jurnalistik yang wajib dipenuhi seorang wartawan ketika menuliskan berita. Kesimpulannya yang menyebut “orang yang mengambil foto di blog Bushro kemungkinan besar adalah juga pemilik account blog Bushro” tentu juga menarik dilihat dari kacamata jurnalistik. Paling tidak untuk menelusuri dari mana sebetulnya asal muasal berita yang menghebohkan itu.

Siapa Tercepat?
Kabar pernyataan Noordin M. Top yang mengaku sebagai orang yang bertanggung jawab atas pemboman di Hotel JW Marriott dan Rizt Carlton muncul kali pertama, Rabu 29 Juli 2009. Entah bagaimana ceritanya, pernyataan itu lalu menyebar seperti ditiup angin kencang dan menghiasi banyak situs berita termasuk detik.com. Seolah dikejar-kejar setan, situs-situs berita itu lalu saling adu cepat menjadi yang paling pertama yang menuliskan dan memberitakannya.

Ada beberapa situs berita yang pada hari Rabu itu ikut memberitakan soal penyataan dari orang yang mengaku sebagai Noordin M. Top yang dikutip dari blog Bushro, selain tentu stasiun televisi. Empat situs berita paling popular seperti detik.com, Kompas.com, Tempointeraktif.com, dan Vivanews.com juga menuliskannya.

Di bawah judul “Surat Pengakuan ‘Nur Din M Top’ Atas Tragedi Marriott & Ritz Beredar,” detik.com menuliskannya pada pukul15.03 WIB. Disusul kemudian Vivanews.com pada pukul 15:07 WIB dengan judul berita “Pernyataan Noordin M Top Soal Bom Marriott.”

Setelah itu baru Kompas.com lewat berita berjudul “Klaim Noordin M Top Beredar di Internet” pada pukul 16:37 WIB lalu Tempointeraktif.com pukul 19:14 WIB dengan judul  “Polisi Selidiki Blog Pengakuan Teror Al Qaeda.”

Dilihat dari waktu penayangan berita-berita tadi, tak bisa dipungkiri detik.com adalah situs berita tercepat dan paling awal yang menuliskan pernyatan pengakuan yang dikutip dari blog Bushro. Tapi tunggu dulu.

Di luar empat situs berita tadi, situs TVone.co.id sudah menayangkan soal pernyataan pengakuan dari blog Bhusro itu lebih awal beberapa menit. Dengan judul  “Pernyataan Noordin M. Top Beredar di InternetTVone.co.id menulis berita itu pada pukul 14.44 WIB.

Yang mengejutkan, TVone.co.id menulis berita tadi dengan mengutip berita dari Vivanews.com. Dua media itu memang memiliki kedekatan kepemilikan. Pertanyaannya adalah, bagaimana redaksi TVone.co.id menulis berita itu pada pukul 14.44 WIB padahal berita itu dikutip dari Vivanews.com, yang baru menayangkannya pada pukul 15.07 WIB?

Waktu Mundur
Sudah bukan rahasia, kebanyakan pengelola situs berita cenderung hanya mengandalkan kecepatan. Semakin paling awal menuliskan berita, semakin mereka percaya, situs mereka akan dibaca banyak orang. Bagi mereka, terlambat satu detik dengan situs berita lain dalam hal menulis berita adalah memalukan dan dianggap aib. Reputasi dan nama besar telanjur dipercaya bergantung dari kecepatan memberitakan.

Apakah berita yang ditulis akurat dan atau bisa dipercaya, itu kemudian dianggap urusan belakangan. Dalilnya, berita kelanjutannya, yang membenarkan atau kemudian membantah, masih bisa ditulis menyusul pada waktu tayang berikutnya.

Jangan heran karena itu, jika sebagian dari pengelola situs berita juga ditengarai banyak yang memundurkan jam, menit, detik, penayangan berita mereka. Itu dilakukan, terutama jika misalnya ada situs lain apalagi yang dianggap sebagai pesaing, sudah lebih dulu memberitakannya. Lewat cara itu, mereka merasa bisa terhindar dari rasa malu karena terlambat memberitakan, dan lantas akan menepuk dada sebagai situs yang paling awal  memberitakan.

Tapi kunci penting dalam soal penayangan pernyataan Noordin M. Top oleh situs-situs berita tadi bukan terletak pada soal waktu pemuatan beritanya, melainkan adalah siapa yang kali pertama tahu ada blog Bushro yang memuat pengakuan orang yang digambarkan sebagai si Noordin itu? Pertanyaan itu penting, karena blog Bushro adalah blog baru, yang dibuat pada Juli 2009 dan hanya memuat pernyataan pengakuan itu.

Gara-gara dikutip oleh banyak situs berita, blog itu kemudian banyak dikunjungi orang. Hingga tulisan ini dibuat Minggu malam 2 Agustus 2009, blog itu sudah dilihat 45 ribu pengunjung. Tak ada keterangan, siapa pengelolanya, kecuali hanya satu tulisan tentang pernyataan pemboman itu.

Dua Kemungkinan
Tak lalu dari ketidakjelasan itu tak bisa diurai benang merahnya, setidaknya jika apa yang ditulis oleh Wicaksono tentang tanda editing pada blog itu sebetulnya berada dalam keadaan log in ketika difoto oleh detik.com—  kemudian bisa dianggap sahih. Ada dua kemungkinan.

Pertama, seperti yang ditulis oleh Wicaksono, orang yang mengambil foto di blog Bushro kemungkinan besar adalah juga pemilik account blog Bushro. Siapa fotografer yang kali pertama memotret blog Bushro, tak ada yang tahu karena belum tentu juga fotografer detik.com yang mengambil foto itu.

Ada yang berpendapat, tanda editing itu tetap bisa tampak, jika sebuah blog diakses melalui browser tertentu, misalnya Opera. Ada pula yang mengatakan, tampilan muka sebuah blog –terutama dari blog Google— yang berwarna hitam juga memungkinkan penampakan tanda editing semacam yang disoal oleh Wicaksono.

Kedua, pemilik blog Bushro atau pihak lain yang sudah lebih tahu, memang sengaja memberitahukan perihal keberadaan blog anyar itu dan sekaligus mengirimkan nama pemilik account berikut kata kunci atau password untuk log in. Kalau berdasarkan skala pembaca dan kecepatannya –detik.com bisa diaggap sebagai situs yang paling layak cepat tahu dan bisa lebih awal memberitakannya—  niscaya bukan tanpa alasan si pemilik blog atau pihak lain itu,  mengirimkannya ke detik.com.

Tapi bagaimana dengan TVone.co.id, yang sudah lebih dulu menulis berita soal itu lebih awal sekitar 20 menit? Dari titik inilah, sebetulnya bisa ditelusuri kejelasan asal muasal, dari mana pegelola situs berita kali pertama mendapatkan info tentang keberadaan blog Bushro. Dengan demikian, publik akan tahu, adakah keberadaan blog itu memang betul dibuat oleh jaringan Noordin M. Top, atau hanya sekadar “ciptaan” dari orang-orang yang ingin memperkeruh suasana.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang juga perlu disikapi, situs-situs berita mestinya bisa lebih berhati-hati menurunkan tulisan atau berita. Sebagai media arus utama  yang menggunakan wartawan dalam pencarian dan penulisan berita dan diakses secara luas oleh publik, mestinya mereka juga terikat dengan kaidah dan standar jurnalistik yang ketat dan tak sekadar beradu cepat menjadi yang paling pertama menulis berita.

Kalaulah berita yang ditulis berdasarkan sumber sahih dan bisa dipertanggungjawabkan, barangkali memang tidak akan ada persoalan. Tapi kalau berita yang dikutip dari blog Bushro kemudian menimbulkan keraguan dan dipertanyakan seperti yang ditulis oleh Wicaksono, bisa jadi itu akan meruntuhkan kepercayaan kepada cara kerja wartawan mereka. Dalam beberapa hal, para wartawan itu bahkan bisa dituding telah bersepakat untuk sengaja ”menciptakan” berita demi berita itu sendiri.

Iklan