Barack Obama bukanlah warga Amerika Serikat jadi tidak bisa jadi Presiden Amerika Serikat. Apakah pernyataan ini berdasar? Apa arti semua ini bagi masa depan Partai Republik?

“Birthers” adalah sebuah kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi. Mereka meragukan kewarganegaraan Obama. Ini menjadi dasar untuk mempertanyakan kesahan Barack Obama sebagai presiden Amerika.

UUD Amerika menetapkan presiden haruslah warga negara Amerika Serikat. Namun, UUD tidak mengatur secara rinci bagaimana seseorang bisa mendapat kewarganegaraan Amerika karena kelahiran. Karena dasar ini mereka meragukan kewarganegaraan Obama.

Legal evidence
Undang-undang mengatur orang bisa mendapat kewarganegaraan Amerika apabila ia lahir di wilayah Amerika atau apabila setidaknya salah satu orang tua warga negara Amerika. Barack Obama lahir pada 1961 di Honolulu yang terletak di negara bagian AS Hawaii. Bapaknya warga Kenya. Ibunya warga Amerika. Jadi, tidak diragukan lagi Obama adalah warga Amerika.

Kelompok Birthers tidak percaya dengan dokumen resmi Obama. Mereka menyatakan Obama sebenarnya lahir di Kenya atau Indonesia. Jadi bukan warga Amerika dan tentu saja tidak bisa menjadi presiden. Mereka tidak perduli dengan fakta bahwa kalaupun Obama lahir di luar negeri, tapi karena salah satu orang tuanya warga Amerika ia tetap menjadi warga Amerika.

Ilmuan politikologi Profesor Charles Taylor dari Universitas Wisconsin-Madison mengatakan Kelompok Birthers tidak peduli dengan logika atau bukti. “Negara bagian Hawaii menyatakan akte kelahiran Obama sah. Kelahiran Obama juga diumumkan di dua koran Honolulu pada waktu itu…Buktinya banyak sekali. Hanya sekelompok kecil masyarakat saja yang percaya dengan tuduhan itu,” kata Taylor.

Gerakan Kelompok Birther mungkin tidak begitu populer di Amerika. Tapi itu bukan berarti ini adalah gerakan sambil lalu saja. Jurnalis kawakan CNN Lou Dobbs memperbesar kontroversi dengan melemparkan pertanyaan tentang kewarganegaraan Obama. Presentator acara radio beraliran kanan Rush Limbaugh juga sering mengangkat topik ini dalam acaranya.

Plin-plan
Kelompok konservatif yang memang sudah tidak senang dengan terpilihnya Obama sebagai presiden dengan senang hati menerima semua rumor yang menjelekkan Obama. Dalam kampanyenya Obama harus menghadapi berbagai tuduhan mulai dari rasis, pemakai narkoba, sampai dituduh homo. Semua tuduhan itu ditangkis oleh tim kampanye Obama yang berpengalaman.

Prof. Franklin menyatakan, tuduhan yang dilontarkan untuk Obama sudah begitu banyak. Sangat jelas betapa tuduhan-tuduhan itu tidak konsisten. “Masih ada contoh lain. Ia digosipkan muslim. Tapi pada saat bersamaan ia dapat masalah karena seorang pendeta di gerejanya adalah orang yang kontroversial.”

Dilema
Rumor yang dilancarkan Kelompok Birther ini hanya populer di kalangan konservatif Partai Republik. Jumlahnya secara keseluruhan tidak lebih dari 1/3 jumlah pemilih Partai Republik. Berbagai rumor ini bisa menjadi masalah bagi partai tersebut. 2/3 pemilih sama sekali tidak mendukung berbagai langkah yang diambil kelompok kecil pemilih itu.

Namun demikian, para politisi dari Kubu Republik merasa tetap perlu untuk melancarkan pernyataan beraliran kanan untuk mempertahankan elektorat mereka. Menurut Profesor Franklin para politisi ini harus mulai berhati-hati. “Tantangan yang dihadapi pemimpin Partai Republik adalah bagaimana mengembalikan imago mereka sebagai partai yang bertanggung jawab dan rasional. Mereka harus bisa membedakan suara mana yang merupakan suara mayoritas para pemilih,”jelas Franklin.

Gerakan the Birther mungkin gagal meyakinkan banyak orang bahwa Obama bukan warga Amerika. Namun, serangan ini tetap menimbulkan akibat sampingan. Pernyataan mereka menguatkan sentimen negatif terhadap Presiden Obama yang memang sudah dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat di Amerika Serikat.

*Dikutip penuh dari Radio Nederland

Iklan