Are you OK Indonesia? What about the earthquake?” kalimat itu saya baca di status Facebook Maria Ozawa, beberapa jam setelah gempa mengguncang  Sumatera Barat, 30 September silam.

oleh Rusdi Mathari
DARI jendela coffee shop Hotel Narita Port, Tokyo, saya melihat matahari seolah menyala. Jarum pendek di arloji menunjuk ke angka 9. Saya baru saja menyelesaikan sarapan, roti khas Jepang yang mirip bakpao tapi isinya kacang merah itu— dan secangkir teh hangat.  Ransel, tas laptop, kamera sudah diturunkan petugas hotel dan di letakkan di kursi di sebelah saya duduk. “Ohayou gozaimasu Rusdi-san, apakah Anda akan pergi?”

Asuka, petugas hotel itu menyapa saya, ketika mata saya asyik memandang ke luar jendela menikmati matahari Tokyo di musim gugur. Sudah dua malam, saya menginap di hotel yang berjarak sekitar 9 kilometer dari Bandara Narita dan Asuka, adalah orang pertama hotel itu yang melayani saya.

“Tidak saya sedang menunggu seorang teman,” kata saya.
“Apakah perempuan itu, teman yang Anda tunggu Rusdi-san?”

Asuka mengarahkan telunjuknya, ke seorang perempuan yang duduk menyilangkan kaki di dekat meja resepsionis. Saya menoleh mengikuti telunjuk Asuka.

“Bagaimana Anda tahu Asuka?”
“Sudah sejak jam delapan dia di sini, dan menanyakan nama Anda,” balasnya.
“Siapa namanya?”
“Miyabi. Maria Miyabi. Kami mengenalnya sebagai nona Ozawa. Maria Ozawa,” katanya.
“Ya memang benar. Saya menunggunya.”
“Boleh saya mengantarnya ke meja Anda Rusdi-san?”

Saya tak sempat menjawab pertanyaan Asuka. Dia langsung pergi menghampiri Ozawa sementara saya merasakan, mata tak sekejap pun hendak berkedip. Mengenakan cardigan warna poplar, jeans biru dan sepatu tak bertumit, perempuan yang kini mulai berjalan ke arah tempat saya duduk seolah telah menjadi sake paling keras yang memaksa mata saya terus terbuka. “Ini Rusdi-san” suara Asuka saya dengar mengenalkan nama saya.

Hi I’m Rusdi,” jawab saya.
“Ozawa. Boleh saya duduk Rusdi-san?” tanya Ozawa.
“Oh ya, tentu saja. Silakan,” kata saya.

Asuka membantu menggeser kursi lalu Ozawa sudah duduk di depan saya. Hanya berjarak sekitar 30 sentimeter, mungkin kurang. Mata, hidung, pipi, bibir itu benar-benar sempurna. “Arigatou gozaimasu Rusdi-san, Anda mau menjumpai saya bintang porno yang sekarang banyak dihujat di negara Anda,” Ozawa memulai pembicaraan.

Masyaallah, sepagi itu, wangi mulutnya saya rasakan seperti wangi es campur di warung depan BCA, Situbondo. Vanila bercampur sirup. “Saya juga berterima kasih, Anda telah bersusah payah datang dari ke hotel ini,” saya mencoba mendatarkan suara, meski jakun sudah saya rasakan naik turun dengan lekas.

“Bagaimana kabar gempa di Sumatra? Saya dengar, korbannya sudah mencapai 1.000 orang?” tanyanya.

Saya membenarkan pertanyaannya, sembari menyampaikan terima kasih atas perhatiannya.  Ozawa memang menaruh perhatian pada gempa di Sumatra Barat itu. “Are you Ok Indonesia? What about the earthquake?” kalimat itu saya baca di status Facebook Ozawa, beberapa jam setelah gempa.

Dia lalu bercerita tentang negaranya yang sering dilanda gempa. Waktu masih bersekolah, dia sering diajarkan bagaimana harus menyelamatkan diri saat terjadi gempa. Suatu hari, dia dan temannya tak mengikuti simulasi evakuasi. Dia memilih bersembunyi di ruang perpustakaan. Ketika gurunya menemukan mereka, Ozawa dan temannya itu diperintahkan lari mengelilingi lapangan di belakang sekolahnya.

“Pernah waktu SMA, gempa  itu benar-benar terjadi. Hanya sebentar. Saya dan teman-teman segera merunduk dan bersembunyi di bawah meja. Kami semua panik. Tapi di bawah meja itu, teman-teman laki-laki malah tertawa, cekikikan. Saya tidak tahu mulanya, sebelum sadar rok saya tersingkap dan celana dalam saya terlihat oleh mereka,” Ozawa saya lihat tertawa. Giginya putih.

“Anda mau minum?”
“Teh saja,” kata dia.

Saya memberi kode kepada Asuka.

“Jadi Anda memutuskan tidak akan datang ke Indonesia?”
“Belum. Saya masih menimbang. Indonesia mon amour.”
“Ada yang menolak kedatangan Anda.”
“Saya tahu tapi apa salah saya?”

Ozawa tajam menatap saya. Matanya itu  mengingatkan saya pada mata sepasang burung belibis hutan yang pernah saya lihat berenang di telaga Ranukumbolo di kaki Gunung Semeru.

“Saya hanya mencari makan. Dan kamu tahu Rusdi-san, saya sudah sejak lama paham ucapan Voltaire, dalam perkara uang semua orang mempunyai ‘agama’ yang sama. Saya tidak pernah mencuri hak orang apalagi milik rakyat Indonesia. Saya bukan pencuri. Bukan orang munafik, yang hari ini berjanji memberantas korupsi, lalu esoknya diam-diam bersekutu membungkam lembaga korupsi seperti KPK di negara Anda dengan banyak dalih dan alasan. Saya tidak pernah membohongi penggemar saya dengan berkhotbah, misalnya agar jangan terangsang melihat adegan saya. Tidak. Biarlah mereka menonton dan menikmati adegan saya, jika itu bisa membuat mereka keluar dari kemunafikan.”

Saya lihat Ozawa merunduk. Wangi sampo rambutnya meruap diembus udara AC. Saya terus memandangnya. Mata, pipi, bibir, dan alis itu.

“Kamu tahu Rusdi-san, semalam saya menangis di kamar. Artis-artis di negara Anda yang kabarnya akan membintangi sebuah film bersama saya, tiba-tiba juga tampil seolah paling tahu tentang moral. Saya dianggap sampah atau mungkin lebih dari itu. Mestinya mereka membaca, cerita yang Anda kirimkan kepada saya lewat email.”

“Cerita yang mana?” saya mencoba bertanya, setelah sekian menit, hanya menelan ludah.

“Kisah pelacur yang di dalam agama Anda dijamin masuk surga hanya gara-gara memberi minum seekor anjing yang dahaga.”
“Itu hanya cerita,” saya menjawab sekenanya.
“Ya tapi bahkan seorang pelacur pun punya nilai di mata Tuhan. Oh my God, kenapa saya tiba-tiba melibatkan Tuhan?” Ozawa menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Cincin perak terlihat melingkar di jari tengahnya.

“Mereka menganggap Anda tak bermoral.”
“Saya memang bintang porno Rusdi-san tapi saya tidak merugikan siapa pun, tidak juga orang Indonesia. Kalau ada yang menyebut aksi saya bisa dan telah merusak moral, sebenarnya di mana moral itu? Di selangkangan saya, atau di pidato-pidato orang-orang berbatik sutra itu yang selama dua hari ini menebar senyum di televisi karena akan dipilih menjadi menteri?”

“Loh Anda mengikuti berita audisi calon menteri itu juga toh?”

“Semalam saya lihat di NHK. Ayolah Rusdi-san, negara Anda, dikenal sebagai negara dengan penduduk yang katanya beragama tapi Anda pasti juga sudah tahu, Jepang negara saya, bukan negara dengan predikat negara paling korup. Lalu apakah karena saya bintang porno, moral saya kemudian benar-benar lebih buruk dari moralitas citra negara Anda, semacam itu?”

“Jangan-jangan Anda berlebihan?”

“Ya mungkin tapi Anda tahu, para pelacur yang di Indonesia dicela, para penikmatnya terdiri dari berbagai rentang usia, sejak 13 tahun sampai 70 tahun. Banyak para pejabat di negara Anda, diam-diam menyimpan gundik. Disembunyikan, agar anak dan istri mereka tidak tahu. Sebagian meniduri istri orang, atau memesan pelacur sebagai teman saat rapat. Lalu di koran-koran mereka menjanjikan kesetaraan hukum dan keadilan. Katanya siap melayani dan melindungi. Apa seperti itu moral? Berapa pula uang publik dan uang negara, yang dikucurkan untuk menalangi Bank Century?”

“Apa? Century? Anda mengikuti skandal Century?”
“Tentu saja Rusdi-san. Pendidikan saya akuntan.”
“Itu bukan uang negara, setidaknya begitulah kolom seorang Pemred,” jawab saya.

“Sebetulnya bukan itu persoalannya melainkan ke mana aliran uang itu? Siapa saja yang menikmati? Adakah kaitannya dengan pemilu kemarin? Benarkah hanya Robert Tantular yang menikmati? Lalu kenapa skandal itu kemudian seolah dianggap masa lalu? Itukah moral itu Rusdi-san?”

Saya terus memandang Ozawa sebelum terdengar suara perempuan menegur. “Mau pesan yang lain Pak?”

Hah Pak?  Asuka  berbahasa Indonesia? Tidak, itu suara perempuan.

<i>Masyallah</i> saya rupanya sedang duduk di lobi sebuah hotel di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, menunggu seorang teman, yang berjanji akan membawakan CD terbaru film Maria Ozawa. Kata teman itu, judulnya Andai Ozawa Ikut Audisi Menteri.

Iklan