Sebagian orang juga para wartawan dan media itu, kini lalu terperangkap dalam kubu-kubu, memihak yang satu dan menolak yang lainnya lalu menganggap seteru orang-orang yang tidak sepaham dengan kebenaran mereka.

oleh Rusdi Mathari
TIBALAH waktunya Nasrudin Hoja menjadi hakim. Suatu hari di pengadilan kota, dia  mendengarkan jaksa membacakan dakwaan. Pak Jaksa berapi-api membacakannya. Fakta-fakta dibeberkan lengkap dengan waktu kejadian, saksi dan sebagainya. Nasrudin serius menyimak hingga dakwaan itu selesai dibaca oleh Pak Jaksa. Lalu katanya, ”Rasa aku, engkau benar.”

Panitera yang mendengar ucapan itu mengingatkan Nasrudin untuk tidak lekas mengambil kesimpulan karena terdakwa belum lagi membela diri. Narsudin mengiyakan, lalu terdakwa yang diwakili oleh pengacaranya yang pandai mengolah logika dan kata menyampaikan pembelaan. Nasrudin serius menyimak pembelaan itu dan sesudahnya berkata, “Rasa aku, engkau benar.”

Kali ini panitera bertambah bingung. Dalam benaknya, tidak mungkin ada dua pihak yang benar. Kata dia kepada Narsudin, “Yang Mulia, tidak mungkin jaksa benar dan pengacara juga benar. Harus ada salah satu yang tidak benar.” Narsudin menoleh ke panitera itu dan menatapnya dengan lesu. “Ya, rasa aku, engkau benar,” kata Nasrudin.

Skandal Bank Century –andai boleh disebut demikian— dan Pansus yang dibentuk untuk menyusuri skandal itu berikut drama “persidangannya” mengingatkan saya pada Narsudin yang menjadi hakim itu. Ketika semua pihak yang merasa perlu “terlibat” dan memiliki “kepentingan” dengan skandal itu, kini mengaku paling benar kendati sebatas rasa mereka.

Arus besar anggota Pansus mengaku (baca: merasa) memiliki bukti dan data, penyelamatan atas Century bukan saja dilakukan tidak benar melainkan juga menduga ada sesuatu yang ditutup-tutupi dalam proses penyelamatan Century, dan karena itu harus diungkap. Jangan ditanya, apakah data dan bukti yang mereka rasa sebagai bukti dan data itu, benar dan berasal dari sumber-sumber sahih. Sebagai orang-orang pilihan yang mengaku dipilih dan mewakili rakyat, mereka (merasa) punya hak menggunakan data dan bukti apa pun untuk membongkar skandal Century yang dianggap merugikan negara, demi katanya mewakili suara rakyat yang gelisah karena skandal itu.

Maka dari yang bisa dilihat di “persidangan” Pansus, hampir semua dari anggota Pansus kemudian berubah fungsi menjadi pengusut yang congkak ketimbang seorang yang bercita-cita. Jawaban santun dibalas dengan menghardik, penjelasan logis ditimpali kesombongan. Keterangan para saksi dianggap tidak masuk akal dan mereka diperlakukan seperti para pesakitan yang merampok anak perawan dan menyetubuhinya di kompleks pelacuran. Mungkin karena disiarkan langsung oleh televisi, anggota Pansus itu berharap, mereka akan mendapat tepukan karena telah heroik bersuara atas nama kepentingan rakyat kendati yang kemudian lebih terlihat adalah kebodohan dan keangkuhan mereka.

Juga orang-orang penting, para saksi yang dihadirkan di “persidangan” Pansus itu, merasa sudah memberikan keterangan dan penjelasan, yang menurut mereka, begitulah fakta tentang Century dan penyelamatannya, yang mereka ketahui dan mereka percayai. Tak ada tekanan dari mana pun, apalagi rekayasa ketika Century harus mereka putuskan untuk diselamatkan. Semua semata demi menyelamatkan perekonomian negara, katanya. Tidak lebih. Sikap santun, suara lembut dan tidak meledak-ledak dari para saksi itu dibandingkan sikap dan suara sebagian besar anggota Pansus yang marah, kemudian telah menciptakan kesan, para saksi telah diperlakukan sebagai rombongan pendosa.

Tawaran Kepentingan
Saat ini skandal Century memang tak lagi sekadar skandal keuangan perbankan melainkan telah menjadi skandal politik karena di belakang pembentukan Pansus dan kehadiran para saksi itu sebetulnya telah berdiri sejumlah agenda politik. Karena menjadi agenda politik maka harus pula dibaca, “persidangan” di Pansus juga memiliki tujuan dan target politik, dari kedua-duanya: anggota Pansus dan para saksi. Tentu hanya para saksi, dan masing-masing fraksi dari anggota Pansus yang tahu apa target dan tujuan politik mereka.

Saya akan tetapi hanya bisa “membaca” baik anggota Pansus maupun para saksi, sebetulnya tak benar-benar hendak mengungkap apa yang sebetulnya terjadi di balik skandal Century dan patut diketahui publik. Kedua pihak hanya saling berharap ada keajaiban: Sapi kepentingan yang mereka bawa dapat dibeli atau dijual.

Di “persidangan” itu, dengarlah para anggota Pansus itu meneriakkan tawaran yang menjengkelkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memaksa keluarnya sebuah pengakuan bahwa pembayaran talangan kepada Century tidak didasarkan kepada logika perbankan, dan karena itu harus ada yang memaksa mereka melakukan mengucurkan uang, entah untuk apa. Andai mereka pegang senapan, mungkin akan diarahkannya senapan itu ke muka para saksi yang mereka undang itu, agar tercipta ketakutan dan memelorotkan nyali.

Soalnya sekarang, saya juga percaya (fraksi) para anggota Pansus dan mungkin juga para saksi itu belum menerima tawaran apa pun, dan karena itu “persidangan” Pansus kemudian lebih mirip dengan cerita di film India dengan aktor berwajah garang yang bersumpah-sumpah sembari tersedu-sedu. Rumor akan dicopotnya jabatan Menteri Keuangan dari Sri Mulyani, yang berembus di luar gedung tempat “persidangan” Pansus kemarin, hanyalah salah satu isyarat bahwa sejauh ini memang belum ada tawaran apa pun kepada Pansus. Andai sudah ada tawaran yang disampaikan kepada mereka, saya kembali percaya mereka semua tentu tak akan tampak kelelahan berenang keras melawan arus berpikir yang telanjur dibangun sendiri oleh mereka (atau partai mereka) untuk membangun “pasar” kepentingan.

Mengingat Nasrudin yang pada suatu hari menjadi hakim, barangkali ada baiknya para anggota Pansus dan para saksi itu, becermin pada kenyataan: Skandal Century telah menyita banyak energi, melelahkan dan mungkin menjengkelkan. Sebagian orang juga para wartawan dan media itu, kini lalu terperangkap dalam kubu-kubu, memihak yang satu dan menolak yang lainnya lalu menganggap seteru orang-orang yang tidak sepaham dengan kebenaran mereka.

Lalu para anggota Pansus dan para saksi itu juga orang-orang pintar yang berdiri di belakang keduanya, diam-diam mengatur siasat di meja makan untuk memengaruhi publik bahwa pihak merekalah yang paling benar, untuk tidak menyebut paling fasih berdagang dan berdalih—  sembari berharap sapi kepentingan mereka laku ditawar. Andai saja kini, Nasrudin Hoja hidup.

Iklan