Ini cerita seorang teman tentang Tuhan yang dia jumpai terkapar di RS Kabupaten Karo, Sumatra Utara, suatu siang 20 tahunan silam. Kakinya patah. Dari seorang lelaki paruh baya yang menunggui di samping tempat tidur Tuhan dan juga dijumpai teman tadi, lalu mengalirlah cerita mengapa Tuhan bisa terkapar di rumah sakit. “Saksinya banyak Cak, jadi tak perlu diragukan lagi,” katanya.

oleh Rusdi Mathari
MULANYA adalah sebuah angkutan pedesaan sarat penumpang termasuk seorang nenek,  melaju di jalanan perbukitan di Desa Kandibata, Kabanjahe, Karo dengan lekas. Di kiri-kanan jalan, barisan jurang menganga siap menerkam. Mulut si nenek terlihat komat-kamit membaca doa. Namun doa tinggallah doa, nasib malang tak ada yang bisa menolak.

Singkat cerita, angkutan itu bersama seluruh penumpang masuk ke jurang sedalam 100 meter. Sejenak senyap sebelum terdengar suara perempuan merintih, “Tuhan tolong saya.” Rupanya itu rintihan si nenek.

Seolah menjawab rintihan si nenek, tiba-tiba terdengar suara. “Maaf, saya tidak bisa menolong, saya juga terjepit.”

Penumpang lain yang selamat, mencoba mencari tahu dari mana asal-usul suara itu tapi tidak ada siapa-siapa selain mereka. “Di sini, saya. Saya Tuhan. Tuhan Tarigan,” suara lelaki itu kembali terdengar dan membuat semua penumpang menoleh ke sosok pria yang terjepit di antara batang kemudi dan pintu kendaraan. Dialah sopir angkutan pedesaan yang nahas itu. Namanya Tuhan Tarigan.

Siang hari 20 tahunan lalu itu, Tuhan itulah yang dijumpai teman saya terkapar di RS Kabupaten Karo. Kondisinya payah tapi selamat dan masih hidup hingga sekarang. “Kalau tak percaya, saya bisa mempertemukan Cak dengan Tuhan itu,” katanya.

Iklan