Mementaskan serial terbarunya, kelompok tari asal Jepang ini tampil di Jakarta selama tiga sejak Jumat lalu. Bagaimana kalau “A” adalah anjing, “Z” adalah Zakar dan “Agus” adalah agak gundul sedikit?

oleh Rusdi Mathari
HANYA mengenakan cawat dan ikat kepala, lelaki itu mengapit selimut. Dinaungi lampu sorot, awalnya dia mencoba menghamparkan selimutnya di sudut kiri depan panggung tapi dibatalkannya. Lampu sorot mati. Sejurus kemudian dia muncul di sudut yang lain, juga dibawa lampu sorot yang lain. Selimut itu kali ini benar-benar digelarnya, seolah matras untuk senam.

Dia serius mengatur posisi. Sambil membungkukkan badan, dua tangannya masing-masing menjulurkan jari telunjuk, menekan bagian tengah selimut seperti hendak memeriksa. Kini badannya agak tegak hingga kemudian dia benar-benar berdiri di belakang selimut. Lalu kakinya melangkah ke tengah. Satu demi satu.

Tiba-tiba, hap… diiringi suara musik gembira, lelaki itu mulai menggerakkan badannya, mirip gerakan senam yang biasa dilakukan kaum perempuan, yang acaranya pernah marak disiarkan stasiun televisi. Mungkin juga mirip dengan goyangan “gergaji” dari Dewi Persik. Adegan itu diulangi hingga dua kali. Penonton terpingkal-pingkal.

Di bagian lain, seorang pria yang lain terlihat mengenakan jas lengkap layaknya pelayan restoran. Dia berbicara dalam bahasa Inggris yang kaku seolah menawarkan minuman kepada para tamu. Di ujung ucapannya, sambil tertawa dia berujar, “Memangnya siapa kamu?”

Lampu mati, si pria yang berkepala plontos itu kembali ke bilik layar di samping panggung. Hanya beberapa detik, dia tiba-tiba muncul kembali dan kali ini berucap, “Oh yeah, my name is Agus, agak gundul sedikit.” Tawa pun meledak.

Bertempat di Teater Salihara, Jumat malam pekan lalu, adegan goyang “gergaji” dan “Agus” itu menjadi salah satu fragmen dari pertunjukan Conquest of the Galaxy: Mars yang dibawakan oleh Condors dari Jepang. Itu adalah kelompok tari kontemporer yang didirikan oleh Ryohe Kondo pada musim gugur 1996 dan semua anggotanya adalah laki-laki. Di Jakarta, mereka tampil tiga hari berturut-turut, hingga Minggu sore.

Karya pertama Condors adalah tarian serial Kiss the Sun yang dipentaskan di Theater Fonte di Yokohama, Jepang sesaat setelah Condors dibentuk oleh Kondo. Pertunjukan itu mendapat respons luar biasa, sehingga membuat banyak pihak dan penyandang dana yang menaruh perhatian. Tahun berikutnya, Condors membuka festival musim semi Tokyo Globe Theater dengan membawakan karya lanjutan Kiss the Sun. Acara itu disiarkan di tiga program berbeda oleh SkyPerfect, stasiun televisi satelit Jepang. Sejak itu, berbagai undangan seolah tak henti dialamatkan ke Kondo dan kawan-kawan.

Lewat Conquest of the Galaxy: Mars, Condors mementaskan beberapa adegan pendek dengan gaya dan corak yang membaur seolah iklan, animasi, cerita pendek dan tentu saja tarian. Di bagian-bagian awal pertunjukan mereka, adegan-adegan itu seakan tidak terhubung dan tanpa makna. Namun ketika mulai separuh pertunjukan hingga berakhir, adegan-adegan itu terasa bukanlah kepingan yang berdiri sendiri.

Disuguhkan dengan gaya satir tapi tidak sinis, semua adegan membawa penonton pada hal-hal yang mendasar dalam kehidupan manusia sekarang. Ditingkahi ekspresi tubuh yang jenaka dari para penari –semua ada 12 orang— Condors seperti menyindir manusia zaman sekarang, yang banyak terpaku pada hal-hal bersifat instan. Contohnya itu tadi, adegan senam goyang “gergaji” yang menyindir para perempuan yang selalu menginginkan memiliki tubuh langsing. “Sarkastis kami tampilkan dengan humor,” kata Kondo.

Rotten Street
Lalu muncul adegan lain, sebuah panggung boneka mirip Sesame Street yang terkenal itu. Condors mengganti judulnya menjadi Rotten Street. Seorang penari berada di baling “panggung” mengendalikan tiga boneka dan tiga penari lainnya duduk bersilah di sebelah “panggung” membacakan naskah cerita. Cerita mengalir hingga muncul adegan belajar mengeja abjad.

Bersamaan munculnya huruf A di panggung, tiga penari keluar di latar belakang membawakan adegan orang-orang yang tergesa-gesa berjalan. Dari arah berlawanan, seorang penari yang lain juga berjalan terburu-buru.

Tiba-tiba bruk…mereka bertabrakan. Penari yang seorang itu lalu menunjuk-nunjuk rombongan penari yang menabraknya, seolah marah dan memaki. Tiga penari yang membacakan naskah cerita di sebelah “panggung” lalu berteriak “A” dan penari itu menjawab, “Anjing!” (dalam bahasa Indonesia ).

Silih berganti, sesudahnya muncul huruf-huruf lain di panggung boneka itu. Para pembaca naskah, terus meneriakkan huruf B hingga Z. Dan lewat cara yang sama, semua huruf-huruf itu dieja oleh para penari lainnya tapi ejaannya “dipelesetkan.” Saat huruf F muncul misalnya, serombongan penari menggerakkan tangan mereka seperti sedang memencet tuts-tuts pada ponsel atau Blackberry. Saat pembaca naskah meneriakkan huruf F itu, serentak mereka menjawab “Facebook.”

Di huruf terakhir, Z, muncul dua penari. Salah seorang membawa dua buah rambutan, yang satunya lagi mencoba menyebutkan nama buah itu. “Rambutan,” kata si penebak tapi penari yang membawa rambutan menggeleng. Dia lantas meletakkan dua rambutan itu persis di selangkangan, dan berseru “Zakar.”

Kondo bercerita, dia dan rombongan penarinya datang ke Jakarta Selasa pekan silam, dan mereka baru belajar bahasa Indonesia, baru beberapa hari. Penting menurutnya mempelajari istilah atau kata dari bahasa sebuah negara yang dikunjunginya, terutama agar pertunjukannya bisa diterima oleh penonton setempat. “Sebetulnya kami tidak paham apa artinya, karena hanya belajar beberapa kata,” kata dia tertawa.

Selain di Jakarta, kata Kondo, 2007 silam Conquest of the Galaxy: Mars, sudah tampil di London, Paris, dan Roma. Setahun kemudian pentas di Brazil dan tahun lalu mereka tampil di Singapura dan Kuala Lumpur. Karya itu, katanya, merupakan kelanjutan dari sukses  Conquest of the Galaxy: Jupiter, yang pernah tampil di New York (2001), Los Angeles, Miami, dan sejumlah negara termasuk Indonesia.

Kecuali adegan-adegan tarinya, yang mirip Kapuera dari Brazil dan membutuhkan keterampilan dan stamina prima— semua anggota Condors adalah juga orang-orang dengan latar pendidikan yang mumpuni. Sebagian dari mereka bergelar Ph.D dan M.A. Ada pun Kondo, seorang dosen tari, yang sudah kenyang mementaskan tari dan tampil di banyak negara.

Lalu di panggung, kecerdasan mereka terwujud dalam banyak gerakan dan adegan yang memesona dengan iringan lagu-lagu rock, Rolling Stones hingga Guns N Roses. “Tujuan kami hanya untuk menghibur,” kata Kojiro Yamamoto, penari berkepala plontos yang mengenalkan diri sebagai “Agus” itu.

Iklan