Pengetahuan memang kerap kali baik tapi tidak selalu begitu. Ada beberapa pengetahuan yang lebih baik tidak diketahui orang lain. Lalu di sini, mengapa orang-orang itu masih berseteru soal baik dan buruk hanya gara-gara seekor kerbau?

oleh Rusdi Mathari
SEBAGIAN manusia, kata Sidney Hook kemudian hanya bersepakat tentang baik dan buruk dibandingkan bertanya, mengapa  baik, mengapa buruk. Penyakit katanya buruk dan sehat baik. Pintar itu baik dan bodoh buruk; sabar baik, pemarah buruk; kebenaran baik, kesalahan buruk; cinta baik, kebencian buruk; dan seterusnya. Ketua Lembaga Filsafat dari Universitas New York itu lalu bertanya: ketika manusia tahu apa yang  baik dan apa yang  buruk, benarkah mereka juga tahu mengapa hal-hal itu baik dan buruk?

Hook memang sedang berbicara soal etis. Pada kuliah umum di Jakarta berpuluh tahun lampau, dia karena itu memberikan pilihan: tak sesuatu pun di dunia ini yang memiliki ukuran yang sama. Juga soal baik dan buruk itu. Baginya semua manusia memiliki pengalaman masing-masing dan itu menjadi titik tolak mengenai banyak hal tentang yang baik dan yang buruk.

Tentu saja tentang nilai-nilai tertentu yang dianggap sama dan selalu baik itu akan mengundang perdebatan.  Hook justru itu bertanya: nilai manakah yang selalu baik dalam segala keadaan? Kesehatan itu baik, kesejahteraan itu baik, persahabatan itu baik; tapi jika saling bertentangan satu dengan yang lainnya, lalu nilai manakah yang akan dianggap baik?

Soalnya adalah, jika semua benar, bagaimanakah mencapai kesepakatan antara orang-orang yang memilih hal-hal yang baik tapi ternyata tidak sependapat satu dengan yang lainnya?

Misalnya untuk memilih A dan B. Seseorang mungkin akan berkata, marilah kita pilih A, dan yang lain berseru untuk memilih  B. Lantas bagaimana manusia satu dengan yang lainnya yang saling tidak menyetujui tentang apa yang baik dan apa yang benar, kemudian dapat saling bersepakat?

Suatu hari, dua murid Kong Hu Cu berdebat soal berapakah hasil 8×3. Yan Yuan, murid yang pintar dengan cepat menjawab hasilnya 24 tapi murid yang pandir menjawab 23. Perdebatan mereka tak berujung hingga murid yang bodoh mengajak Yuan bertaruh. Kata dia, jika 24 adalah jawaban yang benar, dia bersedia dipotong lehernya. Sebaliknya kalau jawaban yang benar adalah 23, Yuan harus melepas semua atribut kepintarannya.

Kepada Kong Hu Cu keduanya menceritakan apa yang terjadi; tapi Yuan sungguh tidak menyangka, gurunya itu membenarkan hitungan dari murid yang bodoh. Dia kecewa dan karena kalah bertaruh, kemudian membanting semua atribut intelektualnya dan meninggalkan Kong Hu Cu.

Suatu waktu, ketika Yuan kembali menemui Kong Hu Cu,  sang guru itu menjelaskan alasannya membenarkan jawaban 8×3=23. Di mana pun, kata dia, 8×3=24 tapi soalnya, tentu bukan sekadar angka.

“Andai saat itu, aku menjawab 8×3=24,  niscaya engkau akan didera penyesalan seumur hidup karena telah menjadi pembunuh bagi saudaramu. 8×3=24 hanyalah kebenaran kecil, kebenaran matematis tapi 8×3=23 saat itu adalah kebenaran besar karena menyangkut nyawa manusia,” kata Kong Hu Cu.

Dalam keyakinan Hook, pengetahuan memang kerap kali baik tapi tidak selalu begitu. Ada beberapa pengetahuan yang lebih baik tidak diketahui orang lain.

Seorang dokter yang dengan pengetahuannya, mengetahui penyakit seorang pasien akan menyebabkan kematian misalnya; tentu akan menggunakan akal kecerdasannya untuk tidak mengatakan apa yang diketahuinya kepada si pasien, kecuali dia tahu kenyataan si pasien akan meninggal seribu kali lebih cepat saat itu jika dia memberitahukannya.

Hampir sama dengan Kong Hu Cu, Hook karena itu menyarankan manusia agar lebih menggunakan akal kecerdasan (intelligence) menyikapi apa yang kemudian dianggap baik, dan juga benar itu. Lalu di sini, mengapa orang-orang itu masih berseteru soal baik dan buruk hanya gara-gara seekor kerbau?

*Tulisan ini dimuat di rubrik Kolom, Koran Jakarta, edisi Minggu 7 Februari 2010.

Iklan