Belakangan Kek Beng malah mengontrak rumah di Cicendo, Bandung. Persis di depan markas Kempetai. “Ayah saya ingat pepatah Tionghoa ‘Kalau tak bisa menghindari macan duduklah di hidung macan’,” kata Houw. Di rumah itulah, Kek Beng bersama istri dan empat anaknya termasuk Houw tinggal selama pendudukan Jepang dan lolos dari hukuman mati.

oleh Rusdi Mathari
SUDAH hampir sepekan Kwee Hin Houw berada di Indonesia, mengunjungi sanak kerabatnya yang masih tersisa. Kakak perempuannya tinggal di Cimahi, Jawa Barat. “Saya mencintai negeri ini,” kata lelaki kelahiran 12 Mei 1938 itu ketika ditemui di sebuah hotel di Jakarta, kemarin. Matanya menerawang. Dia kini warga negara Jerman dengan nama Xing-hu Kuo.

Sejak lulus dari SMA Negeri Gajah Mada, Jakarta (1957), Houw memang tinggal di negara itu. Dengan bantuan kepala sekolah bernama Sunito, dia mendapat bea siswa jurnalistik di Universitas Karl Max di Leipzig, Jerman Timur. Sunito adalah gembong PKI dan bersama Goh Gin Tjuan diusir dari negara Belanda karena aktif menyebarkan ajaran komunis di negeri Kincir Angin itu.

“Seperti ayah, saya memang ingin jadi wartawan tapi di Jerman Timur malah mendapat propaganda komunis,” kata Houw.

Kenangan Houw akan Indonesia memang panjang. Dialah putra bungsu Kwee Kek Beng pendiri dan Pemimpin Redaksi Sin Po. Kali pertama terbit, koran itu menggunakan bahasa Mandarin dan baru menggunakan bahasa Melayu sejak 1910.

Houw tahu betul, ayahnya berjuang untuk Indonesia melalui koran itu. “Kata ayah saya, biarpun berorientasi ke Tiongkok sebagai negara nenek moyang tapi tidak boleh lupa, kita tinggal di Indonesia. Kita harus mendukung Indonesia mencapai kemerdekaan,” katanya.

Sin Po kata Houw adalah koran pertama yang tidak menggunakan kata inlander untuk menyebut orang Indonesia dan menggantinya dengan sebutan orang Indonesia. Saat itu Belanda membagi masyarakat menjadi tiga kelas: Orang Eropa di dalamnya termasuk orang Jepang dan Thailand, orang Tionghoa dan orang Timur Asia lainnya, dan inlander untuk pribumi. Gara-gara itu, Jawa Pos, surat kabar asli Indonesia yang terbit di Jawa kemudian tak lagi menyebut orang Cina sebagai Cina melainkan Tionghoa.

Houw ingat, Sukarno juga sering datang ke kantor Sin Po di Jalan Asemka, Jakarta Barat, dan berdiskusi dengan ayahnya soal kemerdekaan Indonesia. Lalu suatu hari, W.R. Supratman yang menjadi reporter Sin Po menggubah Indonesia Raya. Lagu itu diperdengarkan sewaktu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tapi hanya instrumental. Syairnya dilarang diperdengarkan oleh Belanda. Namun Sin Po nekat menerbitkan teks lagu itu.

Sebelum dimuat, Supratman sempat bertanya pada Kek Beng, “Belanda pasti marah bila teks lagu ini dicetak. Anda berani?”

Mendengar pertanyaan itu, Kek Beng malah mencetak Sin Po 5.000 eksemplar lebih banyak dari tiras biasanya dan diberikan khusus kepada Supratman agar disebarkan kepada teman-temannya. “Ayah saya tidak takut Belanda,” kata Houw.

Hidung Macan
Saat Jepang masuk ke Indonesia 1942, Kek Beng termasuk orang yang paling dicari Kempetei, polisi rahasia Jepang. Gara-garanya, saat Jepang menyerbu Tiongkok (1937), lewat Sin Po, Kek Beng selalu mengkritik Jepang, menyerukan orang-orang Indonesia dan Tionghoa agar tidak membeli produk Jepang.

Semula Kek Beng hendak melarikan diri ke Australia tapi tak kesampaian. “Australia menganggap bahaya kuning orang Tionghoa. Australia memang negara rasis, sampai sekarang,” kata Huow.

Kek Beng belakangan malah mengontrak rumah di Cicendo, Bandung. Persis di depan markas Kempetai. “Ayah saya ingat pepatah Tionghoa ‘Kalau tak bisa menghindari macan duduklah di hidung macan’,” kata Houw.

Di rumah itulah, Kek Beng bersama istri dan empat anaknya termasuk Houw tinggal selama pendudukan Jepang dan lolos dari hukuman mati. Setelah Indonesia merdeka, anak-anak Kek Beng meneruskan pekerjaannya di dunia jurnalistik.

Putra sulungnya Kwee Hin Guan, yang arsitek pernah menerbitkan majalah Arsitektur Indonesia (kini tinggal di Belanda); anak perempuannya, mendiang Kwee Hin Hua pernah bekerja di Antara; dan Houw wartawan di Jerman hingga sekarang.

“Ingin punya koran di Indonesia tapi saya sudah tua dan tak punya modal,” kata Houw.

Dia kini freelancer untuk koran Volksstimme di Jerman dan sudah berkeliling ke banyak negara meliput peristiwa politik dan perang. (bersambung)


Iklan