Saat mendaftar menjadi warga RRC, petugas di kedutaan RRC di Berlin memintanya menuliskan nama dalam huruf Tiongkok. “Saya tulis Kwee Hin Houw. Mereka bilang itu bahasa Hokian. Dalam bahasa Mandarin nama saya Xing-hu Kuo. Sejak itu nama saya Xing-hu Hou,” kata Houw.

oleh Rusdi Mathari
SELAIN karena ada tawaran bea siswa untuk belajar jurnalistik di Jerman, ada sebab lain, mengapa Kwee Hin Houw akhirnya menetap di negara itu. Dua tahun belajar di Jerman sejak 1957, dia mendengar pemerintah Indonesia mengeluarkan PP No. 10. Isinya melarang orang Tionghoa berdagang di kecamatan dan desa.

Peraturan itu sebetulnya dimaksudkan untuk WNA dan bukan WNI.  Nyatanya dampak PP itu merembet ke semua warga Tionghoa di pedesaan. Tak peduli WNA atau WNI. Ratusan ribu WNA dipulangkan ke RRT (RRC) dan diangkut kapal yang sengaja dikirim oleh Peking (Beijing) ke Jakarta. “Ada sebagian keluarga saya di Bandung, terpaksa meninggalkan Indonesia pergi ke Peking. Mereka tinggal di negara yang sama sekali tak mereka kenal. Keadaan mereka menyedihkan sekali, kelaparan, meninggal dan sebagainya,” kata Houw.

Peristiwa yang mengganggu hubungan RI-RRC itu baru dapat diselesaikan setelah Sukarno bertemu PM Cho En Lai di Jakarta. Kesepakatannya, orang Tionghoa harus memilih: Menjadi WNI atau WNA. Karena tertarik propaganda komunis RRC dan prihatin dengan kejadian di Indonesia, Houw memutuskan memilih menjadi warga negara RRC. Paspor RI miliknya dikembalikan ke kedutaan Indonesia yang waktu itu berada di Praha.

Sejak itulah Houw mendapati nasibnya jelek. Masa itu, hubungan Jerman Timur-RRC memburuk menyusul memburuknya hubungan Uni Soviet-RRC. Dua negara komunis itu berseteru soal komunis yang benar dan komunis yang palsu. Mao Tse Tung menuding Soviet bermain mata dengan kapitalis. Soviet menuduh RRC pengkhianat blok komunis.

Sebagai sekutu Soviet, Jerman Timur karena itu menganggap setiap orang Tionghoa adalah musuh termasuk Houw. Stasi, polisi rahasia Jerman lalu mencurigainya sebagai mata-mata. Waktu itu Houw sudah diploma.

Saat mendaftar menjadi warga RRC, petugas di kedutaan RRC di Berlin memintanya menuliskan nama dalam huruf Tiongkok. “Saya tulis Kwee Hin Houw. Mereka bilang itu bahasa Hokian. Dalam bahasa Mandarin nama saya Xing-hu Kuo. Sejak itu nama saya Xing-hu Hou,” kata Houw.

1,8 Kilometer
Karena namanya berubah, Stasi semakin curiga. Houw sempat diinterogasi berjam-jam karena soal nama itu oleh 39 polisi. “Mereka benar-benar goblok,” kata Houw tertawa.

Kecurigaan Stasi semakin menjadi-jadi saat Houw diterima bekerja di kedutaan RRC di bagian pers. Tugasnya, menyebarkan propaganda dari Peking yang sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman kepada kalangan wartawan, sutradara, cerdik pandai dan sebagainya di Jerman Timur. “Bahasa Jerman saya bukan saja bagus, tapi sempurna,” kata Houw yang juga masih fasih berbahasa Indonesia.

Dari catatan Stasi yang dia baca setelah Jerman Timur bersatu dengan Jerman Barat, Houw tahu, dirinya akan dibunuh lewat skenario penculikan. Lalu  31 Januari 1965, dia diculik, ditahan tanpa pengadilan. Di tahanan Stasi itulah, dia mendapat siksaan: Selnya tembok pengap tanpa jendela, harus berdiri, dan tak boleh tidur.

“Saya dibebaskan 1972. Ketika Jerman bersatu, saya tahu data-data Stasi panjangnya mencapai 1,8 kilometer, dicuri dari puluhan juta orang termasuk saya,” kata Houw.

Jumat depan, Houw akan kembali ke Jerman. Dia kini menggunakan alat bantu pendengaran karena gendang telinganya rusak akibat siksaan Stasi. Empat kali sehari insulin disuntikkan ke lengan kirinya. Membuat urat nadinya menonjol seperti akar pohon. Dia ke Indonesia saat musim dingin melanda Jerman. “Anda tahu pekerjaan wartawan. Opini harus lain dengan berita,” kata Houw.

 

Iklan