Wartawan dan kebohongan adalah dua senyawa yang tidak boleh bersatu. Wartawan adalah profesi yang menuntut kejujuran dan keterusterangan dalam memperoleh dan mempublikasikan berita, dan berbohong adalah perilaku untuk mengelabui atau menutup-nutupi suatu fakta. Wartawan yang berbohong dengan beritanya, karena itu bisa disebut telah melakukan kejahatan terbesar kepada publik.

oleh Rusdi Mathari
DUA hari setelah Janet Leslie Cooke, reporter The Washington Post menerima Pulitzer 1981,  redaksi koran itu akhirnya mengembalikan penghargaan bergengsi untuk karya jurnalistik itu kepada panitia. Sehari sebelumnya koran ternama itu juga menggelar konferensi pers dan meminta maaf secara terbuka kepada publik perihal artikel “Dunia Jimmy” yang ditulis Cooke dan memenangkan Pulitzer. Permintaan maaf yang sama juga ditulis dalam tajuk rencana koran itu.

Redaksi The Washington Post berkepentingan melakukan semua itu, karena “Dunia Jimmy” yang ditulis oleh Cooke ternyata hanya sebuah kisah fiktif  dan  tidak berdasarkan fakta. Dimuat di halaman A1 edisi 29 September 1980, “Dunia Jimmy” mengisahkan seorang anak kulit hitam berusia 8 tahun yang kecanduan heroin. Cooke menggambarkan Jimmy sebagai anak yang  tumbuh di lingkungan kumuh di sudut Washington DC. Jimmy yang putus asa disebut-sebut telah menjadi pecandu heroin sejak barang laknat itu dikenalkan oleh pacar ibunya.

“Jimmy adalah pecandu heroin generasi ketiga. Seorang anak kecil yang dewasa sebelum waktunya dengan rambut berpasir, dan bermata cokelat. Di lengannya yang masih halus seperti kulit bayi penuh dengan bekas tusukan jarum suntik.” Begitulah antara lain, salah satu paragraf artikel Cooke [lihat artikel lengkap “Jimmy’s World”]

Sehari setelah “Dunia Jimmy” dimuat, redaksi The Washington Post menerima banyak telepon dari para pembaca yang simpati kepada Jimmy. Mereka meminta redaksi agar membuka identitas anak itu, dan berharap bisa membantunya dari ketergantungan narkoba atau menyelamatkannya dari mafia obat bius. Pemerintah kota Washington pun,  sibuk mencari alamat si Jimmy tapi alamatnya tetap tidak ditemukan

The Washington Post akan tetapi bergeming untuk tidak membuka identitas Jimmy dan tetap membela Cooke. Desas-desus pun meruap di tengah publik.  Artikel Cooke dicurigai sebagai tulisan fiktif yang tidak berdasarkan fakta. Persoalan menjadi jelas setelah Cooke didesak para redakturnya untuk membeberkan idnetitas Jimmy, sehari setelah dia menerima Pulitzer pada 13 April 1981.

Semula, reporter perempuan berkulit hitam itu bersikeras tapi salah satu redaktur menyodorkan bukti-bukti soal riwayat akademisnya yang penuh manipulasi. Cooke tersudut dan akhirnya mengakui telah mengarang cerita dan sama sekali belum pernah bertemu dengan Jimmy.

Dia lantas mengundurkan diri sebagai wartawan The Washington Post dan sesudahnya menghindari publikasi. Cooke baru muncul 15 tahun kemudian di majalah GQ dan menceritakan kisahnya yang memalukan dunia wartawan itu. Dia antara lain mengaku terpaksa mengarang “Dunia Jimmy” karena redakturnya selalu meminta untuk menghasilkan sesuatu. Wawancaranya itu dibeli TriStar Pictures seharga US 1,5 juta untuk dijadikan skenario film dan Cooke mendapat bagian lebih dari separuhnya.

Di Indonesia, kasus yang serupa “Dunia Jimmy” pernah terjadi di Jawa Pos. Koran itu dua kali memuat tulisan fiktif perihal keluarga dr Azhari, warga negara Malaysia yang sejauh ini disebut-sebut sebagai tersangka teroris. Pertama tulisan berjudul “Kasihan, Warga Tak Berdosa Jadi Korban” (Jawa Pos, 3 Oktober 2005) dan “Istri Doakan Azhari Mati Syahid” (Jawa Pos, 10 November 2005). Dua berita itu dimuat berdasarkan “wawancara” dengan Noraini, istri Azhari.

Sama dengan The Washington Post, redaki koran terbesar di Jawa Timur itu juga menulis permintaan maaf kepada para pembacanya, hampir dua bulan setelah dua berita dimuat. Wartawan yang menulis soal istri  Azhari itu pun dipecat.

Kejahatan Terbesar
Wartawan dan kebohongan adalah dua senyawa yang tidak boleh bersatu. Wartawan adalah profesi yang menuntut kejujuran dan keterusterangan dalam memperoleh dan mempublikasikan berita, dan berbohong adalah perilaku untuk mengelabui atau menutup-nutupi suatu fakta. Wartawan yang berbohong dengan beritanya, karena itu bisa disebut telah melakukan kejahatan terbesar kepada publik.  Lebih dari itu, akibat yang mungkin bisa ditimbulkan dari berita bohong  bisa fatal.

Soalnya sekarang, apa saja yang bisa disebut sebagai kebohongan oleh wartawan?

Jika yang dimaksud adalah sumbernya tidak ada alias fiktif, kasus “Dunia Jimmy” atau dua berita yang pernah dimuat oleh Jawa Pos jelas dengan mudah bisa disebut. Namun perkaranya tentu tidak seserdahana itu. Kebohongan dalam arti yang lebih luas, bisa menjelma dalam bentuk aneka rupa. Kebohongan yang paling sederhana adalah mengubah dateline, atau waktu pemuatan berita.

Perilaku buruk itu, biasanya dilakukan  para pengelola media online atau situs berita yang baku cepat menayangkan berita. Misalnya jika  media online yang satu diketahui telah memuat berita kebakaran beberapa menit atau beberapa detik sebelumnya, maka media online lainnya akan menggeser waktu tayang berita kebakaran itu, menjadi beberapa detik sebelumnya agar seolah-olah telah terlebih dulu memuatnya.

Pembaca yang kurang jeli, tentu tidak akan tahu perkara itu tapi sesekali perhatikanlah jam tayang dari sebuah berita “panas,” yang kali pertama muncul di sebuah  media online sementara media situs berita lainnya belum memuatnya. Lalu lihatlah beberapa menit kemudian, jam tayang berita “panas” di media online yang ketinggalan itu. Seringkali yang tampak, waktu pemuatannya akan ditulis mendahului atau minimal sama dengan media online yang menayangkan lebih awal.

Kebohongan wartawan lainnya adalah apa yang oleh para wartawan sekarang disebut sebagai “kloning.”  Itu adalah istilah untuk menyebut kelakuan wartawan yang saling tukar-menukar catatan liputan. Contohnya, wartawan A suatu waktu berhalangan hadir ke sebuah acara X karena sedang meliput peristiwa Y. Lalu ketika bertemu dengan wartawan B yang kebetulan meliput acara  X, wartawan A meminjam catatan wartawan B untuk dijadikan laporan kepada redakturnya. Sebagai imbalannya, wartawan B juga meminjam catatan wartawan A untuk menulis acara Y.

Lalu simsalabim, dalam waktu relatif singkat kedua wartawan itu kemudian mendapatkan dua berita kendati salah satu acara atau peristiwa itu tidak pernah diliput oleh mereka. Hebatnya lagi ketika berita itu benar-benar dimuat, semuanya menggunakan nama atau kode dari nama masing-masing. Wartawan A menggunakan nama atau kode yang diberikan oleh media tempatnya bekerja, begitu juga wartawan B.

Jangan heran karena itu, jika berita sebuah media yang satu dengan media lainnya, selalu hampir seragam. Pilihan angle, lead, dan kutipan sumbernya, semuanya nyaris tidak ada perbedaan. Ini juga terjadi pada liputan berita televisi di daerah.

Satu Sumber
Para redaktur yang malas, celakanya juga tidak pernah mengecek apakah benar para wartawannya datang di sebuah acara atau peristiwa, atau tidak. Sebagian redaktur itu mungkin malah tahu dan membiarkan hal-hal semacam itu dilakukan para reporternya, karena dulu mereka  juga pernah melakukannya ketika masih menjadi reporter.

Bentuk lain kebohongan wartawan adalah menulis berita berdasarkan keterangan satu sumber, lalu ditulis seolah-olah merupakan hasil reportase si wartawan tanpa menyebutkan sumber asal-usul reportasenya. Seorang penggiat PR yang pernah menangani kasus Adeline Lies, pengusaha yang telanjur dicap sebagai pembalak liar oleh polisi, pernah bercerita bagaimana sebuah media besar pernah melakukan hal-hal semacam itu.

Terlepas apakah Adeline benar sebagai pembalak atau bukan, wartawan yang menulis reportase lapangan tentang HPH Adeline, menurut penggiat PR itu sama sekali tidak pernah datang ke tempat kejadian perkara dan hanya menulis berdasarkan cerita yang dibuat oleh polisi. Benar, kata dia, si wartawan kemudian melakukan pengecekan ke sumber-sumber lain tapi “reportase” wartawan itu tidak berdasarkan fakta yang ditemui lapangan, termasuk nama tempat dan sebagainya.

Berita-berita yang hanya berdasarkan satu sumber dan tidak disertai pengecekan ke sumber-sumber lainnya, bisa pula dikategorikan sebagai kebohongan yang dibuat wartawan. Berita-berita itu biasanya adalah berita-berita kriminal yang hanya bersumber dari polisi.

Seorang maling motor yang ditembak [mati] misalnya, yang menurut polisi mencoba melarikan diri atau berusaha melawan, lalu ditulis hanya menurut keterangan polisi apa adanya tanpa benar-benar dicek ke sumber lain: apa benar si maling berusaha melarikan diri atau mecoba melawan petugas dan karena itu layak ditembak, atau sebaliknya memang sengaja ditembak oleh polisi yang kalap—  jelas telah mengelabui publik untuk tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Bagaimana kalau ada saksi mata yang melihat kejadian itu dan ternyata si maling tidak melakukan apa-apa selain hanya ditembak oleh polisi? Atau katakanlah si maling benar mencoba melawan, lalu apakah polisi bisa dibenarkan misalnya langsung menembak [mati]? Atau benarkah polisi sudah memberikan tembakan peringatan sebelumnya dan bukan sebaliknya justru setelah si maling ditembak [mati]?

Kebohongan wartawan yang lain adalah ketika mencoba mengutip sumber dari media lain tapi tidak mencantumkan nama media yang dikutipnya. Sudah bukan rahasia lagi, banyak redaktur yang karena alasan tidak ada laporan dari reporter, laporan reporter tidak lengkap, atau malas, lalu dengan serta merta mengutip berita dari media online termasuk blog tanpa menyebutkan nama media yang dikutipnya. Dalih mereka, para pembaca  tidak akan pernah tahu asal-usul berita itu dan dianggap akan percaya berita itu dilaporkan oleh reporternya, apalagi jika medianya adalah media yang sudah cukup punya nama besar.

Harus Dilawan
Ketika sebuah media menugaskan wartawannya untuk hanya mewawancarai sumber tertentu yang sesuai dengan kepentingan politik dan bisnis pemilik modal atau kepentingan para bos media, dan menafikan sumber lainnya, itu juga bertendensi membohongi publik. Berita-berita seperti itu biasanya terlihat pada berita-berita pendapat di media cetak. Publik kemudian hanya disuguhi dan digiring untuk percaya pada sebuah “fakta” yang berdasar dari sumber yang dipilih tanpa diberikan “fakta” lain yang mungkin berbeda dari sumber yang berseberangan pendapat.

Pertanyaannya sekarang mengapa wartawan berbohong?

Jawaban pertama, karena sebagian besar di antara mereka hanya tahu dan bangga mengaku sebagai wartawan, tapi sama sekali tidak pernah membaca dan tidak pernah tahu, ada kode etik yang memagari profesi mereka. Aliansi Jurnalis Independen atau AJI pernah menemukan fakta, 85 persen wartawan di Indonesia tidak pernah membaca dan memahami kode etik jurnalistik. Itu artinya sekitar 25 ribu dari 30 ribuan wartawan yang ada, tidak tahu bagaimana proses memperoleh dan menulis berita, dan bersikap sebagai wartawan profesional.

Kedua, karena media kini telah menjadi industri, mirip pabrik tahu. Persaingan ketat antarmedia terutama untuk menjaring iklan dan pembaca [pemirsa] telah menempatkan wartawan sebagai sekrup yang harus bekerja memenuhi target pemilik modal. Konsekuensinya banyak media bukan hanya memperkejakan orang yang tidak layak jadi wartawan tapi sekaligus mengajarkan para wartawannya untuk mengemis ke sumber berita dan menulis berita apa saja, termasuk jika berita itu adalah berita bohong.

Tentu masih banyak wartawan yang bekerja secara professional dan memiliki integritas. Namun apa yang ditulis oleh Farid Gaban di status Facebook-nya, mungkin layak jadi perenungan bagi mereka yang mengaku sebagai wartawan.

Kata Farid, jurnalisme terlalu penting untuk hanya diurus para wartawan saja. Publik perlu mempersenjatai diri dengan pengetahuan bagaimana industri media beroperasi, bagaimana wartawan bekerja, bagaimana kejahatan dan kebohongan media diproduksi. Farid karena itu menyerukan untuk melawan kediktatoran profesi wartawan, terutama tentu saja wartawan yang berbohong dengan beritanya.

Iklan