Berkali-kali Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia dan berkali-kali pula ditolak. Yang terjadi kemudian, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid membawa duplikat trofi Jules Rimet ke Istana Negara untuk diketahui dan disentuh-sentuh oleh tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

oleh Rusdi Mathari
NELSON Mandela benar dengan ucapannya: tidak ada kepentingan yang bisa menyatukan masyarakat dunia, kecuali sepak bola. Dan hari ini, “pesta besar” itu segera akan dimulai di Johannesburg, Afrika Selatan, negara asal Mandela. Negara itu mencatat sejarah sebagai negara Afrika yang menggelar Piala Dunia dan masyarakat dunia akan bergembira.

Selama ratusan tahun, Afrika Selatan, negara di ujung Benua Afrika itu berantakan oleh politik apartheid yang pernah dijalankan sekelompok bule sinting. Manusia di sana dibatasi sistem pembedaan berdasarkan warna kulit. Penduduk pendatang mendiami kota, dan pribumi diharuskan tinggal di luar kota. Kebencian menyebar ke mana-mana.

Tapi itu semua tak menyurutkan dunia sepak bola Afrika Selatan. Sejak terbebas dari politik rasis 1990, tim sepak bola negara itu dua kali masuk final Piala Dunia. Dan kini, Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, menyisihkan Maroko, Mesir, dan Lybia yang juga mengajukan diri sebagai tuan rumah.

Federasi sepak bola dunia FIFA tentu tak sekadar ingin merotasi penyelenggaraan turnamen terbesar di dunia itu ketika para juri di komisi enam tahun yang lalu kemudian memutuskan Afrika Selatan sebagai tuan rumah. Juga bukan karena Afrika Selatan dua kali masuk final Piala Dunia.

Tapi yang lebih penting karena Afrika Selatan dianggap punya kemampuan menyelenggarakan Piala Dunia. Selain memiliki stadion-stadion besar yang memenuhi standar dunia berikut fasilitas pendukungnya (bandara, hotel, bank, restoran, dan sebagainya), juga karena asosiasi sepak bola Afrika Selatan (SAFA) dinilai becus mengurus sepak bola di negaranya.

Kenyataan itu berbeda 180 derajat dengan dunia sepak bola Indonesia dan PSSI-nya. Berkali-kali Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia, tapi berkali-kali pula ditolak. Yang terjadi, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid membawa duplikat trofi Jules Rimet ke Istana Negara untuk diketahui dan disentuh-sentuh oleh tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bambang Haryanto yang menggagas Hari Suporter Nasional 12 Juli menuliskan catatan menarik, sebab musabab sepak bola Indonesia terus terpuruk. Tulisannya itu dimuat di koran Solo Pos.

Mengutip Peter Velappan, di Asiaweek (5 Juni 1998), Bambang antara lain menyebutkan, asal-muasal keterpurukan prestasi sepak bola Indonesia bersumber dari “organisasi persepakbolaannya yang amburadul dan tidak mampu membersihkan borok korupsi yang ada.”

Dalam belitan korupsi itu, sepak bola Indonesia kemudian menjadi teater penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti tapi ujung-ujungnya hanyalah jebloknya prestasi demi prestasi tim nasional di pertandingan internasional. Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, seperti ke Belanda, Argentina dan kini ke Uruguay, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam itu sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Bambang menyebut, kegairahan bangsa Indonesia terhadap sepak bola telah dibajak oleh elite di tubuh PSSI untuk kepentingan bisnis rezim mereka sendiri. Dan karena itu, dia mengharapkan KPK turun tangan membongkar gurita-gurita korupsi dan juga suap di PSSI.

Betulkah dunia sepak bola dan PSSI penuh suap dan praktik korupsi?

Anton Sanjoyo, wartawan olah raga Kompas menulis soal suap dan korupsi di PSSI itu di kolomnya.

Suatu hari Benny Mulyono, pemilik Warna Agung, pernah bertutur tentang pembubaran klubnya. Pengusaha cat itu mengatakan, sejak Warna Agung ikut Galatama, sebenarnya dia tahu pemainnya sudah dikangkangi bandar judi dan penyuap. Tapi karena kecintaanya pada sepak bola, Benny mencoba bertahan dan tetap mengucurkan uang untuk klubnya itu.

“Musim pertama miliaran uang saya dicuri penjudi dan penyuap, saya merem (pejam mata) saja. Musim kedua saya masih merem. Lama-lama saya enggak rela juga uang saya terus dicuri. Saya bubarkan Warna Agung,” ujar Benny.  Begitulah Anton, antara lain menulis.

Ketua Umum Persebaya Surabaya Saleh Ismail Mukadar juga pernah membuat pengakuan soal suap dan korupsi di lingkungan PSSI. Kata dia, turnamen sepak bola yang digelar PSSI penuh dengan suap dan pengaturan hasil pertandingan. Nyaris semua manajer dan wasit pernah melakukan suap dan disuap. Saleh mengibaratkan PSSI sebagai kolam yang kotor.

Pengakuan yang sama juga diungkapkan manajer klub Divisi III Persikapro Probolinggo Jawa Timur, Henky Bambang Widodo. Ketika Probolinggo menjadi tuan rumah pertandingan Divisi III zona Jawa I, Hengky memaparkan ada pembayaran uang sebesar Rp 59 juta kepada wasit dan para pemain.

Dan ini yang celaka Ketua PSSI Nurdin Halid yang pernah dipenjara karena kasus korupsi penyelundupan gula 73ribu ton itu itu menganggap semua tudingan Saleh dan Hengky hanya asumsi.

Selamat menikmati Piala Dunia dan korupsi di PSSI.

Iklan