Utang grup Bhakti Investama sebesar US$ 143 yang dijamin dengan aset MNC termasuk TPI, akan jatuh tempo tahun depan. Bagaimana Harry Tanoe akan membayarnya?

oleh Rusdi Mathari, Agus Triyono
Posisi bos PT Media Citra Nusantara Harry Tanoesoedibjo dianggap terjepit oleh Denny Kailimang, pengacara Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut).

Keinginan Harry Tanoe untuk bertemu dengan Tutut seperti diungkapkan Harry dalam konferensi pers pekan lalu, dianggap Denny sebagai keinginan yang terlambat.

“Dari dulu ke mana saja? Sebagai wakil dari Ibu (Tutut), saya sudah bicara dengan dia (Harry) beberapa kali kok. Jadi tidak perlu lagi ingin, kalau mau ya datang aja ke Mbak Tutut dia terbuka,” kata Denny kepada wartawan beritasatu.com tadi malam.

Ucapan Denny itu, ucapan “pemenang” menyusul tidak berdayanya Harry Tanoe (setidaknya dalam dua pekan terakhir) menghadapi “angin besar” yang kini menghantam buritan bisnisnya.

Bukan saja kini PT Citra Televisi Pendidikan Indonesia atau TPI kembali dikuasai Tutut secara hukum juga de facto, dan sang adik Hartono Tanoesoedibjo dijadikan pesakitan dalam kasus Sisminbakum- tapi saham-saham di bawah bendera grup usahanya juga terus tertekan.

Pekan ini saham PT Bhakti Investama melorot hingga hampir 13 persen dan saham PT Media Nusantara Citra (MNC) terpangkas hingga 21,8 persen. “Turun sangat signifikan,” kata Harry Tanoe.

Turunnya saham-saham grup Bhakti itu, tentu saja merupakan isyarat bagi pelaku pasar keuangan: Harry dan bisnisnya kini memang terjepit, seperti kata Denny itu.

Kemarin Harry menemui Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Fuad Rachmany untuk menjelaskan sengketa TPI meski itu tak membantu cukup banyak mengangkat pergerakan saham MNC.

Hingga penutupan bursa kemarin, saham MNC tak bergerak dari harga Rp 340.

Haruskah Harry mempertahankan TPI jika hal itu justru akan menjadi awal kejatuhan bisnisnya?

Membeli Adam Air
Ada pengakuan menarik dari Yohanes Woworuntu, soal pengambilahan TPI oleh Harry Tanoe, proyek Sisminbakum, dan kemana uang dari Sisminbakum akhirnya dilarikan.

Yohanes adalah Direktur PT Sarana Rekatama Dinamika, salah satu terpidana dalam kasus Sisminbakum yang divonis penjara lima tahun, dan kini berusaha mencari perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, dan meminta Komisi Yudisial memeriksa para hakim di Mahkamah Agung yang memperberat hukumannya menjadi lima tahun.

Kata Yohanes: total kerugian negara akibnat proyek Sismbinbakum adalah Rp 420 miliar. Ke mana uang itu?

Selama delapan tahun, pendapatan kotor dari pelaksanaan Sisminbakum di Kementerian Hukum dan HAM itu mengalir ke kantong PT Sarana Rp378 miliar, yang dimiliki Hartono Tanoe, adik Harry Tanoe itu.

“Yang menentukan semuanya, Hartono Tanoe selaku salah satu komisaris PT Sarana bersama Gerard Yakobus.”

Lalu uang yang masuk ke PT Sarana itu dilarikan ke PT Bhakti Investama untuk menunjang berbagai operasional grup usaha itu.

Antara lain digunakan untuk membeli lahan seluas hampir 100 meter di kawasan Thamrin, untuk pijaman modal surat kabar Seputar Indonesia, membeli apartemen dua lantai di Four Season, dan membiayai maskapai penerbangan Adam Air.

Melalui Global Transport dan Bright Star, Bhakti menguasai 50 persen saham PT Adam Skyconnection Airlines, induk perusahaan Adam Air, maskapai yang sudah terbenam itu.

“PT Sarana itu kaya medadak. Dalam sebulan dapat Rp 30 miliar secara tunai dari keuntungan Sisminbakum,” kata Yohanes.

Harry Tanoe tentu saja membantah semua pengakuan Yohanes, tapi bantahan itu dan juga kedatangannya ke Bapepam kemarin tampaknya tak mengubah keadaan yang terjadi selama dua pekan terakhir.

Dan itu niscaya memang menjadi isyarat buruk bagi Harry Tanoe dan bisnisnya, yang mulai tahun depan harus membayar obligasi yang jatuh tempo US$ 143 juta. Utang itu dijamin dengan aset MNC, termasuk TPI.

Ada yang mengatakan, surat utang itu seharusnya tidak menjadi masalah bagi Harry Tanoe dan MNC karena masih memiliki dana tunai sekitar Rp 1 triliun dan investasi jangka pendek dari Rp 572 miliar. Juga karena MNC mengaku akan menerbitkan surat utang senilai US$ 400 juta.

Tapi apa benar Harry Tanoe cukup punya nyali menerbitkan lagi obligasi, ketika harga saham grup usahanya terus terpangkas, dan pasar keuangan dunia juga mulai “masuk angin”?

“Dulu dia (Harry) memang di atas angin, karena dia megang kekuasaan. Dia pegang akses Sisminbakum,” kata Denny. Sekarang?

*Artikel ini dimuat di beritsatu.com. Artikel terkait “Tutut yang Kembali.”

Iklan