ANTARA/Widodo S. JusufBerkali-kali saya mengetikkan kata kunci “kebaikan SBY” saran dari Google tak berubah: “mungkin maksud Anda adalah: keburukan SBY.”

oleh Rusdi Mathari
Konon, setiap manusia pada dasarnya adalah baik. Begitulah Anne Frank, gadis Yahudi yang mati di kamar gas Nazi pada Perang Dunia II menulis di buku hariannya. Tapi cobalah ketik kata kunci “kebaikan SBY” di Google, dan lihat hasilnya. Kecuali akan menampilkan sederet tulisan atau berita tentang kebaikan SBY, mesin pencari itu juga memberikan saran yang mengejutkan: “mungkin maksud Anda adalah: keburukan SBY.”

Saya merasa aneh, tentu saja. Saran semacam itu biasanya diberikan oleh Google ketika kita salah memasukkan kata kunci, dan Google karena itu memberikan saran untuk kata kunci yang relevan. Tapi berkali-kali saya mengetikkan kata kunci “kebaikan SBY” saran dari Google tak berubah: “mungkin maksud Anda adalah: keburukan SBY.”

Saya lalu memasukkan kata kunci “kebaikan Aburizal Bakrie”, “kebaikan Sri Mulyani”, “kebaikan Prabowo”, “kebaikan Megawati”, “kebaikan Gayus” dan “kebaikan Nurdin Halid”, untuk mengecek apakah Google juga akan memberikan saran untuk kata kunci yang berbeda. Ternyata tidak. Google tak memberikan saran apa pun, dan semua kata kunci untuk nama-nama itu tetap dianggap relevan.

Begitu juga ketika saya mencoba memasukkan kata kunci “keburukan SBY”, “keburukan Aburizal Bakrie”, “keburukan Sri Mulyani”, “keburukan Prabowo”, “keburukan Gayus”, dan “keburukan Nurdin Halid”, yang keluar adala benar “keburukan Aburizal Bakrie”, “keburukan Sri Mulyani”, “keburukan Gayus”, dan “keburukan Nurdin Halid”.

Artinya semua kata kunci yang dengan nama-nama itu dianggap relevan oleh Google.

Keburukan jus
Di mana “keburukan Prabowo”? Google tak menyediakannya, kecuali ada satu jawaban dengan dua kata “keburukan jus”.

Lalu apa yang salah dengan “kebaikan SBY” di Google? Menurut saya, saran dari Google itu tak berhubungan benar dengan kebaikan atau keburukan SBY. Dugaan saya, mesin pencari itu memberikan saran kata kunci “keburukan SBY” ketika kita mengetik “kebaikan SBY”, karena “keburukan SBY” mungkin lebih dulu dan paling banyak diketik di Google ketimbang “kebaikan SBY”.

Pertanyaannya sekarang, mengapa orang lebih banyak dan sering mengetik “keburukan SBY” ketimbang “kebaikan SBY”? Musuh-musuh politik, dan orang-orang yang tidak suka dengan SBY tentu lebih tahu jawabannya. Tapi menurut saya, banyak orang mulai bosan dengan kepemimpinan SBY yang mohon maaf, memang membosankan.

Sebagian orang menyebutnya, bukan saja tidak tegas, melainkan juga karena gaya SBY tidak berubah: jaim alias munafik. Pemimpin yang takut dianggap tidak berwibawa, khawatir dianggap tidak pintar, dan sebagainya.

Dia misalnya mengutuk kekerasan dan pembunuhan di Cikeusik, Pandeglang tapi malah “bermain pantun” dengan kelompok-kelompok yang diduga membuat kekerasan dan melakukan pembunuhan itu. Dulu sekali, di awal kampanye Pemilu 2009, SBY pula yang mengaku akan berjihad memberantas korupsi, tapi menurut Adnan Buyung Nasution, besan SBY justru sering keluar dari tahanan, ketika masih ditahan sebagai terpidana korupsi di Rutan Brimob, Depok. SBY juga pernah berjanji akan memberantas mafia pajak, tapi partainya justru menolak pengusutan pajak melalui hak angket di Senayan, terlepas dari apa pun motif politik orang-orang di Senayan yang mengusung hak angket itu.

Mariza Ozawa
Maka dengan semua gaya SBY yang semacam itu, bukan mengherankan, kalau misalnya, orang kemudian banyak mengetik “keburukan SBY” di Google, dan akhirnya mesin pencari itu memberikan saran kata kunci “keburukan SBY” ketika kita mengetik “kebaikan SBY”.

Ini kali kedua Google mempecundangi SBY. Hampir tiga tahun lalu, bloger Herman Saksono mencoba memasukkan “SBY, Maria Ozawa” di Google Trends. Hasilnya: SBY kalah popular dengan bintang porno Jepang itu [lihat “Popularitas SBY dan Mariza Ozawa” Rusdi GoBlog, 20 Maret 2008].

Padahal pada tahun itu, nama SBY sedang berada di puncak popularitas menurut lembaga survei. Setahun menjelang Pemilu 2009, namanya selalu berada di urutan teratas untuk nama-nama yang paling popular dicari orang Indonesia di internet. Tapi Google Trends membuktikan lain, karena Ozawa bintang porno itu tetap lebih popular.

Well seperti halnya Anne Frank, yang meyakini setiap manusia adalah baik, saya juga masih percaya SBY adalah manusia baik, meski saya juga hanya bisa merasakan, dia pemimpin yang jaim dan munafik.

Iklan