Seorang jenderal mengaku menjadi korban Malinda Dee, tapi jenderal yang lain menolak. Begitu juga yayasan milik orang-orang dekat Soeharto

oleh Rusdi Mathari
Lalu Malinda Dee, kini menjadi isu nasional. Nama perempuan yang bekerja di Citibank itu bisa disamakan dengan Gayus Tambunan: terkenal dan kaya raya.

Dari harta benda Malinda Dee yang disita polisi, antara lain tercatat ada mobil Ferrari F430 Scuderia seharga Rp 7 miliar, Ferrari California [Rp 5 miliar], dan Hummer H3 SUV Luzury [Rp 3,4 miliar]. Kata polisi, Malinda Dee juga memiliki enam apartemen. Anaknya yang bersekolah di Australia, tinggal di apartemen yang dibeli oleh Malinda Dee.

Tapi Malinda Dee yang bekerja selama 22 tahun di Citibank, memang bukan karyawan biasa. Dia salah satu manajer yang dibayar hingga Rp 74 juta sebulan. Itu tak termasuk bonus Rp 250 juta yang diberikan setiap sekali tiga bulan. Artinya penghasilan Malinda Dee, bisa mencapai Rp 1,8 miliar per tahun.

Semula, polisi menyatakan, Malinda Dee menggelapkan dana nasabah Citibank Rp 17 miliar. Belakangan, muncul revisi dari polisi, dana yang diduga digondol Malinda Dee mencapai Rp 20 miliar meski soal jumlah pastinya masih simpang-siur.

Ada yang menyebutkan, dana nasabah Citibank yang dijebol Malinda Dee mencapai Rp 270 miliar. Ada yang percaya, jumlahnya mencapai US$ 100 juta karena jumlah nasabah utama Citibank yang ditangani Malinda Dee mencapai 500 orang. Jika US$ 1 adalah Rp 10 ribu, maka Malinda Dee, paling sedikit membawa kabur dana nasabah Rp 1 triliun.

Sejauh ini, polisi mengaku belum tahu, dari [nasabah] mana saja, uang yang mengalir ke rekening Malinda Dee. Kata polisi, baru tiga nasabah yang menjadi korban Malinda Dee yang melapor ke polisi. Siapa? Polisi tak mau menjelaskan.

Koran Tempo hari ini memberitakan, Irjen Budi Gunawan, Kepala Propam Polri mengaku sebagai salah seorang korban Malinda Dee. Pengakuan Budi tentu mencengangkan, karena inilah pengakuan pertama dari nasabah Malinda Dee. Tapi Budi, mungkin bukan satu-satunya jendera; yang “berurusan” dengan Malinda Dee.

Ayah perwira
Di luar pekerjaannya di Citbank, beberapa media menyebut Malinda Dee menjadi investor di PT Sarwahita Group. Itu adalah holding untuk beberapa perusahaan, termasuk PT Axcomm Infotec Centero, sebuah layanan SMS premium dan penyedia layanan konten. Kantornya di Menara Anugerah, Mega Kuningan, Jakarta Selatan tapi situs sarwahita.com, sudah tidak bisa diakses.

Di Sarwahita, Malinda Dee tercatat sebagai salah satu komisaris. Dan sebuah media lokal di Riau memberitakan, Presiden Komisaris Sarwahita adalah Marsekal Madya TNI, Rio Mendung Thalieb.

Rio kini adalah wakil gubernur Lembaga Ketahanan Nasional atau Lemhanas. Sebelum ke Lemhanas, Rio adalah gubernur Akademi Angkatan Udara. Ayah Malinda Dee adalah juga perwira pensiunan TNI Angkatan Udara.

Melalui Rio, Sarwahita pernah meneken kesepatakan investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel berbahan bakar biofuel dengan kapasitas 20 megawatt di Kabupaten Rokan Hulu, Riau pada 29 Oktober 2010. Tapi Mabes Polri jauh-jauh hari sudah membantah keterlibatan Rio dalam kasus Malinda Dee.

Sarwahita juga memiliki kerjasama dengan Yayasan Damandiri. Yayasan ini diurus oleh Haryono Suyono dan Subiakto Tjakrawerdaja, eks menteri di zaman Soeharto, tapi yayasan itu juga menolak dihubungkan dengan kasus Malinda Dee.

Pertanyaannya adalah, jika benar Malinda Dee menggelapkan dana nasabah Citibank, mengapa para korban tidak ada yang mengaku dan hanya tiga korban yang mau melapor ke polisi [itu pun dirahasiakan oleh polisi]?

Lalu seorang pengusaha berspekulasi, bahwa para nasabah yang menjadi “korban” Malinda memang tidak akan pernah diungkapkan karena secara politis sangat sensitif. Politis?

Itu yang sulit dimengerti. Sama halnya dengan pertanyaan mengapa kasus Malinda Dee lalu tiba-tiba mencuat dan menjadi isu nasional.

Tapi andai spekulasi pengusaha tadi benar, maka berharaplah kasus Malinda Dee hanya akan menjadi isu, atau mungkin cuma menjadi gosip seperti kasus Gayus. Selesai lalu dilupakan orang. Besok atau lusa, entah siapa lagi yang akan menggantikan Malinda dan Gayus menjadi isu nasional.

Iklan