Dik,
Aku tulis surat ini padamu
Karena mengingat perjumpaan kita 12 tahun lalu
Dan sumpahku padamu 11 tahun yang silam
Karena kita bukan siapa-siapa
Dan tak penting menjadi apa

Ya, 11 tahun atau 12 tahun
Itu bukanlah waktu sebentar untuk kita yang terlalu lekas menjadi renta
Tetapi kita telah melewatinya bersama
Meski penuh peluh
Walau dengan lebih banyak lelehan air mata

Hari ini dik,
Aku kembali mengingat hari wadad kita
Hari ketika wajahmu yang sentosa dibebat melati dan pupur doa
Juga rambutmu yang wangi kasturi dan dupa
Lalu, sementara kamu dan aku terkunci
Di ruang kosong zaman yang sombong
Orang-orang berpidato tentang kutukan dan pujian
Tapi benarkah hati  dan masa depan manusia
Punya kuasa hukum dan pengadilan

Masyaallah
Apa kamu ingat dik,
Ketika aku peluk dirimu sembari kuciumi lehermu yang putih
Saat aku melepaskan tali kutangmu kali pertama
Waktu berahiku mengusap payudaramu yang wangi tandan kelapa
Kamu bertanya
“mengapa orang-orang itu merasa memiliki sambil menerkam yang lain?”
Kini setelah 11 tahun atau 12 tahun
Para dubuk itu tetap menyeringai
Melihat orang terisak dan berteduh sejak kemarin sore
Di bawah kardus yang robek

Hidup memang lucu ya dik,
Ketika orang-orang bergegas membeli biskuit dan susu
Dan para petualang bermain kerat kayu
Aku justru tak pernah membawakan apa-apa
Untukmu dan anakmu
Lalu 11 atau 12 tahun lamanya
Kita kemudian selalu bisa menertawakan hidup kita sendiri, terutama
Meski itu selalu dengan lelehan air mata

Ya Allah, dik
11 atau 12 tahun, benar bukan waktu sekejap, ternyata
Aku memang tidak pernah menggandeng tanganmu
Seperti yang selalu kamu minta
Tapi kamu kini tahu
Kita telah selalu melewatinya bersama
Sambil menari dan berputar seolah di sorga
Dan tentu saja, itu lebih penting dari bergandengan tangan

Srengseng Sawah, untuk 8 April

Iklan