Setiap kali satu jari seseorang menunjuk orang lain, empat jari lainnya sebetulnya sedang mengarah kepada dirinya.

oleh Rusdi Mathari
Pada akhirnya saya akan mengenang kata-kata Anas Urbaningrum. Berbicara di sebuah acara di sebuah stasiun televisi, ketua umum Partai Demokrat itu pernah mengajarkan sebuah kebajikan: setiap kali satu jari seseorang menunjuk orang lain, empat jari lainnya sebetulnya sedang mengarah kepada dirinya.

Lalu kini, banyak jari menunjuk ke Anas. Awalnya M. Nazaruddin [yang bersuara entah dari mana] yang mengaku telah ikut membiayai kemenangan Anas menjadi ketua umum Demokrat di Bandung, Mei tahun lalu. Ada miliaran rupiah, kata Nazaruddin yang dia keluarkan dari kas perusahaannya. Sebagian uang itu diterima Anas, sebagian yang lain diberikan kepada Andi Mallarangeng dan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas.

Anas semakin mendapat sorotan karena belakangan, Athiyyah Laila, sang istri juga dituding terlibat sebagai makelar di sejumlah proyek yang digarap oleh beberapa BUMN. Anas dan istrinya membantah tentu saja, tapi suara miring tentangnya mulai menjadi rahasia umum. Dibicarakan di kafe-kafe dan ruang diskusi. Antara lain, ada yang nyinyir bersuara: dulu, ketika menjadi ketua umum HMI bacaan Anas adalah Alquran, sekarang dia lebih banyak membaca rekening bank.

Anas memang bintang Kejora: cerdas, muda, lembut dan tampan. Kesantunan Anas dianggap sama dengan kesantunan Wakil Presiden RI, Boediono. Sebagian orang percaya, dia pantas menjadi kandidat presiden pada Pemilu 2014, atau paling tidak, layak menjadi wakil presiden seperti halnya jabatan Boediono kini.

Di Demokrat, Anas bergabung sejak 2004, usai pemilu; dan tak lama, dia ditunjuk sebagai ketua Fraksi Demokrat di Senayan. Ada yang menyebutnya sebagai “anak baru” yang beruntung, tapi Anas, sekali lagi, adalah bintang Kejora.

Dia hanya butuh waktu enam tahun untuk menjadi ketua umum Demokrat mengalahkan Andi dan Marzuki Alie yang sudah lebih dulu bergabung dengan Demokrat. SBY [ketua pembina Demokrat] yang cenderung mendukung Andi, apa boleh buat harus puas melihat Andi bahkan tersisih dalam pemilihan babak pertama.

Entahlah, apakah SBY kecewa karena harus menelan jargonnya sendiri, proses demokratisasi itu; tapi Anas yang tak didukung SBY juga tahu diri untuk tidak membuat SBY semakin kecewa. Dia karena itu berusaha memperbaiki hubungan dengan SBY. Antara lain menggandeng Ibas, anak bungsu SBY sebagai sekretaris jenderal partai.

“Orang lama”
Cuma celakanya, bintang Anas yang terlihat terlalu cepat bersinar, tampaknya telah memicu situasi tidak nyaman di dalam partai terutama untuk mereka yang merasa sebagai “orang lama” hingga muncul kemudian kasus Nazaruddin. Dan faktor “orang lama” inilah yang barangkali tak disadari Anas.

Lalu ketika kasus Nazaruddin muncul kali pertama di media; bersama Ruhut Sitompul, Benny K Harman, dan sebagainya; Anas selalu terlihat membela Nazaruddin. Dia dan kawan-kawannya itu, terlihat terlalu percaya diri tidak akan menjadi sasaran berikutnya dari kasus Nazaruddin.

Tidakkah, awalnya, Nazaruddin memang hanya menyerang Andi Mallarangeng yang terlibat kasus dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet Sea Games XXVI di Palembang? Dan tidakkah pula, Nazaruddin awalnya juga hanya menyerang Ibas tapi kemudian tidak ada kelanjutannya?

Kini keadaan mulai berbalik: Anas yang membela Nazaruddin, dituding oleh Nazaruddin [dan sebagian prang-orang Demokrat] terlibat dalam politik uang ketika maju sebagai kandidat ketua umum Demokrat di Bandung. Sebuah tuduhan yang sebetulnya melenceng dari kasus Nazaruddin awal: korupsi Pembangunan Wisma Atlet Sea Games XXVI di Palembang. Belakangan nama istri Anas pun, disebut-sebut terlibat kasus Nazaruddin.

Beberapa orang beranggapan, Marzuki Alie berada di balik kasus Nazaruddin ini, terutama karena Nazaruddin mengaku, hanya memberikan uang kepada kubu Anas dan Andi pada waktu kongres di Bandung, dan bukan kepada kubu Marzuki. Marzuki dan kubunya membantah soal ini, tapi laporan terbaru majalah Tempo seperti mengonfirmasi bahwa kubu Marzuki memang diuntungkan dari situasi yang telah meremukkan Demokrat ini.

Pertanyaannya sekarang, mengapa SBY masih “menyimpan” Anas?

Sebagai ketua umum partai, Anas memegang posisi strategis untuk misalnya meneken calon presiden dari Demokrat pada Pemilu 2014. Benar, SBY sudah mengumumkan: dia, anak dan istrinya tidak akan maju pada Pemilu 2014; tapi bagaimana dengan Jenderal Pramono Edhi Wibowo, adik iparnya? Atau Djoko Suyanto, salah seorang kepercayaan SBY?

Dan tampaknya, itulah “harga” yang harus dibayar oleh Anas untuk tetap [sementara] menjadi ketua umum Demokrat. Kalau tidak, karir politik Anas bisa berakhir seperti Akbar Tanjung, seniornya di HMI; tentu dengan semua telunjuk yang mengarah kepadanya sebagai pecundang kendati semua tudingan itu belum tentu benar, atau malah hanya sebuah permainan politik yang kotor.

Setidaknya empat jari dari mereka yang [selalu] menudingnya, sedang mengarah kepada diri mereka sendiri, seperti kata Anas itu.

Iklan