Aku tahu tulisan ini tak akan lagi sampean baca dan sampean kritik. Tapi setidaknya, telah aku tunaikan pesan sampean untuk menuliskan tentang “Bapak 1.000 domba” itu.

oleh Rusdi Mathari
“Rusdi, bila kelak aku meninggal, kenangkanlah dan tuliskanlah: Telah meninggal dunia Bapak 1.000 domba.”

Kira-kira seperti itulah pesan yang disampaikan Mas Syubah Asa kepada saya, sekitar empat atau lima tahun yang silam, ketika pada suatu sore kami berdua menikmati gorengan di kantornya, yang terletak di gang sempit di Tebet, Jakarta Selatan.

Saya bertanya, kenapa harus dikenang sebagai “Bapak 1.000 domba?”

“Karena aku akan memelihara banyak domba di rumahku di Pekalongan. Kambing Rus,” kata Mas Syubah.

Sore, Minggu kemarin Mas Syubah, wartawan senior, yang kepadanya saya banyak berguru tentang banyak hal, meninggal dunia.  Noya, anaknya menuliskan kabar kepergian Mas Syubah di Twitter pukul 16.58 WIB, beberapa jam setelah saya mendapat kabar, Mas Syubah kembali koma.

Saya terisak mendengar kepergian Mas Syubah karena bahkan saya tidak sempat menjenguknya ketika dia terbaring tak berdaya sejak beberapa bulan lalu. Ketika kali pertama mendengar Mas Syubah dirawat di rumah sakit Mei silam, saya dan Mas Bambu [Bambang Bujono] sebetulnya hendak pergi ke Pekalongan untuk melihat dan memberi semangat kepada Mas Syubah.

Juga kemarin itu, beberapa jam sebelum Mas Syubah wafat. Sekitar pukul 11.00 WIB Mas Bambu menelepon saya, dan kami merencanakan pergi ke Pekalongan. “Rus, Mbak Etti ngasih kabar, Mas Syubah koma lagi. Kita ke sana, setelah aku selesai mengecek mesin mobil,” begitulah Mas Bambu mengajak saya, kemarin.

Tapi ajal rupanya terlalu lekas mendahului rencana kami. Selepas Noya menuliskan kabar tentang kematian sang Bapak di Twitter, Mbak Rinda, istri Mas Bambu mengonfirmasikan perihal kematian Mas Syubah. Saya tertegun. Kerongkongan saya seperti tercekat.

Seperti GM
Tak banyak wartawan yang mengenal Mas Syubah, dan saya merasa beruntung termasuk wartawan yang bisa mengenalnya, dan mungkin cukup dekat. Bagi saya, Mas Syubah bukan hanya sosok wartawan yang pintar menulis, tapi lebih dari itu, dia juga guru yang mengajarkan bagaimana saya harus menjadi wartawan yang baik, dan orang tua yang mengajarkan tentang hidup.

Suatu sore sekitar 2001-an, ketika saya bekerja di Pusat Data dan Analisis Tempo atau PDAT, Mas Syubah tiba-tiba masuk ke ruangan PDAT di lantai 2 di Kantor Tempo, di Jalan Proklamasi, Jakarta. Dia menemui Mas Bambu.

Saya yang kebetulan bertempat duduk bersebelahan dengan tempat duduk Mas Bambu, ikut mendengarkan pembicaraan antara dua wartawan senior yang menurut saya, sama-sama lucu, dan saya kagumi itu.

“Jadi Rus, jangan jadi wartawan seperti kami. Apalagi wartawan seperti aku. Kere [miskin]. Kamu harus jadi wartawan seperti Goen [Goenawan Mohamad atau GM] yang sejak muda sudah bercita-cita menjadi wartawan yang kaya. Kaya itu cita-cita Rus,” kata Mas Syubah.

Saya tersenyum mendengar ucapan Mas Syubah. Tapi bukan hanya sekali itu, Mas Syubah [seolah] menyatakan kekagumannya terhadap Mas GM kepada saya.

Suatu pagi, saya pernah mendatangi rumah kontrakan Mas Syubah, di Pejaten, Pasar Minggu, tepat di belakang rumah Mas Bambu, di Jalan Jamblang.

Dia masih tidur. Saya dan Voja, anak saya yang ketika itu berusia dua tahun menunggu di ruang tamu. Di tempat parkir, saya melihat sedan BMW [kalau tidak salah ingat] seri 503. Berdebu dan teronggok dengan empat bannya yang sudah kempes.

“Mobil sampean [anda] Mas,” tanya saya, ketika Mas Syubah tiba-tiba muncul di teras ruang tamu.
“Ya sisa-sisa kejayaan. Ayo masuk Rus,” katanya.

Di kamar kontrakan itu, saya melihat semua serba berantakan. Tempat tidur dengan sprei yang belum dirapikan, buku tergeletak di mana-mana.

“Ini siapa namanya?” Mas Syubah menyapa dan memperhatikan Voja.
“Voja Pak De,” saya mencoba menjawab. Voja memandang Mas Syubah. Lalu katanya, “Kakek…”

Benar, Voja memanggil Mas Syubah kakek. “Hehehe…Kok kakek? Pak De…” kata Mas Syubah.

“Tulung Mas, anakku di-suwuk,” kata saya.
“Sini anakmu,” kata Mas Syubah.

Dia memangku Voja. Dari mulut Mas Syubah lantas keluar suara-suara, doa-doa itu. Dia mengusap kepala Voja dan mencium ubun-ubunnya.

Wis, anakmu pinter, kayak Goen [Sudah, anakmu nanti pandai seperti Goen]” kata dia.
“Loh kok GM lagi sih,” tanya saya.
“Dia itu orang genius Rus,” jawab Mas Syubah.

Suwuk adalah doa-doa yang diberikan oleh orang tua yang dianggap mumpuni dalam ilmu agama untuk mengatasi bayi-bayi yang rewel. Tapi Voja tidak sedang rewel, dan saya hanya meminta Mas Syubah untuk mendoakannya agar anak saya kelak sentosa.

Orang tua saya mengajarkan kepada saya, untuk selalu meminta doa dan harapan kepada guru, atau orang yang dituakan. Siapa pun orangnya. Dan Mas Syubah salah seorang yang saya hormati.

Selain kepada Mas Syubah, setelah itu saya selalu meminta Voja di-suwuk antara lain kepada Mas Sardono W. Kusumo, Mas Danarto, Kiai Hizboel Wathony, dan beberapa kiai di Situbondo. Tapi belum kepada Mas Bambu, dan mungkin juga kepada GM yang dikagumi Mas Syubah itu.

“Kamu itu NU banget Rus,” kata Mas Syubah.

Seperti Aidit
Berasal dari keluarga berada, Mas Syubah lahir Pekalongan pada 21 Desember 1941. Rumahnya di Jalan Keradenan I No. 4, Buaran Pekalongan, cukup besar dan luas. Di rumah Mas Syubah itulah, Gus Dur [Abdurrahman Wahid], pernah mengutarakan keinginannya menjadi presiden RI.

Saat itu, konon ICMI yang baru berdiri sedang mekar-mekarnya. Gus Dur, Cak Nur [Nurcholish Madjid] bersama rombongan beberapa kiai, yang melakukan muhibah, singgah dan menginap di rumah peninggalan orang tua Mas Syubah itu. Selepas waktu Magrib mereka semua terlibat dalam obrolan yang cukup serius.

Mas Bambu bercerita, lalu bertanya Cak Nur kepada Gus Dur.
Sampean [anda] ini sebetulnya mau jadi apa?”
“Ya, Bapak saya kan sudah jadi menteri. Saya mau jadi presiden,” jawab Gus Dur.

Bertahun-tahun kemudian, keinginan Gus Dur benar kesampaian. Dia menjadi presiden RI, meski tak sampai dua tahun.

Mas Syubah memang mengenal banyak orang dan kelompok. Semasa menjadi mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Mas Syubah mengenal WS Rendra dan Bengkel Teater, dan dari sanalah, Mas Syubah mengenal seni peran. Dia aktif pula di Teater Muslim dan tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta, dan aktif .

Di zaman Orba, dia diajak Arifin C. Noer untuk berperan sebagai DN Aidit dalam film Pengkhianatan G-30 S PKI.  Novel yang pernah ditulisnya adalah Cerita di Pagi Cerah.  Dia juga pernah menuliskan ayat-ayat Al Quran menjadi puisi dan menerjemahkan karya klasik Arab ke Bahasa Indonesia. Antara lain Asraful Anam dan Qasidah Barzanji.

“Saya akhirnya bisa kenal dengan ‘Aidit’, yang dulu hanya bisa saya tonton di bioskop,” kata saya, ketika saya kali pertama kenal Mas Syubah, di Kantor Panji Masyarakat, di Kemang, Jakarta Selatan.

“Aku sudah mirip seperti Aidit enggak Rus?”
“Lebih ganteng Aidit, sedikit,” jawab saya.
Mas Syubah tertawa.

Seperti air
Di dunia wartawan, Mas Syubah dikenal sebagai penulis mahir terutama dalam soal-soal agama. Meski kalimat-kalimat yang ditulisnya panjang, tulisan Mas Syubah mudah dipahami. Pengetahuannya tentang agama [dan kewartawanan] memang sangat luas.

Dia tercatat menjadi redaktur Tempo hingga 1987 sebelum akhirnya mendirikan majalah Editor pada tahun 1987. Di zaman reformasi dia menghidupkan majalah yang didirikan oleh Hamka, Panji Masyarakat, meski akhirnya harus tersingkir dari sana.

“Rus, banyak orang mengaku beragama, karena beragama itu memang gampang. Yang susah adalah melaksanakan ajaran agama.”

Suatu hari, ketika sudah keluar dari Panji Masyarakat, Mas Syubah mengajak saya ke sebuah gedung yang tak jauh dari Patung Dirgantara, Pancoran. Saya diajak berkenalan dengan A. Suryana Sudrajat, eks redaktur pelaksana Panji Masyarakat. Di gedung itulah, Mas Syubah menyampaikan, bahwa dirinya dan Suryana berkeinginan menghidupkan kembali Panji Masyarakat, yang ternyata sudah tak terbit setelah Mas Syubah hengkang.

 “Kamu ikut [bergabung]ya Rus,” kata dia.
“Kenapa?”
“Ya karena kita sama-sama tak punya pekerjaan.”

Saya tergelak, dan majalah Panji Masyarakat yang diharapkan bisa dihidupkan kembali oleh Mas Syubah, tak pernah kembali terbit.

Dari Mas Syubah pula, saya mendapat banyak pengetahuan soal bagaimana hidup beragama. Kami sering terlibat diskusi, mulai dari soal ajaran Syiah, Ahmadiyah, dan belakangan soal tasawuf.

“Aku ingin kamu tahu Rus, Islam itu tidak pernah membenci, tapi juga tak pernah meremehkan pengikut dan ajarannya.”

Suatu hari, di Tebet, saya bertanya soal tarekat [tasawuf] kepada Mas Syubah.
“Kamu sekarang menekuni tarekat Rus?”
“Ya Mas,” kata saya.

Lalu dia berpesan, agar saya berhati-hati mendalami dan mempraktikkan ajaran tasawuf. “Kalau tak kuat dan kamu hanya bisa memahami setengah-tengah, akibatnya bagi kamu bisa fatal,” kata dia.

Bagi Mas Syubah, ajaran tasawuf adalah ajaran yang bisa membuka rahasia ulama, nabi dan ketuhanan. Kata dia, hanya orang-orang tertentu yang bisa menjaga rahasia semua itu, dan tidak mengungkapkannya di areal publik. “Islam itu seperti air Rus. Membersihkan dan mendinginkan. Bukan membakar,” kata Mas Syubah.

Seperti LSC
Tapi Mas Syubah yang saya kenal juga sering bercanda. Menumpang Isuzu Panther warna hijau, mobil milik Mas Bambu, kami bertiga pulang dari Kantor Tempo di Jalan Proklamasi. Sewaktu melewati Pancoran menuju Pasar Minggu, Mas Bambu tiba-tiba bersuara.

“Nah di gang itu Rus, dulu ada warung Tegal. Kami sering makan di sana. Kamu tahu, pelayannya ayu. Mas Syubah sering ke sana,” kata Mas Bambu menunjuk sebuah gang di sebelah kanan kami.

Gang itu terletak di sebelah masjid, yang sekarang selalu macet pada setiap Senin malam, karena ada pengajian. Saya tertawa mendengar ucapan Mas Bambu. Mas Syubah menimpali.

“Oh iya ya Bang [panggilan Mas Syubah untuk Mas Bambu], apa masih ada cewek itu ya?” kata Mas Syubah.

Tapi bukan sekali itu saja, saya mendengar pembicaraan tentang perempuan dari Mas Syubah dan Mas Bambu.

Suatu siang, ketika saya berjalan berdua dengan Mas Syubah, dia bilang begini: “Rus, tolong aku dicarikan ‘nenek’.”

Mas Syubah memang menyebut “nenek” untuk kata ganti perempuan, sejak Voja, anak saya memanggilnya “kakek” itu.

“Yang seperti apa?” tanya saya.
Ndak perlu cantik, tapi kira-kira body-nya seperti LSC,” kata dia.
“Mbak Leila maksudnya?” tanya saya.
“Ya. Kamu tahu kan Leila?” tanya Mas Syubah.

Saya terbahak mendengar ucapan Mas Syubah, tapi dia lalu memeluk saya dari samping. “Perempuan kayak Leila itu Rus, menarik,” katanya.

Saya kembali tertawa. Berbulan-bulan, setelah percakapan itu, saya datang ke rumah kontrakan Mas Syubah di Srengsengsawah, di dekat Sungai Ciliwing, tak jauh dari rumah kontrakan saya.

Dia masih bertanya kepada saya, “Rus wis entuk ‘nenek’ gae aku?” [Rus, sudah dapat ‘nenek’ untuk saya?”
“Belum. Susah Mas kalau harus kayak LSC.”
“Kalau begitu, kayak Mardiyah saja,” katanya.

LSC atau Leila yang dimaksud Mas Syubah, adalah Leila S Chudori, wartawan senior Tempo, dan Mardiyah adalah Mardiyah Chamim redaktur pelaksana Tempo. Saya tahu Mas Syubah hanya bercanda.

Seperti mati
Dalam beberapa hal, saya tahu, Mas Syubah kadang bisa menjadi sosok pemberontak. Setidaknya pada dirinya sendiri.

Pernah suatu siang, di rumah kontrakan di Srengsengsawah itu, saya mengingatkan Mas Syubah agar tidak lagi makan sembarangan karena penyakit yang dideritanya. Saat itu dia meminta saya membelikan tongseng kambing. Saya menolak.

“Ndak usah mas. Eling sampean punya penyakit jantung,” kata saya.
“Kamu selalu bilang begitu. Dulu aku kamu larang makan gorengan, sekarang kamu larang makan tongseng,” kata Mas Syubah.
“Ya gimana lagi Mas, sampean sedang sakit,” kata saya.
“Rus, orang sakit yang dilarang makan seperti saya, hidupnya tak enak. Aku ini dianggap seperti orang mati. Sudah Rus, bismillah. Tolong kamu belikan tongseng. Kita makan bareng,” kata dia.

Sejak lima atau enam tahun terakhir, Mas Syubah memang punya masalah dengan jantungnya. Selepas operasi, dia pernah mengeluh kepada saya, tentang betapa menderitanya orang sakit jantung.

“Jalan agak jauh atau naik tangga di Kantor Tempo, napas sudah ngos-ngosan,” katanya.
“Ndak bisa napas atau capek Mas?” tanya saya.
“Napas bisa. Tapi jantung deg-degan kencang,” katanya.
“Kamu berhenti merokok. Aku dulu perokok kayak kamu,” katanya.

Dari Mas Bambu, saya mendengar cerita, Mas Syubah sebetulnya diajak oleh Noya anaknya, untuk tinggal bersama. Tapi Mas Syubah menolak. Dia memilih tetap menjadi wartawan dan bekerja. Belakangan, saya mendengar dia diberi kesempatan membuka kelas menulis untuk para wartawan Tempo, sebelum saya mendengar kabar dia kembali ke Pekalongan.

Berapa kali, kami sempat baku kirim SMS, saling menanyakan kabar. Kadang saya menelepon ke ponselnya. “Aku di Pekalongan Rus. Gimana kabarmu dan Bambu?”

Sejak sore kemarin, dan pagi ini, ketika saya menuliskan semua kenangan saya tentang Mas Syubah, saya kembali terisak. Ada perasaan bersalah dan menyesal. Mas Syubah, benar telah seda [meninggal] dan saya bahkan belum sempat mencium tangan dan meminta maaf kepadanya.

Selamat jalan Mas. Aku tahu tulisan ini tak akan lagi sampean baca dan sampean kritik. Tapi setidaknya, telah aku tunaikan pesan sampean untuk menuliskan tentang “Bapak 1.000 domba” itu. Sepurane ya Mas. Al Fatiha untuk sampean.

*Dengan segala hormat, mohon maaf kepada Mbak Leila S. Chudori dan Mardiyah Chamim.

Iklan