Kesurupan adalah peristiwa luar biasa yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia kebanyakan. Ia bisa merasuki siapa saja, mulai dari anak-anak sekolah, penari Kuda Lumping, hingga para menteri yang was-was tidak bisa lagi menjabat.

oleh Rusdi Mathari
Puluhan pelajar SMA di tiga kota berbeda, diberitakan kesurupan pada hari yang sama, Kamis pekan lalu. Di SMA Negeri 2 Sinjai Utara, Sulawesi Selatan, belasan siswi berteriak-teriak di halaman sekolah. Sebagian dari mereka jatuh pingsan, akhirnya.

Di Pasuruan, Jawa Timur, belasan pelajar SMA Negeri 2 menceracau saat menjelang siang. Upaya sekolah dengan mendatangkan paranormal, tak sanggup memulihkan para pelajar yang bertingkah aneh dan mengoceh tidak keruan itu.

Malam harinya, giliran dua pelajar SMK Pelayaran Wira Samudra, Semarang, Jawa Tengah, yang kerasukan, entah oleh apa. Keduanya menjerit histeris saat mengikuti acara tahlilan yang diadakan pihak sekolah. Kesurupan itu berlanjut keesokan harinya dan lebih masif, karena belasan pelajar dikabarkan kalap.

Kejadian yang kurang lebih serupa, juga terjadi SMA Negeri 1 Panarukan, Situbondo, Jawa Timur sekitar tiga bulan silam. Lebih dari 10 pelajar di sekolah itu tidak sadar tiba-tiba, dan meronta tanpa bisa dikendalikan. Sebagian bisa dipulihkan kesadarannya di sekolah, yang lain di diserahkan ke orang tua masing-masing dalam keadaan tidak sadar.

Kesurupan adalah peristiwa luar biasa yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia kebanyakan. Kejadian semacam itu juga tidak setiap saat bisa dijumpai. Cara paling gampang mengenali orang yang kesurupan atau kerasukan: menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional seperti atraksi Kuda Lumping, Debus, atau Tari Kecak. Mereka yang terlibat dalam atraksi itu, sengaja “disulap” menjadi tidak sadar dan bisa menanggung rasa sakit.

Pada pertunjukan Kuda Lumping misalnya, para penari dibuat sedemikian rupa sehingga hanya bisa berputar-putar. Mereka juga sanggup mengunyah beling atau serabut kelapa. Aksi mereka diiringi tetabuhan yang nadanya seolah meminta kematian. Penonton jarang ada yang berani mendekat karena entah sejak kapan, penari Kuda Lumping yang seolah tak sadar itu dianggap bisa menularkan kesurupan. Menimbulkan bala, katanya.

Pada kasus kesurupan pelajar SMA di berbagai kota dan daerah itu, belum jelas benar, bagaimana atau mengapa mereka bisa tidak sadar dan mengalami kesurupan. Peristiwa semacam itupun, sebetulnya sudah berulang-ulang terjadi dan cukup sering diberitakan.

Media menyebutnya kesurupan massal. Entah apa maksudnya. Tapi benarkah hanya mereka yang kesurupan?

Teori Darwin dan Freddy
Di hari yang sama dengan kejadian ketika para pelajar SMA itu kesurupan, di Jakarta dua kelompok massa terlibat bentrok di depan Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, hanya karena mempersoalkan pantas-tidaknya Darwin Zahedy Saleh dipertahankan sebagai menteri. Kelompok yang menolak Darwin berteriak, Pak Menteri tidak layak dipertahankan karena tidak bisa bekerja. Dinilai gagal membenahi dan mengembangkan sektor energi untuk kepentingan nasional. Keburukan pribadi Darwin pun, lantas diumbar di tengah jalan.

Sementara kelompok yang membela Darwin berdalih, Pak Menteri dari Partai Demokrat [partai berkuasa “milik” SBY] itu sudah berbuat maksimal untuk kepentingan nasional. Mereka juga menggelar pertemuan dengan wartawan di sebuah restoran mahal di Senayan, dan menjelaskan, Darwin adalah menteri yang baik. Sosok yang saleh, kata mereka.

Tidak lupa, mereka melontarkan tudingan, Menko Perekonomian, Hatta Rajasa berada di balik upaya pencopotan Darwin sebagai menteri. Kata mereka, Hatta bersekongkol dengan Chairul Tanjung [bos besar Bank Mega dan Trans Corp.] agar Karen Agustiawan, menggantikan Darwin. Karen adalah direktur utama Pertamina.

Tidak ada pernyataan dari pihak Darwin, siapa orang-orang yang terlibat bentrokan di depan kantornya itu. Tidak pula ada bantahan dari Hatta dan Chairul Tajung. Darwin pun tidak bersuara, soal perombakan kabinet yang kali ini, kabarnya benar akan dilakukan oleh SBY pada awal bulan ini.

Suara yang agak berbeda, justru keluar dari sejawat Darwin di kabinet, yaitu dari Freddy Numberi, Menteri Perhubungan. Pensiunan jenderal itu sesumbar, dirinya tidak mungkin didepak oleh SBY dari kabinet karena dua hal: sebagai kader Demokrat, dan orang Papua. Pak Menteri yang satu ini rupanya yakin, dua faktor itu adalah kunci SBY menunjuknya sebagai menteri.

Dua kelompok yang terlibat bentrok untuk isu Darwin, Freddy dan juga Darwin, tentu saja tidak mengalami kesurupan seperti yang terjadi pada puluhan pelajar SMA di berbagai kota pekan lalu itu. Mereka juga bukan pemain Debus dari Banten, atau penari Kuda Lumping dan Tari Kecak yang sengaja dibuat untuk tidak sadar. Namun sulit untuk tidak mengatakan, pernyataan dan tingkah laku mereka, mirip orang-orang yang kesurupan.

Mereka lupa, jabatan hanya amanat yang berhubungan dengan kepercayaan publik. Boediono, Wakil Presiden itu menyebutnya sebagai sesuatu dedikasi kepada bangsa dan negara. Sebuah pengabdian dan bukan soal kepentingan sendiri. Tak sepantasnya karena itu, jabatan dianggap sebagai sesuatu yang unggul dan penting, kemudian dipertahankan dengan alasan apa pun apalagi hingga mengerahkan massa, atau dalil asal-usul etnis dan sebagainya.

Tapi tentu saja, bukan hanya Freddy dan Darwin yang kini dilanda “kesurupan” jabatan dan kekuasaan. Apa yang terjadi pekan lalu di depan kantor Darwin dan pernyataan Freddy itu, hanya gambaran yang sesungguhnya dari watak sebagian besar para elite di negara ini, yang hanya merasa lebih hebat bila berkuasa dan memiliki jabatan. Mereka berburu kekuasaan dengan aneka cara, termasuk [jika mungkin] dengan bertingkah mirip orang yang kesurupan. Mereka hanya siap memangku jabatan dan kekuasaan tapi tidak punya kerelaan untuk meletakkannya kembali.

Lalu kalau sudah begitu, betulkah hanya puluhan pelajar SMA di Sinjai Utara, Pasuruan, Semarang dan Situbondo itu yang mengalami kesurupan massal? Mereka, para pelajar yang pekan lalu kesurupan dan kini sudah sadar itu, barangkali bisa ditanya meskipun belum tentu mereka bisa menjawab.

Iklan