Setiap 17 Oktober, dunia selalu memperingati hari kemiskinan. Tapi negara-negara kaya dan orang-orang kaya itu juga semakin banyak yang lupa: orang miskin di dunia terus bertambah.

oleh Rusdi Mathari
Mereka mempunyai lebih banyak uang. Kata-kata dari Ernest Hemingway, sastrawan Amerika Serikat itulah yang kelihatannya mengilhami Jeffrey Sachs untuk mengimbau negara-negara kaya segera merealisasikan janji mereka membantu negara-negara miskin. Melalui PBB, ekonom lulusan Universitas Harvard itu pernah mengeluarkan “rencana praktis” untuk mewujudkan program PBB yang diberi nama “The Millennium Development Goals.”

Lebih dari sembilan tahun lalu, program yang dibuat untuk mengatasi persoalan kemiskinan di dunia itu disetujui oleh semua pemerintahan negara anggota PBB. Mereka berkumpul di Gedung PBB, New York, Amerika Serikat, dan menyepakati untuk memulai perang terhadap kemiskinan absolut, dan praktik-praktik dehumanisasi. Mereka lalu menetapkan The Millennium Development Goals yang berisi delapan program.

Intinya, lewat PBB mereka akan mendorong mengurangi kemiskinan absolut dan kelaparan di banyak negara, memberantas penyakit epidemi, peningkatan kesehatan ibu dana anak, mengatasi penurunan kualitas lingkungan dan membangun hubungan yang lebih baik antara negara-negara miskin dan negara-negara kaya, dan seterusnya.

Itulah program yang sebetulnya merupakan kritik terhadap kegagalan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional [IMF] memberdayakan banyak negara miskin. Awalnya setelah Perang Dunia II, dua lembaga ini punya tugas membantu pembangunan negara-negara terbelakang. Bank Dunia kebagian mengucurkan dana pinjaman berbunga rendah bagi proyek-proyek pembangunan di berbagai negara untuk memajukan ekonominya, sedangkan IMF memberikan pinjaman bagi negara-negara yang mengalami kesulitan dalam neraca pembayaran luar negerinya dan GATT [sekarang WTO] berfungsi untuk mengatur perdagangan global.

Tetapi setelah lebih dari separuh abad, ketiga lembaga tersebut gagal menjalankan fungsinya: kemiskinan makin bertambah. Fakta menunjukkan, secara absolut, jumlah kemiskinan terus membubung jumlahnya. Jika pada 1978, penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan sekitar 800 juta jiwa, saat ini angkanya diperkirakan sudah mencapai sekitar 1,3 miliar jiwa dari total penduduk dunia yang berjumlah 6,7 miliar. Tujuh puluh persen dari mereka hidup di pedesaan dan mengandalkan sumber penghidupannya dari sektor pertanian. Sekitar 900 jutaan dari mereka, hidup kelaparan.

Karena kemiskinan itu, 100 juta anak-anak usia sekolah dasar tidak dapat menikmati sekolah. Sebagian dari mereka yaitu 29 ribu anak, mati setiap hari karena penyakit dan kurang gizi. Ratusan juta keluarga miskin terutama perempuan tidak pernah mendapatkan akses pelayanan jasa kesehatan dan keuangan.

Di Indonesia jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan itu ada sekitar 31 jutaan atau sekitar 18 persen dari total penduduk. Jumlah itu masih lebih besar dibandingkan jumlah seluruh penduduk Malaysia yang 28 jutaan, atau mencapai separuh dari jumlah penduduk Thailand.

Bukan endemik
Kofin Annan, ketika masih menjabat sekjen PBB merespons anjuran Sachs dengan membentuk tim ahli yang terdiri dari 256 tenaga ahli dari berbagai negara. Sachs ditunjuk sebagai ketua tim. Tugasnya merumuskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh dunia untuk mengurangi kemiskinan, kelaparan, tiadanya tempat belajar dan perumahan.

Targetnya, pada 2015 nanti, sekitar 500 juta orang di dunia sudah akan terbebas dari kemiskinan, 250 juta lainnya tak akan lagi kelaparan, dan 30 juta anak-anak yang tak punya tempat tinggal akan memiliki tempat berteduh yang permanen.

Masalahnya, sampai sekarang janji itu hanya tinggal janji. Sachs bersama timnya, karena itu lalu menagih janji kepada negara-negara kaya dan menyodorkan “rencana praktis” mewujudkan The Millennium Development Goals. Menurut Sachs, negara-negara kaya seharusnya mempunyai dedikasi merealisasi komitmen mereka untuk paling tidak menyumbang 0,5 persen dari produk domestik bruto [GDP] negara masing-masing atau kombinasi GDP di antara mereka.

Angka yang disodorkan Sachs memang dua kali lebih besar dibanding yang ditawarkan oleh negara-negara kaya itu sendiri. Namun angka itu masih jauh lebih kecil 0,7 persen dari yang dijanjikan oleh negara-negara maju, sembilan tahun lalu. Sachs bahkan maju dengan usulan yang lebih konkret. Antara lain dengan mengajukan pemotongan minimum dari seluruh negara kaya, termasuk untuk Jepang dan Jerman, yang menginginkan menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Sachs punya alasan, tentu saja. Bagi dia, sudah cukup negara-negara kaya itu selalu mengulur-ulur janji mereka. Lantas ketika bencana tsunami melanda sejumlah negara di garis pantai Samudra India dan dunia memberi respons bencana itu dengan cepat, Sachs kembali mengingatkan komitmen yang pernah di buat di PBB. “Belas kasihan tidaklah endemik,” katanya.

Hingga saat Sach mengimbau itu, baru pemerintah Inggris yang merespons seruan PBB itu. Inggris setidaknya telah membentuk satu komisi khusus untuk Afrika yang diharapkan bisa mengucurkan bantuan miliaran dolar. Orang-orang di Downing Street berpendapat, Afrika membutuhkan semacam Marshall Plan untuk mengatasi kemiskinannya. London karena itu akan menawarkan bantuan berupa pinjaman lunak, seperti yang pernah diberikan Amerika kepada Eropa usai Perang Dunia II.

Penolakan untuk mengurangi angka kemiskinan di negara-negara miskin itu, jelas ada. Beberapa ekonom bahkan meragukan keefektifan program PBB tersebut dan sebaliknya malah memandang program itu sebagai “penghamburan uang”.

Kata mereka, mungkin memang benar apa yang dikatakan Ernest Hemingway, mereka [negara-negara kaya] memang lebih memiliki banyak uang. Namun menurut mereka, semua itu dicapai dengan kerja keras, sistem yang baik, pengakuan hak investor yang aman dan dijamin undang-undang, serta penghematan sekian lama.

Kenyataan itu, kata para ekonom itu, berbeda dengan yang terjadi di negara-negara miskin. Tuan tanah feodal terus memelihara petani miskin agar tetap miskin, uang hanya berputar atau mengarah pada bank-bank pemerintah, perusahaan tak produktif karena banyaknya pungli dan sebagainya. Negara-negara miskin itu, mungkin memang layak diberi bantuan tapi mestinya kemakmuran memang tidak datang tiba-tiba. “Anda tak bisa membeli mereka.”

Akan tetapi Sachs membantah jalan berpikir sebagian ekonom barat itu. Menurutnya, pendapat itu hanya hasil diagnosis baku yang menyederhanakan persoalan. Dalam beberapa hal, memang benar bahwa banyak pemimpin negara atau penguasa yang brutal yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Namun lebih banyak lagi pemerintahan yang bermaksud baik. Masalahnya, kata Sachs, mereka hanya kekurangan sumber daya untuk melaksanakan fungsi mereka dengan baik.

Sachs mungkin memang naif. Namun semakin saja banyak orang yang kelaparan justru di saat sebagian orang kekenyangan. Lalu mengapa anak-anak itu mati akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah?

“Mestinya mereka tidak mengalami itu semua,” kata Sachs.

Dan dunia yang kaya seharusnya juga mengatakan tidak melihat kenyataan memalukan seperti itu, dan bukan hanya terus berjanji.

Tulisan ini dimuat di beritasatu.com

Iklan