Phil Harvey menjual aneka alat bantu seks, lalu hasilnya disumbangkan kepada kaum paria di negara miskin termasuk Indonesia. Tapi mereka yang merasa paling taat beragama dan berbakti kepada Tuhan mencela dan memberi julukan kepada Harvey sebagai “pabrik kelamin”.

oleh Rusdi Mathari
KETIKA para pengambil keputusan di banyak negara sibuk berdebat dan terus berjanji untuk mengurangi kemiskinan di negara-negara miskin, Phil Harvey sudah lebih dulu bederma dengan caranya sendiri. Lewat Adam & Eve, perusahaan miliknya, dia memproduksi berbagai alat bantu seks, memproduksi film dan kartun porno lalu hasilnya disumbangkan ke banyak negara miskin.

Di negara-negara miskin itu, selain membagi-bagikan jutaan kondom, IUD, pil KB dan alat kontrasepsi yang lain, Harvey juga berkampanye tentang pentingnya berhubungan seks secara aman. Apa yang dilakukan Harvey kemudian menempatkannya sebagai tokoh dermawan baru yang menyihir jutaan perempuan di seluruh dunia.

Publik Amerika Serikat mengenalnya sebagai orang yang memperjuangkan kebebasan hak-hak sipil untuk berusaha dan berbicara tentang alat-alat seks. Kampanyenya tentang penggunaan kontrasepsi di negara-negara miskin yang bersifat filantropi telah menciptakan hubungan baru antara mereka yang ingin bederma sambil bersuka ria, dengan alat-alat bantu seks buatan Adam & Eve yang diproduksi di “markas besar” di pinggiran Carolina Utara.

Niscaya cara Harvey berderma adalah kontroversial bagi sebagian orang. Tidak populer bagi mereka yang menganggap dirinya bersih dan orang suci. Inisiatifnya telah ditentang oleh kaum agamawan. Di negaranya, Amerika, beberapa tokoh gereja menolak keberadaan Adam & Eve dan menganggap perusahaan itu hanya sebagai “pabrik kelamin” yang memproduksi barang yang tak pantas.

Di masa pemerintahan Ronald Reagan, Departemen Kehakiman Amerika mempersoalkan bisnisnya selama delapan tahun sejak 1980. Pada 1986, kantor Harvey di Hillsborough diserbu ratusan polisi dan jaksa. Ratusan karyawannya diburu oleh petugas federal dari FBI, sherif, dan kantor pos. Mereka yang ditahan digiring ke sebuah gudang dan dipisahkan antara manajer dan pekerja biasa. Pengacara perusahaan yang akan mendampingi mereka ditolak.

“Mereka memperlakukan kami seperti penjahat dan kami bahkan tidak boleh menggunakan telepon, tidak bisa menyentuh komputer,” kata David Groves, Wakil Presiden Phil Harvey Enterprises, Inc. induk dari Adam & Eve.

Harvey melawan. Dalam satu persidangan [Maret 1987], para juri hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk mencapai kesepakatan: Harvey tidak bersalah untuk tuduhan menyebarkan dan menawarkan perbuatan cabul. Dia divonis bebas.

Tentang perlawanannya itu, Harvey menulis dalam buku “Pemerintah Vs Erotis” bahwa yang dia lakukan lewat Adam & Eve bukan sesuatu yang bertentangan dengan undang-undang dan atau bisa menimbulkan konflik. “Aku bangga dengan apa yang aku jual karena aku menjual produk yang menyediakan pendidikan dan kesenangan seksual,” kata Harvey, jebolan Universitas Carolina Utara.

Robin Hood
Harvey tentu saja bukan Robin Hood, tapi banyak media menyebut kedermawanannya mirip dengan tokoh cerita dari Inggris itu. Namanya mentereng di banyak negara miskin. Dibahas oleh banyak media seperti oleh the Economist, Mother Jones, Alter Net, Author Views, dan Reason.com.

Sebagai salah satu perusahaan yang menguasai pasar seks shop dan penjualan alat-alat kontrasepsi dunia, pendapatan yang masuk ke kas Adam & Eve cukup besar. Di majalah the Economist [edisi 3 Oktober 2004] pernah ditulis: hingga tahun itu uang yang mengalir ke kas Adam & Eve ditaksir mencapai US$ 10 miliar. Pada 2009 menurut majalah BusinessWeek, hasil penjualan dari Adam & Eve mencapai US$ 90 juta. Tahun lalu, sebanyak 1,5 miliar pelanggan di seluruh dicatat telah membelanjakan US$ 66 juta untuk produk Adam & Eve.

Sebagian dari pendapatan itu [sebanyak US$ 2 juta] disisihkan Harvey untuk membiayai DKT Internasional—lembaga nirlaba yang didirikan pada 1989 dengan tujuan untuk membagi-bagikan kondom, pil dan alat KB lainnya ke sejumlah negara termiskin di dunia. Lembaga itu juga menyebarkan sekitar setengah miliar kondom dan ratusan juta alat kontrasepsi oral senilai US$ 31 juta di 11 negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin

Lalu di Awasa, kota di Ethiopia yang terletak di selatan, orang bisa melihat papan reklame tentang pentingnya seks yang sehat, yang dibangun Harvey. Di rumah-rumah bordil di Vietnam, India, Bangladesh, Filipina dan Indonesia, bantuan Harvey berwujud pembagian kondom dan alat-alat KB dengan harga murah. “Gagasan ini untuk membantu perempuan yang selama ini selalu menjadi korban seksual,” kata Harvey, pria botak kelahiran 1938.

Kini, Adam & Eve, juga Phil Harvey Enterprises, Inc. dan DKT telah diidentikkan sebagai salah satu ikon pencegahan penularan HIV/AIDS. Jumlah pelanggan Adam & Eve terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 pelanggan atau pengguna produk dari Adam & Eve mencapai 4 juta orang. Sepertiga dari pelanggan itu adalah kaum perempuan dan tahun ini jumlah pelanggan itu sudah mencapai puluhan juta orang, dan terus bertambah.

Karena kedermawanannya, Harvey kemudian menjadi orang bebas yang bisa pergi ke mana saja justru ketika orang lain tak mampu melakukannya. Sekitar 21 tahun lalu ketika pemerintah Amerika mengembargo pengiriman kondom ke Haiti, Harvey justru tetap melakukannya dan melanglang buana di salah satu negara paling miskin di jantung Amerika Latin itu. Di Ethiopia, DKT disambut gembira oleh kalangan militer karena menjual berjuta-juta kondom seharga satu sen dolar.

Hasilnya Ethiopia mampu menekan angka pengidap HIV/AIDS terutama di kalangan militer. Hingga sekarang militer Ethiopia termasuk yang paling sedikit memiliki personel yang mengidap HIV/AIDS yaitu sekitar 5 persen dari jumlah tentara secara keseluruhan. Sementara para serdadu yang mengidap HIV/AIDS di negara-negara Afrika lainnya bisa mencapai 30-40 persen.

Kondom, kondom…
Di Indonesia, produk DKT dikenal dengan kondom merek Sutra dan Fiesta. Dua kondom itu tidak secara langsung dibuat oleh DKT, yang ongkos pembuatannya sebagian disubsidi oleh DKT Internasional lewat DKT Indonesia. Selain Sutra dan Fiesta, DKT juga ikut membiayai pembuatan alat-alat kontrasepsi lainnya dan aktif menjadi sponsor kampanye pencegahan HIV/AIDS juga pada tahun ini.

Masuk ke Indonesia sejak 1996, sasaran DKT semula hanya mencakup kampanye tentang kesehatan reproduksi. Program itu lalu diperluas tak hanya untuk kesadaran ikut KB melainkan juga untuk pencegahan penyakit menular termasuk HIV/AIDS. Sasarannya adalah mereka yang berusia 18-39 tahun, terutama dari kelompok ekonomi lemah dan ratusan kompleks pelacuran dari Sabang-Merauke.

Kalau ada kegagalan dari program DKT dalam memasarkan kondom di Indonesia, hal itu tidak lain disebabkan oleh stigma masyarakat yang masih kuat tentang kondom bahkan termasuk oleh mereka yang gemar dengan pola seks bebas. Bahkan di banyak rumah bordil di Indonesia, pengguna kondom baru mencapai 7-8 persen dari seluruh lelaki hidung belang yang datang.

Statistik DKT Indonesia menunjukkan, tingkat penjualan kondom di Indonesia baru mencapai enam kali lipat sejak 1996. Jumlahnya sekitar 786 juta kondom. Itu adalah angka penjualan yang dinilai masih terlalu sedikit terutama jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang sudah mengenal atau aktif dengan seks.

Harvey memulai usahanya sejak 1969 selepas menjalani wajib militer di Angkatan Darat Amerika Serikat. Dia kemudian menjadi relawan dari sebuah lembaga yang berkonsentrasi dalam pendidikan pra sekolah di India. Di negara itulah Harvey menemukan banyak persoalan sosial terutama menyangkut reproduksi dan KB.

Ketika kembali ke Amerika pada tahun berikutnya, Harvey bersama Tim Black [seorang dokter dari Inggris] memulai usaha penjualan kondom lewat kiriman pos. Usaha itu lantas terus berkembang dan menjadi evolusi dari bisnis produk seks dan sebagian dari keuntungannya digunakan untuk mendirikan Pelayanan Populasi Internasional di 70 negara.

Harvey keluar dari lembaga itu pada 2003 menyusul semakin meningkatnya campur tangan pemerintah Amerika. Sebelum itu bersama Tim Black pula, pada 1989 Harvey mendirikan DKT. Lima tahun kemudian, DKT mendapat mandat dari konferensi internasional kependudukan dan pembangunan di Kairo, Mesir untuk membantu pencegahan penyakit menular di negara-negara miskin. Selain Indonesia, ada delapan negara yang menjadi sasaran DKT, yaitu Ethiopia, Cina, India, Malaysia, Filipina, Vietnam, Meksiko, dan Brasil.

Di negara-negara itu, program DKT bisa dibilang cukup berhasil diterima oleh masyarakat. Sampai tahun lalu, diperkirakan ada sekitar belasan juta pasangan yang diyakinkan DKT untuk mengatur tingkat kelahiran. Hasilnya sekitar 2 juta kehamilan yang tak diinginkan bisa dicegah atau diperkecil jumlahnya, dan sebanyak 152 ribu kaum ibu dan balita dihindarkan dari kematian setiap hari.

Benar, Harvey telah mengubah dunia yang kelam menjadi lebih sedikit terang, meski dia terus dicela oleh mereka yang merasa paling berbakti kepada agama dan Tuhan. Rencana besar Harvey yang belum terwujud adalah memulai usaha kampanye anti perdagangan dan penggunaan obat bius. Dia berpendapat, ancaman yang ditimbulkan dari perdagangan dan penggunaan obat bius jauh lebih berbahaya ketimbang ancaman teroris.

Iklan