Kematian Masnin, kakek pedagang cendol di Situbondo yang bunuh diri karena tak mampu berobat adalah protes terhadap keadaan, meski dia sendiri mungkin tidak pernah tahu, memprotes kepada siapa dan untuk apa.

oleh Rusdi Mathari
Matahari masih terik di Tanjung Glugur, Situbondo, ketika Masnin yang kesepian, pekan lalu mengendap-endap di kebun pisang di belakang rumahnya. Di tangannya terhunus pisau dapur, lalu crat… dia menusukkan pisau itu tepat di lehernya. Darah kental membasahi dadanya. Sejenak, terdengar suara dari mulutnya, sebelum akhirnya sepi.

Beberapa saat, ketika anaknya menemukan tubuh Masnin tertelungkup di antara pohon-pohon pisang , pria berusia 70 tahun itu sudah tidak tertolong. Nyawanya sudah melesat. Di lehernya terbentuk sebuah garis menganga.

Tidak ada wasiat yang ditulis oleh Masnin. Kepada polisi, sang anak hanya bercerita, bapaknya putus asa karena tak sanggup berjualan cendol lagi setelah didera penyakit bertahun-tahun dan tak kunjung sembuh.

Kemiskinan, kata sebagian orang lebih mendekatkan seseorang kepada pengingkaran. Tapi Masnin yang bunuh diri karena putus asa tak mampu berobat, mungkin tak pernah mengerti kata-kata bagus yang selalu keluar dari para pengkhotbah itu. Semasa hidup, yang dia tahu, harga-harga kebutuhan hidup terus tak terjangkau oleh dirinya yang hanya berkeliling berjualan cendol. Tidak pula untuk harga-harga obat dan ongkos untuk diperiksa oleh dokter atau biaya untuk dirawat di rumah sakit.

Kematiannya karena itu bukan sekadar soal bunuh diri yang oleh sebagian orang dianggap sebagai perbuatan dosa. Ia adalah sebuah protes meski Masnin sendiri tidak pernah tahu, memprotes kepada siapa dan untuk apa. Dan Masnin, nyatanya memang memilih untuk membisu ketika memilih jalan untuk mati di kebun pisang. Tidak seperti dengan Sukardal, tukang becak yang sempat menuliskan kata-kata protes dan makian sebelum gantung diri di pohon tanjung, setelah becaknya dirampas oleh orang-orang berseragam dari Pemda Kota Bandung, bertahun-tahun yang silam.

Tapi apa bedanya, mati bunuh diri dengan jalan sepi seperti yang dipilih oleh Masnin dan yang menjerit lantang seperti Sukardal, bila pesan yang hendak disampaikan adalah sama: sebuah protes pada ketidakberdayaan yang sebetulnya bisa dicegah?

Itu berbeda dengan para samurai yang bunuh diri karena musuh mulai jelas tak terkalahkan, dan para shogun tuan mereka telah memilih melarikan diri ke alam baka. Tak akan ada yang menyesali mereka, atau menyesali siapa pun berkaitan dengan bunuh diri itu. Juga, tak ada apa pun yang mereka protes. Mereka mengakhiri hidup untuk diri sendiri.

Tentu saja, kematian Masnin dan juga Sukardal tidak pernah mengubah keadaan. Sebelum dan setelah kematian mereka, orang-orang yang bunuh diri karena miskin, nyatanya tidak semakin berkurang jumlahnya dan bahkan terus bertambah.

Dengarlah kemudian rintihan Tugiyah pada sebuah subuh yang dingin. Dari dalam sumur di sebuah tempat di Gunung Kidul, Yogyakarta, perempuan itu meminta dibiarkan mati tenggelam di liang sedalam 18 meter ketika para tetangganya berusaha mengangkatnya. Beberapa jam sebelumnya, dia melompat ke dalam sumur bersama bayinya yang baru berusia 15 hari. Para tetangganya berhasil mengangkat perempuan itu tapi bayinya tak bisa diselamatkan. Polisi yang memeriksa Tugiyah menyebut, perempuan muda itu tertekan karena hidupnya melarat.

Lalu Susanti, dari Ciherang, Sukatani, Depok, tewas di dalam sumur  karena terlilit utang. Usianya baru 17 tahun dua bulan lalu. Asep, buruh kasar di Beji, Depok, sebelumnya juga gantung diri juga karena miskin. Sebelumnya lagi, dan sebelumnya lagi, kasus orang-orang yang bunuh diri karena miskin terus bermunculan seperti wabah.

Orang-orang itu mungkin benar, kemiskinan akan membuat orang lupa, ingkar itu. Tapi mereka yang hidup dengan kekayaan dan berkuasa, sebetulnya juga sudah lama abai bahwa kematian seperti yang dipilih oleh Masnin bisa dicegah seandainya mereka pun tidak lupa, kemiskinan bukan sesuatu yang endemis. Mereka banyak berbicara soal kemiskinan, sementara perut mereka terus kekenyangan. Bagi mereka kemiskinan adalah soal statistik yang hanya dirawat untuk sebuah kepentingan dan dilupakan untuk kepentingan berikutnya.

Hari ini, lima hari sudah Masnin bunuh diri di kebun pisang di belakang rumahnya,  karena hasil dagangan cendolnya tidak cukup untuk ongkos berobat. Tapi siapa yang peduli, jika orang-orang seperti Masnin tidak akan terus bermunculan, dan salah satu di antara mereka ternyata tetangga kita?

Iklan