Bisnis selalu menuntut inovasi. Tapi di banyak perusahaan, hanya sedikit manajer yang bisa membuat terobosan bisnis. Dan dari manajer yang sedikit itu, tidak banyak yang berani membuat usulan kepada bos mereka untuk sesuatu yang baru, yang di masa depan bisa membantu menyelamatkan perusahaan yang mulai membosankan dan tidak bergairah.

oleh Rusdi Mathari
Levi Strauss membuat langkah besar. Produsen jins terkenal dari Amerika Serikat yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Levi’s itu, pekan lalu mengumumkan telah mengembangkan dan memulai cara baru untuk menghemat penggunaan air ketika memproduksi jins. Cara baru itu termasuk penemuan tentang metode irigasi untuk tanaman kapas, dan penggunaan batu untuk membuat efek pewarnaan.

Untuk irigasi, Levi’s mengembangkan teknik menyiram tanaman kapas yang memungkinkan air bisa langsung mencapai akar. Dengan metode ini, air tidak akan tersisa di permukaan tanah seperti yang biasa terjadi pada teknik penyiraman konvensional untuk tanaman. Tapi  tampaknya Levi’s belum benar-benar terbuka tentang temuan barunya ini.

Koran The New York Times yang menulis soal ini hanya mendapatkan pengakuan dari beberapa orang penentu bisnis Levi’s, bahwa perusahaan telah membantu membiayai program nirlaba yang mengajarkan para petani  kapas di India, Pakistan, Brazil dan Afrika Barat dan Tengah untuk mengembangkan irigasi air hujan sejak 2009. Nilainya US$ 600 ribu. Perusahaan juga memperkenalkan jins yang dicuci dengan batu dan tanpa air yang diproduksi pabrik mereka di Brazil dan India.

Penemuan baru dari para manajer Levi’s itu tentu saja bukan datang tiba-tiba. Riset dari penemuan mereka dilakukan sejak lebih dari tiga yang lalu. Setelah banjir besar menerjang Pakistan dan musim paceklik melanda Cina yang segera menghancurkan pertanian kapas dan menaikkan harganya pada tahun lalu, mereka semakin yakin untuk mengembangkan metode baru menghemat penggunaan air dalam produksi jins.

Levi’s memang sangat tergantung kepada kapas dan air. Untuk setiap jins yang dibuat, paling sedikit dibutuhkan sekitar 2 pon kapas atau hampir mencapai 1 kilogram dan 919 galon air. Air sebanyak itu termasuk digunakan untuk mengairi tanaman kapas, membantu proses menjahit jins dan mencucinya selama puluhan kali.

Itulah inovasi. Inovasi bisnis tepatnya. Suatu terobosan yang membuat perjalanan bisnis yang semula tampak membosankan dan berlangsung biasa-biasa saja dengan pemasukan yang tidak naik dan tidak turun, menjadi luar biasa dan kemudian bergairah.

Levi’s belum tahu apakah temuan barunya soal teknik irigasi dan pewarnaan menggunakan batu itu akan mendongkrak omzet penjualan jins mereka. Kepala Pemasaran Levi’s [yang baru] Rebecca Van Dyck hanya mengatakan, dengan harga yang sama, jins yang diproduksi menggunakan teknik baru itu, terjual lebih cepat dari jenis jins Levi’s biasa. Tapi McDonald’s yang berada di Prancis, sudah membuktikan, inovasi membawa serta semangat, dan tentu saja penambahan pemasukan untuk kas perusahaan.

Kejadiannya sembilan tahun lalu, ketika salah satu gerai McDonald’s di Paris secara radikal mengubah tampilan yang menjadi ciri khas McDonald’s di seluruh dunia: simbol “M” berwarna kuning dengan latar belakang merah itu. Sebagai gantinya, warna lambang itu diganti dengan warna sawo dengan latar belakang warna putih pucat. Beberapa gerai McDonald’s lainnya di kota itu, bahkan mencopot sama sekali tanda “M.”

Lalu kursi, meja, dan berbagai perlengkapan lain yang sudah menjadi ciri McDonald’s juga diganti dengan lantai kayu, dinding dengan batu bata yang terlihat dan kursi berlengan. Dipasang pula beberapa pesawat televisi, dan sementara burger standar tetap disajikan, MsDonald’s di Paris juga menjual kopi espresso dan roti brioche.

Hasilnya, omzet McDonald’s di Prancis ikut berubah. Dari semula hanya merangkak 3 persen per tahun, sejak “perubahan” kemudian meningkat menjadi 20 persen. Kata Dennis Hennequen, Presiden McDonald’s Prancis saat itu, tanpa variasi pelanggan akan bosan.

Di  buku 100 Kiat, Bondan Winarno menyebut, bisnis memang menuntut inovasi. Tak harus selalu berupa penemuan baru seperti yang baru ditemukan Levi’s, tapi juga bisa berupa aplikasi baru dari hal-hal yang semula sudah dianggap kuno, seperti yang sudah dilakukan oleh McDonald’s di Prancis. Tapi tak semua orang mampu berinovasi.

Di banyak perusahaan, hanya sedikit manajer yang mampu membuat terobosan bisnis. Dan dari manajer yang sedikit itu, tidak banyak yang berani membuat usulan kepada bos mereka untuk sesuatu yang baru, yang di masa depan bisa membantu menyelamatkan perusahaan yang mulai membosankan dan tidak bergairah. Sebagian besar dari mereka hanya memilih untuk menyelamatkan penghasilan mereka, ketimbang berusaha untuk menjadi bagian yang bisa mengubah wajah perusahaan.

Maka dengan temuan barunya soal irigasi pada tanaman kapas dan teknik pewarnaan jins menggunakan batu, para manajer Levi’s telah mencoba, apa yang disebut sebagai “sambil menyelam minum air:” menyelamatkan bisnis sekaligus lingkungan. Lihatlah kemudian hasil riset internal Levi’s yang menjaring suara para konsumen fanatiknya untuk menanggapi temuan baru perusahaan itu. Kata para konsumen itu: mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu yang bisa mengubah dunia.

Dan para manajer Levi’s dengan inovasinya, niscaya akan kembali menjadi pelopor yang mengubah dunia, setelah jins pertama dibuat di San Francisco hampir 130 tahun yang lalu.

Iklan