Wal-Mart rantai toko eceran terbesar di Amerika Serikat dan di dunia dikabarkan akan kembali ke Indonesia. Peritel ini menyediakan barang-barang murah [meski pembelinya adalah konsumen kaya], tapi justru karena itu, Wal-Mart  menuai kecaman dan kritikan karena mempraktikkan cara-cara yang tidak adil dalam berbisnis, anti-buruh, dan diskriminatif.

oleh Rusdi Mathari
Tentang Wal-Mart yang akan kembali membuka tokonya di Indonesia, kembali menjadi berita. Diisyaratkan oleh Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan di Honolulu, Hawai dua pekan silam, rencana akan kembalinya Wal-Mart ke Indonesia pekan lalu dipastikan oleh Benjamin J Mailool, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia. Soal kapan, kata Benjamin, itu hanya masalah waktu.

Berita akan kembalinya Wal-Mart ke Indonesia ini, mengulang berita yang sama yang ditulis Reuters kurang lebih setahun yang lalu. Waktu itu, Wal-Mart diberitakan bersaing dengan Lotte Mart untuk memperebutkan aset Hypermart. Nama yang disebut terakhir adalah anak perusahaan PT Matahari Putra Prima Tbk. yang pada waktu itu dikabarkan akan dijual seharga lebih dari US$ 1 miliar. Untuk keperluan itu, Wal-Mart dikabarkan bahkan sudah menyewa Barclays Capital sebagai penasihat keuangan tapi berita itu tidak ada kelanjutannya, hingga muncul isyarat dari Gita dan pernyataan Benjamin, bahwa Wal-Mart akan kembali ke Indonesia.

Sekitar 15 tahun silam, Wal-Mart memang pernah membuka satu toko di Indonesia. Persisnya di kawasan bisnis milik Grup Lippo di Karawaci, Tangerang. Toko itu dibuka di Indonesia bekerja sama dengan PT Multipolar Corp. Tbk. Belakangan, toko Wal-Mart di Supermal Karawaci itu ditutup karena dianggap tidak menguntungkan menyusul krismon dan kerusuhan 1998, dan kini, Indonesia kembali masuk dalam daftar negara yang diincar oleh Wal-Mart.

Selain Indonesia, Wal-Mart sebetulnya juga melirik Cina dan India, dua negara yang juga menjadi incaran peritel dunia. Namun di dua negara itu, Wal-Mart harus berhitung dengan banyak faktor. Bila memilih Cina, Wal-Mart mau tak mau harus berhadapan sengit dengan para peritel besar yang jumlahnya sudah cukup banyak di sana. Masuk ke India, mereka akan dihadang oleh regulasi ketat tentang syarat-syarat pembukaan hipermarket.

Pilihan satu-satunya adalah Indonesia. Selain memiliki jumlah penduduk cukup besar, pertumbuhan ekonomi yang positif berikut kondisi politik yang relatif stabil, Indonesia juga termasuk negara yang longgar dalam hal pemberian izin pendirian hipermarket. Kata Benjamin, Wal-Mart kemungkinan besar akan masuk ke Indonesia dengan menggandeng peritel lokal.

Wal-Mart adalah rantai toko eceran terbesar di Amerika Serikat dan di dunia. Sepuluh tahun setelah Wal-Mart didirikan oleh Sam Walton pada 1962, peritel ini mencatatkan sahamnya di bursa saham New York. Sejak itu Wal-Mart mendunia dan menjadi terkenal. Jaringan tokonya tersebar di Argentina, Bangladesh, Brasil,  Inggris Raya, Jepang, Kanada, Meksiko, Meksiko, dan Cina.

Enam tahun lalu, Wal-Mart bahkan sudah memiliki lebih 3.500 toko di Amerika, dan akan ditambah 1.000 toko hingga tahun ini. Diperkirakan, tak kurang 100 juta orang di seluruh dunia yang setiap pekan berbelanja di Wal-Mart. Omzetnya mencapai US$ 285 miliar, dan dengan pertumbuhan 11 persen setiap tahun, penjualan Wal-Mart saat ini ditaksir sudah melampaui setengah triliun dolar.

Breathtaking
Karena besarnya jangkauan Wal-Mart, VOA pernah membuat pengandaian: kalau Wal-Mart sebuah negara, ia adalah mitra dagang terbesar Cina kedelapan, mengungguli Rusia, Australia dan Kanada. Majalah Forbes  menulis: jika Wal-Mart adalah pertumbuhan ekonomi itu sendiri, ia menduduki peringkat 30 di dunia tepat di belakang Arab Saudi. Majalah Fortune pernah melukiskan Wal-Mart sebagai perusahaan publik terbesar di dunia berdasarkan pendapatan.

Dan seperti halnya karakter hipermarket, toko-toko Wal-Mart juga menjual aneka macam barang. Mulai ban mobil, komputer, CD pop terbaru, obat-obatan, pakaian, sayuran hingga tisu, dan sebagainya. Semboyannya adalah Sell For Less dan benar, Wal-Mart menjual barang-barang dengan harga yang lebih rendah dari para pesaingnya.

Bagi konsumen, harga murah barang-barang yang dijual Wal-Mart tentu menguntungkan meskipun yang datang membeli di toko-toko Wal-Mart, faktanya sebagian besar adalah konsumen kaya dan bukan orang-orang miskin yang lebih membutuhkan barang murah. Masalahnya, Wal-Mart kini sedang  menghadapi gelombang kritik dan kecaman dari berbagai kalangan, yang sebagian malah menjadi batu sandungan bagi Wal-Mart untuk beroperasi di berbagai negara termasuk di Amerika.

Tahun lalu, Greenpeace menuding Wal-Mart terlibat dalam perusakan hutan di Indonesia karena ikut memasarkan produk Asia Pulp and Paper, anak perusahaan Sinar Mas Group yang oleh Greenpeace dinilai paling bertanggung jawab atas penggundulan hutan Indonesia. Dalam buku No-Logo, wartawan Naomi Klein menggambarkan, cara-cara yang tidak sehat yang dilakukan Wal-Mart  untuk menyingkirkan para pesaing terutama toko-toko lokal.

Antara lain dengan melobi para pemasok barang agar menjual barang lebih murah hanya dan untuk Wal-Mart, atau tidak memasok barang ke pedagang lain. Tak mengherankan karena itu, setiap toko Wal-Mart selalu bisa menjual barang lebih murah ketimbang para pesaing lokal. Karena praktik kotor bisnis Wal-Mart itu, Klein menyebutkan, banyak penduduk Amerika kemudian berkampanye menolak Wal-Mart.

Kecaman terhadap Wal-Mart yang paling keras dan masif, akan tetapi berasal dari Robert Greenwald. Pengajar di Universitas Harvard itu membuat film dokumenter Wal-Mart: The High Cost of Low Price. Isinya antara lain mengecam cara-cara Wal-Mart membuka toko yang menyebabkan bangkrutnya banyak usaha kecil, dan perlakuan manajemen yang  membayar gaji para karyawannya sangat kecil sementara para karyawan itu diharuskan bekerja melewati waktu yang ditentukan tanpa uang lembur.

Di film itu ada pengakuan Weldon Nicholson, yang menjadi manajer di Wal-Mart selama 17 tahun. Kata dia, ketika Wal-Mart datang ke sebuah kota baru, maka orang-orang manajemen akan langsung mengecek toko-toko di sepanjang jalan utama dan membuat permainan untuk memprediksi berapa lama toko-toko kecil di sepanjang jalan itu akan segera tutup.

Seorang pekerja Wal-Mart di Cina bercerita tentang kondisi kerjanya yang buruk. Kata dia, karyawan Wal-Mart di Cina diberi pilihan: tinggal di asrama yang pengap atau memilih di tempat lain tapi dengan syarat: tetap harus membayar sewa asrama. Di Bangladesh, para pekerja Wal-Mart dipaksa bekerja 14 jam sehari, tujuh hari seminggu dan hanya dibayar antara 13-17 sen dolar per jam atau tidak sampai Rp 2 ribu per jam.

Asuransi kesehatan yang disediakan Wal-Mart pun tak luput pula dikritik karena harganya yang supermahal. Akibatnya banyak pegawai Wal-Mart tak mampu membeli asuransi kesehatan itu, dan terpaksa mengandalkan bantuan pemerintah untuk membeli makanan dan obat-obatan. Diungkap pula oleh Greenwald, bahwa Wal-Mart adalah perusahaan anti-buruh karena melarang para karyawannya membentuk serikat untuk melakukan perundingan dengan perusahaan. Benar, di Cina, Wal-Mart mengizinkan pembentukan serikat buruh tapi serikat itu tidak pernah melawan perusahaan. Terhadap para perempuan dan warga minoritas, Wal-Mart pun dinilai diskriminatif.

Koran The New York Times menyebut film Greenwald ini sebagai “Breathtaking.” Menurut VOA, film yang dikeluarkan November 2005 itu sudah ribuan kali diputar di jaringan para buruh, sekolah-sekolah dan komunitas lainnya di Amerika. Anda bisa menyaksikan cuplikannya lewat You Tube atau melalui walmartmovie.com.

Tirulah Thailand, Cina atau Eropa
Wal-Mart tentu menolak semua kecaman dan kritikan itu, dan mulai menggunakan perusahaan-perusahaan humas untuk menyebarkan imaji positif tentang Wal-Mart. Untuk tudingan Greenpeace misalnya, Wal-Mart mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan LSM itu untuk bekerja sama dalam berbagai proyek di seluruh dunia. Mereka juga menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk menghentikan pengembangan produk lokal yang menggunakan produk Asia Pulp and Paper dan mempertimbangkan penilaian lain.

Lalu di tengah bantah-bentoh itu, ada berita Wal-Mart akan kembali membuka tokonya di Indonesia. Ini kabar baik semestinya, dan bagi Indonesia seharusnya bisa menjadi kesempatan untuk menata kembali regulasi dengan serius pembukaan hipermarket. Antara lain dengan membuat aturan zonasi yang ketat. Tanpa pengaturan zonasi, toko-toko kecil yang ikut menggerakkan ekonomi kelas bawah dipastikan akan mengalami kesulitan dan bukan tak mungkin bangkrut karena digilas hipermarket yang terus meraksasa.

Kasus ini misalnya, pernah  terjadi di Bangkok, Thailand. Sebelum tahun 2002, di kota itu ada sekitar 100-an hipermarket, yang mempekerjakan 45 ribu orang tenaga kerja. Akibat serbuan peritel besar multinasional itu, satu per satu, peritel lokal dan toko-toko kecil di Thailand mulai ambruk dan berujung pada PHK terhadap 35 ribu tenaga kerja.

Karena dampak buruk dari hipermarket itulah, pemerintah Thailand akhirnya menerapkan aturan zonasi yang ketat. Di tengah kota, misalnya, hanya peritel lokal yang  tidak mengusung konsep hipermarket yang diizinkan berdiri. Sebaliknya, hipermarket hanya diberi izin berdiri di pinggiran kota sehingga orang-orang yang berminat berbelanja ke sana, harus juga mengeluarkan ongkos transportasi. Dengan demikian, kendati harga barang-barang di hipermarket lebih murah tapi karena keberadaannya di pinggir kota, harganya akan bersaing dengan harga barang-barang yang dijual peritel kecil. Pengaturan zonasi yang konsisten semacam itu juga dilakukan oleh Cina dan beberapa negara Eropa.

Dan untuk Wal-Mart, bila benar akhirnya kembali membuka tokonya di Indonesia, haruslah juga dipastikan, ia menggunakan cara-cara yang lebih adil saat mendapatkan pasokan barangnya, tidak anti-buruh, tidak diskriminatif, dan menepati janjinya mempekerjakan orang-orang dari golongan minoritas sebagai pejabat eselon tingkat tinggi di perusahaan. Kalau tidak, maka orang-orang layak bertanya: apa sebetulnya nilai penting Wal-Mart kembali ke Indonesia, kecuali hanya menjadi reklame bagi citra pemerintah.

Iklan