Salah satu areal hutan antara Badau-Empanang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang sudah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Foto: Rusdi Mathari

April 2010, manajemen PT Sinar Mas Agro Resources & Technology [Smart], mengirim Jangguk dan beberapa kepala desa di Badau dan Empanang, Kapuas Hulu-Kalimanan Barat ke Riau untuk “melihat-lihat” perkebunan sawit yang dikelola perusahaan itu. Ikut bersama Jangguk, Warink, Kepala Desa Sungai Tembaga. “Itulah cara [kami] selama ini: kami bawa studi banding ke Riau. Ada yang dari pemda, ada yang tokoh masyarakat. Ada yang berubah sikapnya ada yang tidak,” kata Bernard Ho, manajer umum Smart.

Pengantar:
Kelapa sawit merupakan penghasil minyak nabati paling produktif di atas bumi. Dari tiap hektar lahan bisa dipanen 4-6 ton minyak per tahun atau 10-15 kali produktivitas jagung atau kedelai yang hanya 0,4 ton. Dengan harga US$ 700 per ton, hasil panen minyak sawit bernilai sekitar US$ 3.500 (hampir Rp 35 juta) per ha per tahun. Ini jauh lebih hebat dari hasil panen kebun karet produktif yang hanya sekitar Rp 25 juta atau tebu yang Rp 15 juta per ha per tahun.

Awal Mei 2010, sebuah insititut dari sebuah media di Jakarta menugaskan saya untuk meliput ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan dampaknya terhadap hutan dan warga di daerah itu. Selain saya, ada 4 wartawan lain dari media yang bersangkutan yang disebar ke Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatra Utara, dan ditugaskan untuk meliput topik yang sama. Rencananya, semua liputan itu akan dijadikan sebuah buku. Namun karena satu dan lain hal, buku itu belum diterbitkan hingga sekarang.

Sekitar sebulan yang silam saya lantas meminta izin ke institut yang menugaskan saya, agar saya diizinkan menyebarkan liputan di Kapuas Hulu ke media. Ada 2 pertimbangan yang saya sampaikan. Pertama, karena banyak informasi yang harus diketahui oleh masyarakat tentang ekspansi kelapa sawit di hutan-hutan Kalimantan Barat berikut dampaknya. Kedua, karena soal waktu liputan yang sudah 2 tahun lalu. Saya diizinkan dengan syarat tidak menyebut nama institut yang menugaskan saya, dan saya menerima syarat tersebut.

Laporan ini cukup panjang, dan karena itu saya menuliskannya menjadi 4 laporan bersambung. Di bagian akhir laporan ini [bagian 4], saya lengkapi dengan informasi dan perkembangan terbaru tentang ekspansi perkebunan sawit yang terjadi di Kapuas Hulu. Mudah-mudahan ada manfaatnya. 

oleh Rusdi Mathari
Usat terus meraung dan memegangi hidungnya. Darah segar yang bergumpal-gumpal, deras mengucur seolah air yang dipompa dari puncaknya yang paling dalam. Di depannya berdiri Bantin dengan pongah. Dia anak kandung Usat.

Dari mulut pemuda berusia 30 tahunan itu tak hanya menebar bau arak tapi juga sejumlah kata makian dalam bahasa Iban. Usat, tak berdaya. Dia digotong sejumlah orang dan segera melarikannya dengan sepeda motor ke rumah mantri kesehatan di pusat desa Sungai Tembaga, Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. “Kalau tidak membaik, Pak Mantri bilang hidung Usat bisa dipotong,” kata Sembam, Kepala Dusun Sebindang, Sungai Tembaga. Usat dan Bantin, penduduk Sebindang.

Sembam itulah yang menceritakan nahas yang menimpa Usat, beberapa jam setelah pemukulan. Kejadiannya tengah malam, Jumat, 14 Mei 2010. Bersama sejumlah penduduk Sebindang, dia, Usat dan Bantin, malam itu berkumpul di rumah Unja.

Nama yang disebut terakhir adalah mantan kepala dusun, pendahulu Sembam. Dia dikenal sebagai orang yang berdiri paling depan mendukung kehadiran perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit di Desa Sungai Tembaga. Topik pembicaraan mereka malam itu adalah kehadiran perkebunan sawit yang belakangan memang mulai mengepung dusun dan desa mereka.

Sebindang adalah salah satu dusun dari tiga dusun di Desa Sungai Tembaga. Sebagian besar penduduknya menolak keras kehadiran perkebunan kelapa sawit. Dua dusun lainnya adalah Batu Pansap dan Semayos. Kata Sembam, jika setiap dusun memiliki luas lahan sekitar 3 ribu hektare maka ada sekitar 9 ribu hektare lahan yang hingga sekarang belum berubah peruntukan menjadi kebun sawit di Sungai Tembaga. “Kami terkepung di tengah lautan perkebunan sawit, “ kata A. Unggum, Patih Desa Bajau Andai. Desa Bajau adalah tetangga Desa Sungai Tembaga.

Sembam bercerita, malam itu, Unja sengaja mengundang penduduk Sebindang ke rumahnya untuk membicarakan kehadiran perkebunan sawit di dusun mereka. Arak dihidangkan, dan satu per satu, orang-orang yang berkumpul itu menenggak arak hingga pembicaraan pun semakin memanas. Sebagian setuju dengan kehadiran sawit, sebagian yang lain menolak.

Seperti halnya Unja, Bantin termasuk orang yang sepakat dengan kehadiran perkebunan kelapa sawit di desanya. Sebaliknya Usat dan Sembam menolak. Menjelang tengah malam, pembicaraan antarmereka sudah semakin tidak terkendali. Nada suara dari sebagian peserta pertemuan mulai keras. Juga suara Bantin. Usat yang sedang angkat bicara, tiba-tiba dihampiri Bantin yang tampaknya mulai mabuk. Lalu tanpa ba-bi-bu, anak lelaki berbadan tegap itu melayangkan tinju keras ke hidung bapaknya. Buk.

Kejadiannya lekas dan tak bisa dicegah oleh orang-orang yang duduk di dekat Usat. Lelaki berusia 50 tahunan itu terhuyung. Darah membasahi baju, menggenangi cawan arak di depannya. Pertemuan bubar. Usat dilarikan ke Sungai Tembaga. Bantin pergi entah ke mana. “Daerah kami rawan. Anak bisa berantem dengan orang tuanya hanya gara-gara sawit,” kata Sembam.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sembam kembali menemui saya yang menginap di rumah Hendrikus Derawan, tokoh masyarakat di Dusun Batu Pansap. Dia membawa berita tentang pembunuhan yang terjadi di Desa Upak. Desa itu berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah utara Desa Sungai Tembaga. Belum jelas siapa yang membunuh tapi menurut Sembam pemicunya juga soal kebun sawit. Dia menyarankan saya berhati-hati.

Beberapa jam setelah Sembam bercerita soal pembunuhan di Upak itu, saya bersama rombongan [beberapa teman dari Walhi Kalimantan Barat dan Riak Bumi Pontianak], meninggalkan rumah Hendrikus. Kami menuju Kecamatan Badau di sebelah selatan Kecamatan Empanang untuk mewawancarai beberapa temenggung, patih dan kepala desa di beberapa tempat di kecamatan itu. Badau adalah salah satu kecamatan terluar di Kalimatan Barat dan berbatasan dengan wilayah Serawak, Malaysia.

Baru pukul 10 pagi ketika kami memasuki pusat Badau, dan Jackson Jangguk tampak sedang berkumpul dengan beberapa orang di warung kopi di deretan kios persis di seberang tanah lapang yang mirip alu-alun. Dia adalah kepala desa Kekurak, Badau, yang setuju hutan-hutan di  desanya ditanami sawit. “Itu Jangguk dan orang-orang yang prokebun sawit,” kata Ilah, aktivis Riak Bumi.

Ilah, salah seorang yang mendampingi saya meliput ekspansi perkebunan kelapa sawit di Badau, Suhaid, Batang Lupar, dan Empanang [semuanya di Kapuas Hulu]. Aktivis lain yang ikut mendampingi adalah Ari Munir dan Samsuri dari Walhi Kalimantan Barat. Dia  keturunan Iban. Orang tuanya merupakan kepala adat di Lanjak, Batang Lupar, kecamatan sebelah selatan Badau.

Dia menyarankan agar kami menjauh dari tempat Jangguk untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Setidaknya agar tidak terlihat oleh Jangguk dan teman-temannya. Terlambat, mobil Toyota pick up dua kabin, yang kami tumpangi rupanya telanjur menjadi pusat perhatian Jangguk dan kawan-kawannya.

Ketika mengisi bahan bakar di sebuah kios, tak jauh dari tempat Jangguk berkumpul, dia mendatangi mobil kami dengan menunggangi sepeda motor berpelat nomor merah. Matanya tertutup penuh oleh kacamata hitam. “Darimana kalian? Kenapa motret-motret? Dari LSM hah?” suara Jangguk mengejutkan kami.

Sepagi itu, dari mulut Jangguk seolah meruap bau alkohol. Kami tak ada yang menjawab. Saya mencoba menoleh ke belakang mobil. Di kejauhan terlihat beberapa orang yang berkumpul dengan Jangguk, seolah menunggu perintah dari dia.

Ilah mencoba membuka suara dan menjelaskan singkat dalam bahasa Iban bahwa kami bukan dari LSM melainkan rombongan yang mengantar wartawan, tapi Jangguk tidak puas dengan penjelasan Ilah. Dia mulai memainkan gas sepeda motornya, sebelum kemudian melarikannya dengan gegas. Suara motornya menderum. Setelah berjarak sekitar 100 meter dari depan mobil kami, dia memutar arah dan kembali mendatangi kami. “Cepat kalian angkat kaki dari sini sebelum mendapatkan penyakit.,” katanya.

Kami semua membisu. Sebelum kembali ke tempat orang-orang yang menunggunya di warung kopi itu, Jangguk menyempatkan menendang pintu mobil kami. Duk. “Babi kalian semua,” kata dia.

Andreas, sopir asal Lanjak yang membawa mobil kami bercerita, di Kekurak dan di seantero Badau, juga di Empanang hingga di Kecamatan Lanjak; Jangguk dikenal sebagai jagoan. Hobinya menyabung ayam.

Oleh manajemen PT Sinar Mas Agro Resources & Technology [Smart], Jangguk dan beberapa kepala desa di Badau dan Empanang, April 2010 diberangkatkan ke Riau melihat-lihat kebun sawit yang dikelola perusahaan itu. Ikut bersama Jangguk, Warink, Kepala Desa Sungai Tembaga.

“Itulah cara [kami] selama ini: kami bawa studi banding ke Riau. Ada yang dari pemda, ada yang tokoh masyarakat. Ada yang berubah sikapnya ada yang tidak,” kata Bernard Ho ketika ditemui di kantornya, di Pontianak.

Dia warga negara Malaysia yang bekerja di Smart [Pontianak] sebagai manajer umum. Istrinya orang Indonesia. Ada pun Smart yang merupakan anak perusahaan Grup Sinar Mas [konglomerasi milik Keluarga Tjipta Widjaja] termasuk perusahaan perkebunan sawit yang pertama yang masuk ke Kapuas Hulu. “Masuk sekitar tahun 2005-2006,” kata Bernard.

Di Kapuas Hulu, Smart mengurus 9 perusahaan perkebenunan sawit dengan total luas lahan 165 ribu hektare. Perinciannya: PT Khatulistiwa Agro Abadi [14 ribu hektar]; PT Buana Tunas Sejahtera [16 ribu];  PT  Sentra Karya Mandiri [18,5 ribu hektar]; PT Kapuas Indo Farm [20 ribu hektar];  PT Duta Nusa Lestari [14 ribu hektar];  PT Kartika Prima Cipta [20 ribu hektar];  PT Anugrah Makmur Sejati [15 ribu hektar];  PT Persada Graha Mandiri [19,5 hektar]; dan PT Primanusa Mitra Serasi [19 ribu hektar].

Hendrikus bercerita, sehari setelah menghardik dan memaki-maki kami di Badau, Jangguk datang ke rumahnya di Batu Pansap. “Dia datang ke saya dan menceritakan kejadian di Badau dan mengadukan kehadiran Anda. Saya bilang, ‘kamu jangan mengganggu desa saya, kamu urus desa kamu sendiri’,” kata Hendrikus tertawa [bersambung].

Iklan