Pos penjagaan TNI di perbatasan RI-Malaysia di Badau, Kapuas Hulu-Kalimantan Barat. Dulu kayu-kayu dari hutan Badau dan sekitarnya diselundupkan ke Serawak, sementara pasokan listrik dan sembako warga Badau didatangkan dari Serawak. Foto: Rusdi Mathari

Badau memang pernah menjadi pusat persinggahan sopir-sopir truk pengangkut gelondongan kayu selundupan. Kayu-kayu itu diangkut dari Batang Lupar, Badau, dan Empanang menuju Malaysia, yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kecamatan Badau.

Pengantar:
Kelapa sawit merupakan penghasil minyak nabati paling produktif di atas bumi. Dari tiap hektar lahan bisa dipanen 4-6 ton minyak per tahun atau 10-15 kali produktivitas jagung atau kedelai yang hanya 0,4 ton. Dengan harga US$ 700 per ton, hasil panen minyak sawit bernilai sekitar US$ 3.500 (hampir Rp 35 juta) per ha per tahun. Ini jauh lebih hebat dari hasil panen kebun karet produktif yang hanya sekitar Rp 25 juta atau tebu yang Rp 15 juta per ha per tahun.

Awal Mei 2010, sebuah insititut dari sebuah media di Jakarta menugaskan saya untuk meliput ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan dampaknya terhadap hutan dan warga di daerah itu. Selain saya, ada 4 wartawan lain dari media yang bersangkutan yang disebar ke Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatra Utara, dan ditugaskan untuk meliput topik yang sama. Rencananya, semua liputan itu akan dijadikan sebuah buku. Namun karena satu dan lain hal, buku itu belum diterbitkan hingga sekarang.

Sekitar sebulan yang silam saya lantas meminta izin ke institut yang menugaskan saya, agar saya diizinkan menyebarkan liputan di Kapuas Hulu ke media. Ada 2 pertimbangan yang saya sampaikan. Pertama, karena banyak informasi yang harus diketahui oleh masyarakat tentang ekspansi kelapa sawit di hutan-hutan Kalimantan Barat berikut dampaknya. Kedua, karena soal waktu liputan yang sudah 2 tahun lalu. Saya diizinkan dengan syarat tidak menyebut nama institut yang menugaskan saya, dan saya menerima syarat tersebut.

Laporan ini cukup panjang, dan karena itu saya menuliskannya menjadi 4 laporan bersambung. Di bagian akhir laporan ini [bagian 4], saya lengkapi dengan informasi dan perkembangan terbaru tentang ekspansi perkebunan sawit yang terjadi di Kapuas Hulu. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

oleh Rusdi Mathari
Badau merupakan salah satu kecamatan di Kapuas Hulu yang wilayah hutannya kini dipenuhi dengan perkebunan sawit. Menyusuri jalan antara antara pusat kota Badau hingga ke Sungai Tembaga, di Kecamatan Empanang, hamparan sawit itu seolah melindapkan hutan. Tak ada lagi pohon-pohon besar yang menjulang. Pemandangan di kiri-kanan jalan sudah berganti menjadi ladang terhampar yang terbuka.

Selama lebih kurang 30 menit, menyusuri jalan antara Badau-Sungai Tembaga, hamparan kebun sawit seperti tak habis-habis terlihat. Traktor dan eskavator terlihat sibuk menguruk tanah. Truk-truk berukuran sedang bolak-balik mengangkut bibit sawit dan pupuk. Bukit diratakan.

“Masyarakat di sini [Badau] memang mengharapkan ada perkebun sawit dan lokasinya juga sesuai dengan aturan. Yang menolak itu hanya LSM-LSM,” kata Camat Badau, Achmad Salafuddin. Dia tak menjelaskan apa yang dimaksudnya sebagai “mengharapkan” itu. “Silakan Anda hubungi mereka dan pemda di Kapuas Hulu,” katanya.

Luas Kecamatan Badau mencapai 70,8 kilometer persegi atau sekitar 0,23% dari luas Kabupaten Kapuas Hulu. Ada 9 desa dan 21 dusun di kecamatan itu. Wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Empanang dan Puring Kencana [di sebelah barat], Kecamatan Batang Lupar [di timur], Kecamatan Suhaid dan Selimbau [di selatan] dan wilayah Serawak Malaysia [di utara]. “Jumlah penduduknya lima ribuan jiwa,” kata Dini Ardianto, eks camat Badau yang kini bertugas di Pemkab Kapuas Hulu.

Mayoritas penduduknya beragama Katolik. Pekerjaan utama mereka berladang dan bertani. Hanya sebagian kecil yang berdagang dan berternak. Hingga tahun 2008, Badau memiliki ladang dan lahan pertanian seluas 2.045 hektare dengan hasil produksi sekitar 1.000 ton per tahun. Hasil perkebunan penduduk yang terutama adalah lada dan karet yang diurus oleh sekitar 500 orang. Produksinya mencapai 178 ton setiap tahun.

”Hasil tanaman kebun dan pertanian di jual langsung ke Malaysia,” kata Joni Mawang, mantan patih Kampung Janting.

Catatan Walhi Kalimantan Barat menyebutkan, penduduk menerapkan sistem berladang begiliran. Setiap kepala keluarga mengelola 5 hektare dengan rotasi penggarapan 5-7 tahun. Periodenya: untuk waktu tebang [membuka ladang] dilakukan selama dua pekan, menanam dilakukan di musim penghujan, dan panen di bulan Februari -Maret.

Lewat cara itulah, sebagian besar penduduk Badau mencukupi kebutuhan hidup mereka. Kebanyakan dari mereka juga tinggal di rumah betang, rumah panggung panjang, yang dihuni oleh beberapa keluarga. Bentuknya mirip ruko-ruko di perkotaan. Satu rumah betang bisa dihuni hingga 40 kepala keluarga.

Tak semua rumah-rumah di Badau apalagi rumah-rumah betang itu, mendapat pasokan listrik. Sebagian dari mereka hanya menggunakan diesel, sebagian lagi mendapat aliran listrik dari Serawak, Malaysia. “Kami membayar bulanan ke PLN kecamatan, seperti orang-orang di kecamatan lain di Kapuas Hulu yang sudah mendapatkan aliran listrik PLN,” kata Ina, pemilik rumah makan Kasih Bunga di Badau.

Sebelum kehadiran perkebunan-perkebunan sawit, Badau dijuluki oleh penduduk setempat dan penduduk Batang Lupar [kecamatan di sebelah timur Badau] sebagai Kota Texas. Bukan saja karena banyak pendatang dari Jawa, Bugis dan sebagainya, tapi juga karena di Badau ada tempat hiburan malam yang menyediakan minuman keras dan tentu saja pelacur.

Faktanya, Badau memang lebih ramai di bandingkan Kecamatan Empanang dan Lanjak [ibukota Kecamatan Batang Lupar] yang terletak di sebelah timur Badau. Di Badau dengan mudah bisa ditemui warung-warung makan Padang dan rumah makan Jawa Timur, kios-kios penjual ponsel dan pulsa, bengkel-bengkel mobil, vulkanisir dan sebagainya.

Selain pasokan listrik yang berasal dari Malaysia itu, barang-barang yang dijual di Badau, juga di Empanang dan Lanjak, kebanyakan pula berasal dari Malaysia. Para pedagang membeli ke Serawak setiap pekan dengan melintasi pos perbatasan lalu menjualnya kembali di Badau. Salah satunya minyak goreng merek Buruh yang dibuat Lam Soon Edible Oils SDN Hhd., Selangor Malaysia. Ada juga wafer merek Ferio. Wafer itu sebetulnya buatan PT Sari Bumi Sentosa, Cirebon, Jawa Barat, tapi penduduk Badau, Lanjak dan Empanang mendapatkannya dari Serawak.

Mobil-mobil yang di Jakarta termasuk mewah, seperti sedan Mercedes, Mitsubishi Pajero, Toyota Hilux dua gardan, sudah terlalu biasa dilihat penduduk Badau, lalu-lalang keluar-masuk hingga ke pedalaman. Penduduk setempat membelinya dari orang-orang Malaysia dengan harga yang juga miring: sedan Mercedes C230 hanya Rp 45 juta atau Pajero hanya Rp 40 juta.

Orang-orang Malaysia itu menjual mobil mereka ke penduduk Badau, sebagai trik untuk memperdaya dealer atau penjual mobil di negaranya. Mereka membeli mobil-mobil itu dengan sistem kredit. Setelah digunakan beberapa lama, mobil-mobil itu lalu dijual ke penduduk Badau. Kepada dealer, orang-orang Malaysia yang menjual mobil kreditannya itu melaporkan, mobilnya hilang. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan mobil baru.

Di Badau, mobil-mobil yang dibeli dari orang-orang Malaysia itu, tak selalu mengangkut orang. Kadang kala malah digunakan untuk mengangkut bambu atau barang belanjaan lain, yang diikat dan diletakkan di atas kabin. “Itu [semua] sisa-sisa dari kejayaan illegal logging,” kata Andreas, sopir yang mengantar kami, itu.

Badau memang pernah menjadi pusat persinggahan sopir-sopir truk pengangkut gelondongan kayu selundupan. Kayu-kayu itu diangkut dari Batang Lupar, Badau, dan Empanang menuju Malaysia, yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kecamatan Badau. “Rumah makan saya, dulu penuh dengan pembeli. Sekarang sepi kecuali di akhir pekan, ketika para buruh perkebunan sawit pulang keLanjak, mereka ada yang mampir,” kata Ina, pemilik warung nasi Padang.

Andreas bercerita, sebelum tahun 2007 jalan yang menghubungkan Lanjak dengan Badau berbahan beton dengan lapisan aspal hot mix di atasnya. Para taoke penyelundup kayu dari Malaysia yang mengongkosi pembuatannya agar truk-truk pengangkut gelondongan kayu bisa melaju dan cepat tiba di Malaysia. Karena jalan mulus itu, jarak Lanjak-Badau [kurang lebih 100 kilometer] bisa ditempuh hanya dalam waktu 2 atau 3 jam.

Setelah masa penebangan liar dan penyelundupan kayu itu berakhir, tak ada lagi bandar pembalakan liar yang membiayai atau memelihara jalan antara Lanjak-Badau. Jalan itu kembali menjadi jalur neraka: berlubang dan berlumpur. Bila kendaraan melintas saat tak ada hujan, debu mengepul seolah tempat peperangan. “Kalau hujan turun, jalan itu berubah menjadi kubangan lumpur. Jarak tempuh Lanjak-Badau, memakan waktu berjam-jam. Bisa tiga atau empat jam,” kata Andreas.

Lewat jalan yang rusak total itulah, setiap hari truk-truk pengangkut pupuk dan bibit sawit milik perusahaan perkebunan antara lain milik Grup Sinar Mas diangkut dari Lanjak menuju Badau dan Empanang.

“Kita tidak bisa membangun [jalan yang yang menghubungkan Lanjak-Badau-Empanang]. Itu sudah [pekerjaan] Pekerjaan Umum. Rencana [membangun jalan] itu ada, tapi bukan untuk jalan provinsi. Hanya jalan dari kampung satu ke kampung lain. Kami sudah bantu,” kata Bernard Ho [bersambung].

Iklan