Danau Sentarum di Kapuas Hulu adalah penghasil ikan air tawar yang cukup besar bagi Kalimantan Barat. Di kejauhan hutan di Lanjak dan Badau, yang sudah banyak beralihfungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Foto Rusdi Mathari.

Sejak dibuka untuk perkebunan sawit, ada sekitar 300 ribu hektare lahan di Kapuas Hulu yang disetujui menjadi perkebunan sawit, hingga tahun 2009. Salah satunya milik PT Smart, anak perusahaan Grup Sinar Mas, yang akan mengembangkan sawit seluas 160 ribu hektare hingga 2014 mendatang.

Pengantar:
Kelapa sawit merupakan penghasil minyak nabati paling produktif di atas bumi. Dari tiap hektar lahan bisa dipanen 4-6 ton minyak per tahun atau 10-15 kali produktivitas jagung atau kedelai yang hanya 0,4 ton. Dengan harga US$ 700 per ton, hasil panen minyak sawit bernilai sekitar US$ 3.500 (hampir Rp 35 juta) per ha per tahun. Ini jauh lebih hebat dari hasil panen kebun karet produktif yang hanya sekitar Rp 25 juta atau tebu yang Rp 15 juta per ha per tahun.

Awal Mei 2010, sebuah insititut dari sebuah media di Jakarta menugaskan saya untuk meliput ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan dampaknya terhadap hutan dan warga di daerah itu. Selain saya, ada 4 wartawan lain dari media yang bersangkutan yang disebar ke Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatra Utara, dan ditugaskan untuk meliput topik yang sama. Rencananya, semua liputan itu akan dijadikan sebuah buku. Namun karena satu dan lain hal, buku itu belum diterbitkan hingga sekarang.

Sekitar sebulan yang silam saya lantas meminta izin ke institut yang menugaskan saya, agar saya diizinkan menyebarkan liputan di Kapuas Hulu ke media. Ada 2 pertimbangan yang saya sampaikan. Pertama, karena banyak informasi yang harus diketahui oleh masyarakat tentang ekspansi kelapa sawit di hutan-hutan Kalimantan Barat berikut dampaknya. Kedua, karena soal waktu liputan yang sudah 2 tahun lalu. Saya diizinkan dengan syarat tidak menyebut nama institut yang menugaskan saya, dan saya menerima syarat tersebut.

Laporan ini cukup panjang, dan karena itu saya menuliskannya menjadi 4 laporan bersambung. Di bagian akhir laporan ini [bagian 4], saya lengkapi dengan informasi dan perkembangan terbaru tentang ekspansi perkebunan sawit yang terjadi di Kapuas Hulu. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

oleh Rusdi Mathari
Secara geografis Kabupaten Kapuas Hulu berada di garis 0,5º LU -1,4º LS dan 111,40º BB- 114,10º Bujur Timur. Dari Pontianak, ada tiga cara untuk bisa tiba di Putussibau,  ibukota kabupaten: angkutan darat, sungai dan udara.

Jika menggunakan pesawat, jarak tempuhnya hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam tapi jadwal penerbangannya tidak menentu. Tergantung dari banyaknya penumpang. Ongkosnya Rp 600 ribu sekali terbang. Pesawatnya berbaling-baling semacam Twin Otter, dan sebetulnya itu adalah pesawat yang diperuntukkan untuk para pastor.

Melalui darat, akan melintasi jarak sepanjang kurang lebih 700 kilometer dan memakan waktu sehari semalam. Itu pun dengan syarat: tidak hujan karena jalan yang menghubungkan Pontianak dan Putussibau sebagian besar bukan saja tidak beraspal, melainkan juga berlumpur. Bila hujan, jarak tempuhnya sulit ditebak. Untuk menggunakan perahu, speed boat dan sebagainya; dan mengarungi Sungai Kapuas, bersiaplah menempuh jarak sekitar  850 kilometer.

Jumlah penduduk di kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Serawak, Malaysia ini mencapai 220 ribu jiwa. Mereka tersebar di 25 kecamatan, 4 kelurahan, 156 desa dan 456 dusun. Sebagian besar dari mereka bekerja di ladang dan pertanian, dan nelayan ikan tawar. Hanya sebagian kecil yang bekerja di pertambangan batubara, berdagang dan menjadi PNS.

Data dari Pemkab Kapuas Hulu menyebutkan, persoalan utama kabupaten itu adalah pengangguran, selain kemiskinan. Dari 8 kabupaten/kota di Kalimantan Barat, indeks pembangunan manusia di Kapuas Hulu hanya berada di peringkat keempat. Peringkat itu lebih buruk ketimbang Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Ketapang dan Kota Pontianak. Untuk seluruh Indonesia, indeks pembangunan manusia di Kapuas  Hulu berada di urutan 276 dari sekitar 400 kabupaten.

Sebelum tahun 2007, masyarakat Kapuas Hulu banyak yang bekerja di penebangan kayu [illegal logging], persis seperti cerita Andreas, sopir yang mengantar saya dan rombongan aktivis Walhi dan Riak Bumi. Karena penghasilan yang diterima lumayan besar [Rp 40-50 ribu sehari pada waktu itu], banyak dari mereka kemudian meninggalkan pekerjaan di sektor lain termasuk perkebunan, perikanan dan pertanian.

Masalah mulai muncul, ketika penebangan kayu gelap itu mulai dihentikan. Dampaknya sebagian penduduk Kapuas Hulu juga mulai kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Itu terutama terjadi di wilayah-wilayah yang kawasan hutannya, sekarang mulai ditanami bibit sawit, seperti di Kecamatan Suhaid, Semitau, Batang Lupar, Badau dan Empanang.

Pemerintah daerah lalu mencari solusi untuk mengembangkan sektor perkebunan dan pertambangan. Awalnya, masyarakat didorong membuka perkebunan karet. Melalui berbagai program pemberdayaan, pemerintah kabupaten menyerahkan bibit karet cuma-cuma kepada masyarakat. Maksudnya untuk mengembangkan wilayah Kapuas Hulu menjadi kawasan konservasi: membangun berlandaskan mandat konservasi sumber daya alam. Itu meliputi hampir 60 persen dari seluruh luas kabupaten, termasuk di dalamnya Danau Sentarum, danau terbesar di Kalimantan dan terunik di dunia, yang ditetapkan sebagai kawasan taman nasional sejak 1999 lewat SK Menhut Nomor 34/Kpts-II/1999.

Setahun sekali, terutama saat musim kemarau, danau itu bisa kering total dan bisa dilintasi kendaraan seperti sepeda motor. Di musim hujan, Sentarum berfungsi sebagai penampung air yang menjaga ekosistem di sekitarnya hingga daerah aliran Sungai Kapuas.

Luasnya mencapai 132 hektare dan dikelilingi oleh tujuh kecamatan: Batang Lupar, Selimbau, Suhaid, Semitau, Jongkong, Badau, Empanang, dan Puring Kencana. Tujuh kecamatan itulah yang menjadi wilayah penyangga kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Dari danau itu, sebagian penduduk di Kapuas Hulu dan Kalimantan Barat menggantungkan kehidupan ekonomi mereka. Selain sebagai sarana untuk mengangkut barang-barang dagangan, mereka juga  membudidayakan berbagai ikan tawar.

Karena Sentarum pula, Kapuas Hulu menjadi kabupaten penghasil ikan air tawar yang cukup besar bagi propinsi Kalimantan Barat. Setidaknya dua per tiga [60 persen] ikan air tawar yang di tangkap di Kalimantan Barat berasal dari bagian hulu sungai Kapuas dan kira-kira setengahnya, dihasilkan dari Sentarum.

Data dari Dinas Pertanian dan Irigasi Kabupaten Kapuas Hulu menunjukkan, pada tahun 2003 total hasil tangkapan ikan air tawar dari Sentarum mencapai 1916 ton, termasuk arwana dan toman. Dua jenis ikan itu menjadi primadona penduduk setempat. Setahun sekali mereka memanen toman dan bisa mengantongi uang sekitar Rp 18 juta.

“Kami menyebutnya ikan tabungan karena masyarakat biasa panen, sekali dalam setahun atau satu tahun setengah, dan bisa mengumpulkan uang banyak. Bisa bikin rumah, beli barang dan sebagainya,” kata Roni Mulyadi, mantan Kepala Dusun Batu Rawan, Keboyan, Simbau.

Di Kecamatan Suhaid, penduduk setempat memanfaatkan air dari Sungai Suhaid yang berhulu dari Dana Sentarum untuk keperluan menangkat ikan arwana. Di sana ada sekitar 100 tambak ikan arwana milik masyarakat dengan nilai investasi mencapai Rp 200 miliar.

Belakangan, Abang Tambul [saat menjabat bupati Kapuas Hulu] mengembangkan daerahnya menjadi perkebunan sawit seluas 1,6 juta hektare. Tujuannya untuk mengundang investor agar mau berinvestasi di Kapuas Hulu. Alasannya, hingga tahun 2003 tidak ada investor yang masuk ke Kapuas Hulu.

Faktanya, hingga tahun 2000 hanya 9 proyek PMDN yang masuk ke Kapuas Hulu dengan nilai sekitar Rp 18,5 miliar, dan 5 proyek PMA senilai  US$ 500 ribu. Itulah data dari Biro Pusat Statistik.

Kehadiran semua proyek itu, celakanya tidak cukup mendongkrak pendapatan asli daerah Kapuas Hulu, yang hanya mencapai Rp 1 miliar. Pajak reklame sangat minim, tak ada restoran dan hotel, sementara meminta pajak dari masyarakat lokal juga bukan pekerjaan mudah.

Sejak dibuka untuk perkebunan sawit itulah, ada sekitar 300 ribu hektare lahan di Kapuas Hulu yang disetujui menjadi perkebunan sawit, hingga tahun 2009. Salah satunya milik PT Smart, anak perusahaan Grup Sinar Mas itu, yang akan mengembangkan sawit seluas 160 ribu hektare hingga 2014 mendatang.

Hitung-hitungan Tambul, jika sawit-sawit itu sudah mulai panen sekitar 4-5 tahun mendatang, akan bisa mendongkrak pendapatan per kapita penduduk Kapuas Hulu terutama di wilayah-wilayah yang ditanami sawit. Kalau itu tercapai, Kapuas Hulu akan menjadi kabupaten primadona di Kalimantan Barat.

“Saya tidak mempermasalahkan masyarakat berkeinginan untuk menanam karet, tapi untuk pengembangan lebih luas lagi hingga kini belum ada investor yang berminat, dan  [Sebaliknya] untuk sawit banyak,” kata Tambul ketika itu, seperti dikutip media lokal.

Dari Dinas Kehutanan Kabupaten Kapuas Hulu diperoleh keterangan, ada 5 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi kawasan Danau Sentarum. Dua perusahaan sudah melakukan aktivitas sejak  tahun 2007 dan 2008, yaitu PT Khatulistiwa Agro Abadi [17 ribu hektare] di wilayah kecamatan Badau dan Batang Lupar dan PT Kartika Prima Cipta [18 ribu hektare] di Kecamatan Semitau, Suhaid dan Selimbau.

“Sewaktu masuk ke Badau 2008, Sinar Mas [Smart] sudah menanam di areal seluas 8 ribu hektare,” kata Dini Ardianto, eks camat Badau itu.

Jumlah itu akan terus bertambah, karena sudah ada 9 perusahaan yang telah mengantongi izin dan siap beroperasi di sekitar Sentarum. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT Nusantara Mukti Sentosa, PT Bukit Prima Plantindo, PT Aneka Prima Pendopo, PT Plantana Razsindo, PT Setia Arto Mulia, PT Sawit Karunia Seriang, PT Sumber Sawit Sintang, PT Kirana Mega Tara, dan PT Mandala Agrisindo Perkasa. [bersambung]

Iklan