Ini salah satu buku tentang Islam versi Irshad Manji yang ditolak dan didukung sebagian umat Islam. Buku yang ditulis dengan penuh emosi, dan mungkin dendam.

Judul: Allah, Liberty and Love: The Courage to Reconcile Faith and Freedom
Penulis: Irshad Manji
Halaman: 293
Cetakan: Juni 2011
Penerbit: Random House Canada

oleh Rusdi Mathari
Seminggu lalu, seorang teman mengirimi saya paket berisi satu buku Irshad Manji. Di surat pengantar di paket itu, dia menulis dalam Bahasa Inggris: “Dear Rusdi, ini buku Irshad Manji. Bagiku, isinya menarik dan kamu harus membacanya.” Hingga kejadian memalukan di Salihara Jumat lalu itu, saya belum membaca buku Manji. Saya baru menyentuhnya sehari kemudian, dan membacanya dengan lambat karena keterbatasan saya berbahasa Inggris. Beruntung, saya kemudian menemukan link buku Manji  yang diterjemahkan cukup bagus ke dalam Bahasa Indonesia, yang membuat saya lebih memilih membaca terjemahan buku di link itu ketimbang buku aslinya.

Benar, kawan itu benar dengan surat pengantarnya, buku Manji berjudul “Allah, Liberty and Love The Courage to Reconcile Faith and Freedom” memang menarik. Buku setebal 293 halaman yang bersampul merah cerah ini, ditulis Manji dengan penuh emosi, dan mungkin penuh dendam. Dia menggugat ajaran agama, dan pula orang-orang yang merasa berhak menafsirkan ajaran agama. Isu besarnya seputar hak-hak perempuan, homoseksualitas, dan kebebasan untuk berbicara.

Manji misalnya menggugat hak perempuan untuk menjadi imam salat. Argumennya sederhana. Suatu hari, dia bertanya kepada guru agamanya [laki-laki], mengapa perempuan [dalam Islam] harus menjalankan peribadatan wajib seperti salat, jauh lebih muda atau lebih awal ketimbang anak laki-laki. Gurunya menjawab, “Karena anak perempuan lebih cepat dewasa. Mereka mencapai ‘usia wajib’ beribadah pada usia 9 tahun, sementara anak laki-laki 13 tahun.”

Akan tetapi jawaban gurunya itu justru membuat Manji penasaran. Dia menyusulkan pertanyaan: kalau memang demikian, mengapa perempuan [karena lebih dulu dewasa] tidak diberi penghargaan untuk menjadi imam salat. Setelah itu terjadi tanya-jawab, dan ujung-ujungnya sang guru hanya bisa menjawab: Allah bilang begitu dan bacalah al Quran. Manji kecewa, tapi dia terus berpikir dan bertanya.

Dalam hal homoseksualitas [di buku ini Manji terang-terangan mengaku sebagai lesbian], Manji mempertanyakan ajaran agama yang mengharamkam perilaku dan orientasi seks sesama jenis itu. Kata dia, mengapa homoseksualitas dikutuk sementara di sisi lain, al Quran menerangkan “Allah membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan”? Tak lupa, Manji menantang para pengkritiknya untuk menyampaikan argumen secara akal dan dalil al Quran untuk soal homoseksualitas ini.

Pisau terhunus
Lewat bukunya ini, Manji karena itu menyeru agar kaum Muslim tidak terpaku [taqlid] pada ajaran yang hanya disampaikan dan ditafsirkan para pemuka agama [mullah, kiai dan sebagainya]. Dia juga mengajak agar kaum Muslim tidak memahami al Quran secara harfiah. Apalagi karena al Quran menggunakan Bahasa Arab, yang disebutnya sebagai bahasa ritmis dan kompleks, yang membutuhkan ilmu tersendiri untuk memahaminya.

Bagi sebagian Muslim, tentu pemberontakan dan pemikiran Manji akan dianggap tercela dan menjijikkan. Kejadian di Salihara, Jumat malam lalu membuktikan, sebagian orang Islam tidak suka dan bahkan menentang pemikiran Manji berikut orientasi seksnya. Apalagi, di buku ini, Manji sangat memuja Yahudi [Israel] dan kebebasan ala Barat, yang oleh sebagian Muslim dianggap perusak akidah. Akan tetapi, haruskah Manji dicela dan dilaknat?

Membaca buku ini, saya justru memahami Manji, karena paling tidak, dia berusaha jujur menceritakan tentang siapa dirinya dan apa yang membebani pikiran dan hatinya dalam beragama. Sebuah pemberontakan dan pemikiran, yang semestinya memang niscaya terutama bila menghubungkannya dengan masa lalu Manji: latar belakang keluarga, lingkungan tempat Manji mendaras ajaran agama di masa kecil hingga masa remajanya, dan sebagainya yang juga dituliskan cukup rinci di buku ini.

Dilahirkan dan dibesarkan di keluarga Muslim [Syiah] yang taat, ayah Manji adalah pengusaha sukses di Uganda sebelum mereka pindah ke Kanada. Ayahnya berasal dari Gujarat [India] dan ibunya datang dari Mesir. Ayahnya adalah keturunan dari keluarga orang-orang Asia Selatan yang dibuang Inggris ke Afrika Timur untuk bekerja paksa membangun rel kereta api. Ketika Inggris hengkang, orang-orang Asia Selatan termasuk ayah Manji itulah yang menguasai ekonomi Uganda. Mereka hidup makmur. Sebelum Idi Amin [eks presiden Uganda] berniat mengusir seluruh penduduk di luar ras kulit hitam, ayah Manji dan saudara-saudaranya menjalankan bisnis penyalur mobil Mercedes-Benz, tak jauh dari Kampala, Ibukota Uganda.

Sosok sang ayah inilah, selain guru agamanya, yang tampaknya “menginspirasi” Manji bahwa Islam adalah dogma yang keras, tidak toleran, hanya memenangkan kaum lelaki, dan sebagainya. Itu bisa dimaklumi, karena di rumah, ayah Manji adalah pemegang otoritas. Manji dan saudara-saudaranya juga ibunya tidak boleh membantah. Tidak ada ruang untuk bertanya apalagi mendebat kecuali mereka akan menerima perlakuan kasar secara fisik. Manji bercerita, dia bahkan pernah dikejar-kejar oleh sang ayah dengan pisau terhunus, tapi Manji tak menjelaskan apa penyebabnya.

Benar, di buku ini, tidak ada kata-kata “benci” yang ditulis oleh Manji, tapi sulit untuk tidak menafsirkan, Manji sangat membenci figur sang ayah dan juga guru agamanya yang rigid. Bahkan di bab awal buku ini, bertebaran kalimat yang menghukum sang ayah dan para guru agamanya. “…di rumahku sendiri, kepalan tinju Ayah menguasai seluruh anggota keluarga…” “Pada kasusku: aku mempunyai seorang ayah penuh kekerasan yang kebanyakan praktik agamanya hanya untuk pamer belaka…”

Kalau ada yang bertanya, apakah kebencian kepada figur sang ayah dan guru agama itu, lalu membuat Manji membenci sosok lelaki dan karena itu dia lantas memilih menjadi lesbian, dan selanjutnya menggugat ajaran agama; tentu hanya Manji yang bisa menjawab. Namun pemikiran dan juga orientasi seks Manji yang dihubungkan dengan ajaran agama di buku ini, sebetulnya paradoks dengan pemikiran Manji sendiri dan dalil yang digunakannya. Dari buku ini terbaca, dia masih terjebak oleh ruang dan waktu: masa kecil, hubungan keluarga, pendidikan keagamaan, dan sebagainya yang silih berganti menghantam dinding kemanusiaannya. Kesumat itu. Mirip kisah di film Zathura atau Jumanji yang mencekam.

Di satu sisi, dia menggunakan dalil-dalil agama secara harfiah untuk membenarkan atau setidaknya mendukung orientasi seksnya, tapi di sisi lain dia justru menyeru umat Muslim untuk tidak memahami al Quran secara harfiah. Dia mengaku tidak memahami Bahasa Arab yang dinilai ritmis dan kompleks, tapi dia justru menggunakan terjemahan ayat-ayat al Quran dari Bahasa Arab yang tidak dipahaminya untuk mendukung pemikirannya.

Manji benar, ajaran agama bukan hanya soal ritual di tempat-tempat ibadah tapi dia mestinya juga paham, agama dan ajarannya bukan pula semata wacana, atau pintar berdalil dan tidak berdalil melainkan soal rasa dan pelaksanaan kata-kata. Manji boleh saja beragumen “Allah membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan” untuk membenarkan pilihan orientasi seksnya, tapi bahkan ketika Allah misalnya membenarkan orientasi homoseksualitas, dia mestinya harus pula bertanya: mengapa [kalau begitu] Allah masih dia percaya, dan ditambahi predikat “pengasih” dan “penyayang”?

Maka seperti halnya pertanyaan Manji “Islam versi siapa?” buku ini adalah pemikiran tentang Islam versi Manji. Siapapun boleh setuju boleh menolak pemikiran dan buku Manji, sepanjang tidak menggunakan kekerasan fisik. Allah terlampau menarik untuk hanya dijadikan alasan menolak dan mendukung Manji, dan Dia tentu saja bukan wacana.

Iklan