PT Bhakti Investama, perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo [Grup MNC] pernah diselidiki Kejaksaan Agung karena dugaan rekayasa pajak. Kemarin, pegawai perusahaan itu ramai disebut ikut ditangkap petugas KPK karena kasus suap kepada orang pajak.

oleh Rusdi Mathari
Corporate Secretary Grup MNC, Arya Sinulingga menolak anggapan, ada pegawai PT Bhakti Investama Tbk. yang terlibat kasus penyuapan kepada Tomy Hendratno, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi-Kantor Pajak Pratama Sidoarjo, Jawa Timur. Dikutip detikcom hari ini, Arya meyakinkan, tidak ada pegawai di perusahaannya bernama James Gunardjo. “100 persen bukan pegawai Bhakti Investama.”

Pernyataan Arya itu adalah bantahan pertama dari pejabat Grup MNC, sejak petugas KPK menangkap Tomy, kemarin siang. Tomy ditangkap petugas KPK di sebuah rumah makan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, berikut barang bukti uang sebanyak Rp 285 juta dan satu orang yang belum jelas namanya.

Sebagian media menulis, yang ikut ditangkap bersama Tomy adalah Jimmy Gunardjo. Sebagian media lainnya, seperti detikcom menulis James Gunardjo. Nama Jimmy atau James itulah yang di kalangan wartawan di KPK disebut-sebut sebagai pegawai Bhakti Investama. Sementara menurut Juru Bicara KPK, Johan Budi, pihak KPK sedang mendalami kasus itu. “Perusahaannya bisa dari Jawa Timur, bisa juga dari Jakarta.”

Nasdem dan Golkar
Grup MNC adalah induk perusahaan Bhakti Investama, kelompok usaha yang dikuasai Hary Tanoesoedibjo. Nama yang disebut terakhir adalah pengusaha yang beberapa masuk dalam “Daftar 40 Orang Terkaya” di Indonesia versi majalah Forbes. Usahanya cukup banyak. Mulai dari keuangan, penerbangan, telekomunikasi hingga media. Untuk media, Grup MNC antara lain menguasai RCTI, GlobalTV, MNC TV, MNC Sky Vision [Indo Vision], sejumlah stasiun TV kabel, sejumlah media cetak dan media online Okezone.

Di penghujung 2011, Hary Tanoe menjadi pemberitaan menyusul keputusannya  bergabung dengan Partai Nasional Demokrat [Nasdem]. Langkahnya “diamini”  oleh banyak petinggi Grup MNC yang lantas juga aktif di Nasdem. Nasdem adalah partai baru yang didirikan oleh Surya Paloh, bos besar dari Grup Media yang mengendalikan koran Media Indonesia, Lampung Post, tabloid Prioritas dan stasiun televisi Metro TV. Di partai itu, Hary Tanoe menjabat sebagai ketua Dewan Pakar, dan diunggulkan sebagai pengganti Surya Paloh.

Sebagian orang Golkar menyebut, Nasdem berisi rombongan orang Golkar yang sakit hati kepada Aburizal Bakrie [Ical], setelah Surya Paloh tersingkir dari perebutan ketua umum Golkar di Pekanbaru, Riau, 2009. Ical adalah ketua umum Partai Golkar yang dikenal sebagai bos besar dari Grup Bakrie. Bisnis dari kelompok usaha ini meliputi  sektor keuangan, pertambangan, telekomunikasi hingga konstruksi. Di media, Grup Bakrie punya Grup Visi Media yang mengontrol ANTV, TVOne, dan media online Vivanews.

Hal yang paling menyedihkan dari perseteruan Surya Paloh [Nasdem] dan Ical [Golkar] adalah digunakannya media milik mereka, untuk saling menyerang. Ical [Golkar dan kelompok usahanya] menjadi bulan-bulanan Metro TV, begitu pula sebaliknya Surya [Nasdem dan kelompok usahanya] menjadi target TVOne. Tentu saja media milik Hary Tanoe akan lebih memilih berada dalam satu barisan dengan media milik Surya untuk bersikap terhadap Ical dan Golkar.

Namun persaingan antara Hary Tanoe [Bhakti Investama] dan Ical [Grup Bakrie] yang sebetulnya, bisa dilihat di lantai bursa. Tahun ini, Bhakti Investama memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 24,9 triliun. Jumlah itu masih berada di bawah kapitalisai Bumi Resources yang mencapai Rp 26 triliun. Namun dari sisi keuntungan, saham  MNC lebih unggul ketimbang Bumi Resource.

Tahun lalu MNC juga membukukan keuntungan bersih hingga US$ 119 juta, dengan tingkat pengembalian aset [RoA] sebesar 12%, melewati yang bisa dicapai oleh Bumi Recources milik Grup Bakrie. Anak perusahaan Grup MNC yaitu MNC Sky Vision kini bahkan bersiap-siap melepas saham lewat penawaran umum saham perdana [IPO].

Kini, apakah setelah [kemarin] petugas KPK menangkap Tomy, Hary Tanoe akan bernasib sama dengan Ical yang kelompok usahanya telanjur diramaikan [media] sebagai pengemplang pajak? Bagaimana media [Grup MNC], Grup Media [Surya Paloh], dan  Grup Visi Media [Grup Bakrie] akan melihat kasus penangkapan orang pajak ini?

Sementara menunggu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari mendatang, mungkin ada baiknya untuk mengingat pernyataan Basrief Arief. Akhir tahun lalu, jaksa agung itu mengaku, telah memerintahkan bawahannya untuk menelaah rekayasa pembayaran pajak yang dilakukan Bhakti Investama. Kata Basrief waktu itu, temuan itu sudah diserahkan kepada dirjen pajak untuk diselidiki.

Bhakti Investama juga pernah berselisih dengan kantor pajak untuk urusan pembayaran pajak 2008. Mereka mengklaim mengalami kerugian Rp 249,83 miliar tapi kantor pajak justru menilai Bhakti Investama untuk Rp 55 miliar. Perusahaan itu mengajukan keberatan tapi ditolak. Lalu banding dan menang, Juli tahun lalu.

Iklan