SoehartoKetika berpidato di Istana Merdeka, Kamis, 21 Mei 1998; Soeharto sama sekali tak menyampaikan kata-kata  mundur atau mengundurkan diri sebagai Presiden RI.

oleh Rusdi Mathari
Hari ini 15 tahun yang lewat, Soeharto berpidato untuk kali terakhir sebagai Presiden RI. Mahasiswa di Gedung DPR bersorak-sorak  menyambut pidato itu. Besoknya tanggal 22 Mei, sebagian besar wartawan ramai menulis berita di halaman depan media mereka dengan headline di bawah judul  “Soeharto Mengundurkan Diri” atau semacam itu.

Saat itu tak ada yang memperhatikan betul kebenaran judul dan isi berita “Soeharto Mengundurkan Diri” itu. Sebagian orang larut dengan suka-cita karena merasa telah menumbangkan sebuah rezim, atau berharap nasib mereka akan berubah sesudahnya. Persoalannya: apa betul Soeharto mengundurkan diri atau mundur?

Seminggu yang lalu, saya berbincang dengan Raymond Toruan, eks pemimpin umum koran The Jakarta Post dan berdiskusi soal tidak akuratnya wartawan menulis judul-judul berita begitu pula dengan isi beritanya. Dia menjelaskan, salah satu contoh ketidakakuratan wartawan adalah penulisan judul berita untuk pidato terakhir Soeharto. Banyak wartawan yang menulis judul di medianya: “Soeharto Mengundurkan Diri”.

Raymond bercerita, redaktur di The Jakarta Post pun hampir menuliskan judul yang serupa, tapi batal setelah rekaman pidato Soeharto kembali diputar di redaksi The Jakarta Post beberapa jam sebelum naik cetak.

Ceritanya, malam sebelum naik cetak; Susanto Pudjomartono [saat itu pemimpin redaksi The Jakarta Post] berdiskusi dengan Raymond, seorang redaktur dan seorang penyelaras bahasa Inggris berkebangsaan Amerika untuk menentukan judul yang harus muncul di The Jakarta Post, keesokan harinya. Susanto mengusulkan kepada Raymond sebuah judul “Soeharto Resign”. Raymond tak seketika setuju. Dia sebaliknya meminta redaktur The Jakarta Post untuk mendengarkan lagi rekaman pidato Soeharto. “Dengarkan baik-baik,” kata Raymond.

Hasilnya: tidak ada kata “mundur” atau “mengundurkan diri” yang disampaikan Soeharto dalam pidato terakhirnya di Credentials Room, Istana Merdeka. Kata-kata Soeharto yang ditafsirkan sebagai “mengundurkan diri” oleh banyak wartawan lalu ditulis di media mereka adalah “… Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan Pernyataan ini, pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998.” Judul “Soeharto Resign” karena itu menurut Raymond bukan saja tidak pas tapi juga tidak akurat.

Si penyelaras bahasa mencoba mendebat alasan Raymond. Raymond yang asli Batak menjelaskan, sebelum menuliskan judul dan berita tentang pidato Soeharto itu, mestinya harus pula dipahami tentang budaya Jawa yang memengaruhi sikap dan ucapan Soeharto. Sebagai orang Jawa, kata Raymond, Soeharto tahu betul tidak mengenal istilah mundur. Pilihannya adalah, berhenti, tidak peduli, atau menyepi.

Dengan fakta rekaman pidato Soeharto yang diperdengarkan kembali dan penjelasan Raymond, rapat para petinggi The Jakarta Post malam itu bersepakat menurunkan headline dengan judul “I Quit”. Keesokannya, judul itu tentu terasa asing terutama di tengah judul berita media termasuk media asing yang hampir seragam menulis “Soeharto Mundur.” Namun belakangan, media asing yang sebelumnya latah ikut menuliskan judul “Soeharto Mengundurkan Diri” selalu mengutip judul  “I Quit” dari The Jakarta Post untuk menulis kelanjutan berita tentang Soeharto yang menyatakan berhenti sebagai Presiden RI.

Fakta tentang ini tak banyak diketahui orang termasuk para wartawan, tapi saya menyarankan, cobalah cari lalu baca kembali naskah pidato Soeharto yang disampaikan di Istana, 21 Mei 1998 itu. Dari sana, Anda mungkin akan ikut mengamini bahwa hanya The Jakarta Post yang paling akurat menuliskan judul dan berita tentang pidato terakhir Soeharto sebagai Presiden RI.

Bagi saya yang wartawan, penulisan judul dan berita yang akurat seperti yang ditulis oleh wartawan The Jakarta Post semacam itu mestinya menjadi kebanggaan seorang wartawan. Judul itu bukan saja sesuai fakta, tapi juga tidak menipu para pembacanya.


*Artikel ini ditulis sebagai rasa hormat kepada guru jurnalistik saya; mas Bambu, mas Santo dan mas Raymond.

Iklan