learncodeforjournalismwithme-logo-blogFakta: 85 persen wartawan di Indonesia tidak pernah membaca dan memahami Kode Etik Jurnalistik.

oleh Rusdi Mathari
Semalam Happy Sulistyadi menulis protes di dinding Facebooknya. Dia memprotes berita detik.com untuk isu kasus dugaan korupsi Luthfi Hasan sebab masih menuliskan nama siswa perempuan SMK yang diduga memiliki hubungan spesial dengan eks presiden PKS itu. Kata dia, berita yang diunggah pada Rabu 22 Mei 2013, jam 21.48 WIB; menyalahi Kode Etik Jurnalistik karena menyebut nama, identitas, ciri-ciri, dan gambar [rumah] si perempuan.

Happy benar, dan saya sepakat dengan dia. Sebagai eks redaktur pelaksana hukum majalah Tempo, Happy niscaya hafal dan paham soal semacam ini.

Salah satu pasal Kode Etik Jurnalistik menyebutkan, “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.” Tafsir dari pasal ini adalah “Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.”

Di berita-berita soal siswa SMK itu, celakanya bukan hanya wartawan detik.com yang terang menyebutkan nama si perempuan. Sebagian besar wartawan media juga melakukan hal yang sama, lengkap dengan alamat rumah dan latar belakang keluarga yang celakanya pula hanya berdasarkan wawancara dengan para tetangga pemilik rumah. Para wartawan itu, seolah berlomba menjadi paling terdepan untuk mengungkapkan identitas si siswa SMK dengan judul-judul yang bombastis pula.

Inilah persoalan jurnalistik di Indonesia di era kebebasan pers. Aliansi Jurnalis Independen [AJI] pernah menemukan fakta, 85 persen wartawan di Indonesia tidak pernah membaca dan memahami Kode Etik Jurnalistik. Itu berarti sekitar 25 ribu dari 30 ribuan wartawan di Indonesia, tidak tahu bagaimana proses memperoleh dan menulis berita, dan bersikap sebagai wartawan profesional. Karena ketidaktahuan dan malas membaca Kode Etik Jurnalistik, hasil kerja para wartawan itu juga terlihat menyedihkan.

Mereka tak ubah robot yang hanya terus berproduksi tapi tidak tahu etika. Dalam beberapa kasus, celakanya mereka kemudian merasa sudah mengabarkan kebenaran; kendati berita mereka sebetulnya hanya sampah yang membunuh orang lain.

Iklan