Multiracial Hands Surrounding the Earth GlobeTidak ada satu ayat di Al Quran juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah.

oleh Rusdi Mathari
Namanya Angel. Saya memanggilnya Ito. Dia asli Brastagi, Sumatra Utara dan di Jakarta dia membuka kios, berjualan buah.  Saya dan istri saya sering datang ke kiosnya, yang tak jauh dari rumah kami. Sementara istri saya memilih buah, saya sering mengajaknya bicara.

Malam Ahad dua hari lalu, saya dan Ito berbicara soal tempat ibadah. Saya bertanya, ke gereja mana dia beribadah.  Ito menyebut sebuah nama organisasi gereja tapi tempat beribadahnya bukan di gereja melainkan di sebuah aula milik markas sebuah kesatuan di TNI. Tak ada keluhan dari nada bicaranya bahwa mendirikan tempat ibadah di negeri ini sangat sulit, tapi saya merasa malu.

Sungguh terasa sulit menjadi kaum minoritas. Di mana saja di seluruh dunia, mereka selalu mendapat tekanan termasuk untuk mendirikan tempat ibadah. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua, dan selalu diminta menghormati kaum mayoritas. Kaum mayoritas itu, celakanya sering menyandarkan alasan penekanan mereka kepada ajaran agama. Hingga era 60-an, kaum kulit hitam di Amerika Serikat bukan saja dianggap tidak berhak mendapatkan fasilitas negara melainkan pula diburu dan dibantai; juga berdasarkan alasan perintah ajaran agama.

Muslim di Indonesia yang mayoritas, menurut saya mestinya bisa memberi dan menjadi contoh bahwa menjadi mayoritas tidak selalu identik sebagai penindas. Setidaknya karena tidak ada satu ayat di Al Quran juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah. Tidak pula ada larangan untuk berbeda keyakinan karena Islam adalah agama yang merahmati seluruh alam. Tidak ada ajaran kebencian di sana. Tidak juga diajarkan untuk curiga dan berburuk sangka.

Ketika menulis ini, saya masih terkenang dengan ucapan Ito, malam Ahad itu: Setiap kebaktian, kami anggota jemaah gereja berpatungan mengumpulkan dana agar bisa membayar sewa aula, tempat kami memuji Tuhan; dan saya terus malu.

Iklan