Phone at aircraftAktor Hollywood, Alec Badlwin pernah dikeluarkan dari pesawat karena menolak mematikan gadget-nya. Di Arab Saudi, seorang kapten dihukum cambuk hingga 70 kali karena ketahuan menyalakan ponsel di dalam pesawat. Di Indonesia, ada aturan yang melarang penumpang mengaktifkan ponsel di dalam pesawat.

oleh Rusdi Mathari
Dua hari terakhir ini Sriwijaya Air sedang memperoleh pemberitaan pers gara-gara insiden pemukulan oleh Zakaria Umar Hadi terhadap Nur Febriani, pramugari maskapai penerbangan itu. Zakaria, pejabat lokal untuk penanaman modal daerah  Bangka Belitung dilaporkan memukul [dengan gulungan koran] Febriani, beberapa saat setelah pesawat yang ditumpanginya dari Jakarta mendarat di Pangkalpinang. Dia mengaku naik pitam karena teguran Febriani yang memintanya mematikan ponsel dinilai tidak sopan. Setelah kejadian pemukulan, Zakaria meminta maaf dengan berbagai alasan tapi Febriani tetap melaporkan kelakuan Zakaria ke polisi.

Sikap Febriani perlu didukung tapi ada sesuatu yang lebih serius dari kejadian itu: Masih banyak penumpang pesawat termasuk pejabat seperti Zakaria yang tidak mengerti bahwa larangan mengaktifkan ponsel di dalam pesawat diatur oleh undang-undang karena dinilai sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan. Catatan dari Laporan Sistem Keselamatan Penerbangan [ASRS] menunjukkan, banyak kejadian pesawat gagal mendarat atau melenceng dari jalur penerbangan yang sudah ditentukan misalnya, disebabkan oleh ponsel dan sejenisnya yang aktif di dalam pesawat.

Koran The Australian [23 September 1998] pernah memberitakan, pesawat Qantas hampir gagal mendarat di Bandara Heathrow London gara-gara pemutar cakram lagu milik penumpang yang masih aktif memengaruhi sistem navigasi. Pesawat Slovenia Air yang terbang menuju Sarajevo pernah pula diberitakan mendarat darurat karena ada ponsel yang tersimpan di bagasi pesawat dalam keadaan aktif. Kejadian paling tragis menimpa pesawat Crossair yang jatuh di Swiss dan menewaskan seluruh penumpangnya [7 penumpang dan 3 awak kabin].

Pesawat itu menukik ke tanah tidak lama setelah lepas landas dari Banda Zurich, 10 Januari 2000. Penyelidik kecelakaan semula berkesimpulan, Crossair jatuh karena kehilangan kendali yang disebabkan oleh kesalahan manusia. Belakangan muncul kesimpulan lain: Kecelakaan Crossair disebabkan oleh kerusakan sistem navigasi dan komunikasi pesawat yang terganggu oleh sebuah ponsel yang aktif di dalam pesawat.

Ada banyak teori dan penjelasan tentang mengapa ponsel dilarang dinyalakan di dalam pesawat. Salah satunya seperti yang diterangkan di situs Fakultas Teknik Universitas Indonesia yaitu frekuensi gelombang radio yang dikeluarkan dan diterima oleh ponsel sama dengan frekuensi dari yang dikeluarkan dan diterima oleh peralatan komunikasi di dalam pesawat. Karena sama, ketika ponsel diaktifkan di dalam pesawat, gelombang radionya juga akan masuk ke gelombang radio peralatan komunikasi yang digunakan para pilot. Singkatnya peralatan komunikasi pilot di kokpit akan terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan dari ponsel yang sedang mencari sinyal.

Misalnya, sewaktu peralatan komunikasi di pesawat menyebutkan pesawat berada di ketinggian 2.000 kaki; bisa jadi yang terdengar oleh pilot adalah 20 ribu  kaki karena yang terdengar hanya angka depannya yaitu 2. Kalau pilot yang menerima “info” itu menganggap pesawatnya terlalu tinggi, ia dapat mengambil keputusan untuk  menurunkan ketinggian dan bisa-bisa pesawat menabrak sesuatu. Kecelakaan yang menimpa Crossair 13 tahun silam dimungkinkan karena pilot diduga salah menerima informasi tentang ketinggian pesawat.

Itulah sebabnya banyak otoritas penerbangan di seluruh dunia yang kemudian melarang keras pengunaan ponsel di dalam pesawat. Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat [FAA] bahkan sudah mengeluarkan larangan penggunaan ponsel di dalam pesawat sejak 1991. Swiss melarang penggunaan ponsel di dalam pesawat menyusul kecelakan pesawat Crossair.

Di Indonesia, ketentuan semacam itu diatur oleh surat instruksi Direktur Keselamatan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara No. AU/4357/DKP.0975/2003 yang melarang penggunaan ponsel di pesawat. Beleid itu diperkuat dengan Undang-Undang  No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Masalahnya di sini, banyak penumpang pesawat seperti Zakaria yang tidak paham tentang aturan itu di tengah gelombang kepemilikan ponsel yang luar biasa saat ini. Aturan itu pun jarang disosialisasikan dan para awak maskapai pun sekadar formalitas mengumumkan larangan penggunaan ponsel dan sejenisnya di dalam pesawat tanpa benar-benar mengecek atau menegur penumpang yang masih menyalakan ponsel seperti yang dilakukan Febriani kepada Zakaria.

Mestinya kalau penggunaan ponsel di dalam pesawat adalah sesuatu yang serius bagi keselamatan penerbangan, pelaksanaan aturan pelarangan itu juga dilakukan serius oleh otoritas penerbangan. Misalnya tidak sekadar hanya berupa instruksi kepada para awak kabin untuk mengumumkannya di dalam pesawat, melainkan juga memanfaatkan petugas boarding untuk mengecek ponsel penumpang. Lewat cara itu para penumpang diharapkan mengerti bahwa penggunaan ponsel di dalam pesawat memang berbahaya bagi keselamatan penerbangan. Kalau itu sudah dilakukan dan penumpang masih rewel; apa boleh buat, ia  tidak diperbolehkah naik atau harus dikeluarkan dari pesawat.

Kejadian itu pernah menimpa aktor Hollywood, Alec Badlwin belum lama ini. Dia dikeluarkan dari American Airlines karena menolak mematikan gadget-nya sewaktu pesawat akan lepas landas dari bandara Los Angeles.

Hampir sama dengan Zakaria, Badlwin naik pitam. Bedanya dengan Zakaria, Badlwin tidak memukul pramugari melainkan protes lewat Twitter kendati American Airlines bergeming. Bagi maskapai itu, aturan tetap aturan dan harus ditegakkan termasuk untuk aktor terkenal seperti Badlwin.

Di Arab Saudi, hukuman bagi penumpang yang membandel menyalakan ponsel di dalam pesawat bisa lebih berat. Tahun lalu, seorang tentara berpangkat kapten negara itu menjalani hukuman 70 kali cambukan setelah pengadilan menyatakan dia bersalah karena kedapatan mengaktifkan ponsel dalam sebuah penerbangan domestik di negaranya.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Blog Tempo.

Iklan