6394165Inilah karya Putu Wijaya yang pertama sejak dia pulih dari pendarahan otak setahun yang silam. Membongkar banyak kemunafikan dan kebohongan di masa lalu dan juga di zaman sekarang.

oleh Rusdi Mathari
Semasa menjadi mahasiswa, I Gusti Putu Wijaya selalu membawa serta perempuan [dan berganti-ganti] setiap kali pulang ke kampungnya di Bali. Sekolahnya tak pernah beres. Begitulah kata Niniek L Karim semalam.

Dia adalah Gusti Biyang, seorang nenek keturunan bangsawan di drama “Bila malam bertambah malam” yang dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta sejak tadi malam. Nenek itu kecewa lantaran I Gusti Ratu Ngurah anaknya yang mendadak pulang ke Bali meminta izin untuk menikah dengan Nyoman Niti, bedinde Gusti Biang. “Jangan kamu seperti siapa itu… I Gusti Putu Wijaya. Dia setiap pulang ke Bali selalu membawa perempuan. Berganti-ganti setiap tahun,” katanya.

Penonton tertawa begitu pula Putu karena tentu saja Niniek bercanda dan sekadar berimprovisasi. Drama itu dipentaskan di Teater Salihara [sebagai rangkaian dari “HelaTeaterSalihara”] setelah 43 tahun silam dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan pernah pula ditayangkan di TVRI pada tahun 1989.  Sama dengan pementasan di Taman Ismail Marzuki, Putu adalah sutradara “Bila malam bertambah malam” di Salihara; dan itu adalah penampilannya yang pertama [bersama Teater Mandiri] sejak dia pulih dari pendarahan otak tahun silam.

Drama itu diadaptasi dari novel Putu berjudul sama yang diterbitkan Pustaka Jaya [1966]. Di masanya, novel itu menjadi best seller, dicetak ulang beberapa kali, dijadikan bahan penelitian dan diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Cina. Putu yang kebetulan berasal dari kaum bangsawan [Ksatria] dianggap sebagai sastrawan yang berani medobrak tatanan sosial di Bali, yang masa itu begitu ketat menerapkan kelas sosial [kasta].

Tersebutlah Gusti Biyang, janda yang ditinggal mati oleh suaminya I Gusti Ketut Sumantri. Dia yang tinggal di sebuah Puri di Tabanan selalu membanggakan kebangsawannya sebagai keturunan darah Majapahit, juga suaminya yang dianggap sebagai pahlawan kemerdekaan. Baginya bangsawan harus berteman dengan bangsawan, kaum rendahan harus berteman dengan kelompoknya.

Di usianya yang renta, Gusti Biyang yang pikun kesepian karena hanya ditemani oleh Nyoman [diperankan dengan bagus oleh Fien Herman] dan Wayan. Nyoman adalah anak pungut dari Desa Meliling yang diasuh sejak berusia dua tahun, dan Wayan adalah pejuang kemerdekaan, teman seperjuangan I Gusti Ngurah Rai, pahlawan kemerdekaan itu. Dia teman sejak kecil mendiang suami Gusti Biyang dan menghabiskan  hidupnya sebagai pembantu setia di keluarga itu.

Suatu malam Gusti Biyang bertengkar dengan Nyoman dan Wayan. Awalnya dengan Nyoman lalu merembet ke Wayan. Nyoman yang berjanji kepada Ratu Ngurah untuk merawat ibunya, oleh Gusti Biyang dianggap hendak meracuninya dan akan merampok semua kekayaannya. Dengan Wayan dia bertengkar gara-gara surat dari Ratu Ngurah yang menceritakan hendak menikahi Nyoman anak pungut dari kasta Sudra. Gusti Biyang menentang niat Ratu Ngurah karena anak satu-satunya itu sudah dia jodohkan [sedari kecil] dengan Sagung Rai, gadis dari kaum bangsawan. Wayan dianggap bersekongkol dengan Nyoman.

Nyoman diusir dari Puri begitu juga dengan Wayan. Sebelum pergi, Gusti Biyang meminta Wayan agar membuka buku catatan yang berisi semua perincian yang pernah dikeluarkan untuk merawat dan membesarkan Nyoman. Catatan itu dibaca oleh Gusti Biyang dan Nyoman diharuskan melunasinya berikut rentenya.

“Nanti catatan bagianmu ada tersendiri,” kata Gusti Biyang kepada Wayan yang mengeluhkan catatan yang dianggapnya tidak masuk akal.
“Apa Gusti? Tiyang juga punya utang?” tanya Wayan.
“Ya. Jumlahnya Rp 180 miliar,” jawab Gusti Tiyang.
“Rp 180 miliar? Waduh kok kayak hartanya Djoko Susile,” kata Wayan.

Tentu saja nama Djoko Susile tak ada di novel dan naskah drama “Bila malam bertambah malam.” Itu hanya bisa-bisanya Yanto Kribo yang memerankan Wayan di pentas Salihara. Dia mungkin hendak menyindir jenderal polisi yang tersangkut perkara dugaan korupsi, Djoko Susilo. “Saya tidak takut pada leak, demit, vampir. Saya tidak takut pada polisi. Eh… maksudnya polisi tidur,” kata Wayan.

Novel dan drama “Bila malam bertambah malam” memang penuh dengan kritik sosial tapi lucu. Seolah hendak membongkar dan menertawakan banyak kemunafikan dan kebohongan di masa lalu dan juga di zaman sekarang. Ketika seorang pengkhianat bisa dinobatkan sebagai pahlawan dan pahlawan yang sebenarnya bisa dicap sebagai pengkhianat dan pemberontak. Ketika lelaki yang nyatanya impoten dan tidak sanggup bersanggama dengan istrinya bisa digambarkan sebagai pejabat gagah pengambil keputusan, dan orang-orang kere dianggap sebagai warga kurang gizi yang layak dapat subsidi. Ketika kelompok yang melakukan kekerasan dan penistaan terhadap manusia bisa dianggap sebagai kaum paling saleh dan pemilik kebenaran, dan orang-orang yang hanya hendak memuji Tuhan dianggap sebagai biang kerok.

Simaklah sewaktu I Gusti Ratu Ngurah [diperankan Arswendy Nasution] kemudian berkata kepada ibunya soal darah kebangsawanan itu. “Tiyang tidak pernah merasa derajat tiyang lebih tinggi dari orang lain. Kalau tiyang dilahirkan di Puri, itu justru menyebabkan tiyang harus berhati-hati. Harus pintar berkelakuan baik agar bisa jadi teladan orang…”

Malam ini adalah malam terakhir “Bila malam bertambah malam” dipentaskan di Salihara. Setelah lebih 40 tahun ditulis oleh Putu Wijaya, Nyoman Niti dan I Gusti Ratu Ngurah kini sudah memiliki tiga orang anak. Kalau tak percaya tanyakanlah hal itu pada Fien Herman dan Arswendy.

Tulisan ini juga bisa dibaca di BlogTempo.

Iklan