offshore_tax_rulesMark Twain bilang Mauritius adalah fotokopi surga, dan Joseph E. Stiglitz bilang Mauritius adalah ajaib. Kini ada investor dari surga yang ajaib itu menawar Bank Mutiara [eks Bank Century].

oleh Rusdi Mathari
Sebelum menciptakan surga, Tuhan telah menciptakan Mauritius; dan Mauritius adalah salinan atau versi lain surga di dunia. Itulah gambaran Mark Twain tentang keindahan Mauritius meskipun Mauritius [di Afrika] lebih mudah didatangi ketimbang surga. Negara itu adalah negeri kepulauan di barat daya Samudra Hindia, berjarak sekitar 900 kilometer ke arah timur Madagaskar. Luasnya hanya 1.865 kilometer persegi tapi negara itu memiliki garis pantai sepanjang 330 kilometer yang sebagian besar berpasir putih, dan tentu saja indah.

Karena keindahan pantainya itu, Mauritius banyak diminati pelancong dan bisnis pariwisata telah ikut menggerakkan perekonomian Mauritius. Setiap tahun sejutaan turis datang ke Mauritius dan menghabiskan banyak uang di sana. Dua tahun lalu jumlah penumpang pesawat ke Mauritius tercatat hampir 1,3 juta orang dengan jumlah turis hampir sejuta orang. Bank of Mauritius mencatat penerimaan dari sektor wisata pada tahun lalu mencapai Rs 44 miliar [Rs 20 setara dengan Rp 6.450].

Mauritius [atau Mauritania] akan tetapi tak hanya tentang surga keindahan pantai dan bisnis turis. Negara itu sudah sejak lama juga dikenal sebagai surga investasi dan menjadikan Mauritius sebagai salah satu negara di Afrika yang pendapatan penduduknya tinggi. Hingga setidaknya dua tahun lalu, pendapatan per kapita [PDB] Mauritius adalah US$ 6.700 kendati negara itu sama sekali tak punya sumber daya alam seperti tambang dan sebagainya.

Benar, Dana Moneter Internasional atau IMF tahun lalu menyebut pertumbuhan PDB Mauritius turun 3,3% tapi hingga tahun lalu itu pula, hampir 90 persen rakyat Mauritius sudah memiliki rumah [pribadi]. Di sana, semua anak usia sekolah bersekolah gratis hingga ke tingkat perguruan tinggi dan disediakan pula sarana angkutan yang juga gratis bagi mereka. Semua warganya juga bisa berobat dan dirawat di rumah sakit tanpa harus mengeluarkan sepeser uang.

Kemakmuran Mauritius itulah yang membuat Joseph E. Stiglitz [guru besar dari Columbia University dan peraih Nobel Ekonomi 2001] terheran-heran sewaktu dia mengunjungi Mauritius dua tahun silam. Sementara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terengah-engah mengetatkan anggaran, Mauritius kata Stiglitz berhasil membangun ekonomi yang beragam, sistem politik yang demokratis, dan jaring pengaman sosial yang kuat dalam 10h tahun terakhir. Stiglitz menyarankan negara-negara lain termasuk Amerika Serikat agar belajar dari pengalaman Mauritius membangun kemandirian ekonomi [baca “The Mauritius Miracle,” project-syndicate.org, 7 Maret 2011].

Untuk soal investasi yang terus tumbuh, Mauritius menjadi menarik bagi para investor luar negeri karena pemerintahnya memberikan kebebasan pajak alias tax haven bagi para investor. Modelnya dirancang bermacam-macam. Antara lain bisa dibuat seolah-olah perusahaan milik investor asing adalah milik warga lokal dan sebab itu tak perlu membayar pajak termasuk ketika perusahaan milik investor mendapat laba. Perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sana tak pula diwajibkan mengeluarkan atau melaporkan neraca keuangan kecuali perusahaan-perusahaan yang melakukan “bisnis dosa.” Pendek kata, hukum di Mauritius menjamin kerahasiaan semua informasi investor dan yang membocorkannya dikenakan hukuman berat.

Tentu saja, fasilitas bebas pajak yang diterapkan Mauritius dan di beberapa negara lain seperti Singapura, Virgin Islands, Cook Islands dan sebagainya; mendapat banyak penolakan dari banyak negara. Bebas pajak dianggap sebagai biang kerok berkurangnya setoran pajak dari para investor di negara masing-masing setelah mereka lebih memilih menyimpan dananya di negara-negara yang menyediakan fasilitas tax haven. Sewaktu bertemu di London empat tahun lalu, para pejabat keuangan dari negara-negara G20 secara khusus membahas tax haven. Sri Mulyani waktu itu bahkan meminta tax haven harus dihapus karena dampak yang diterima negara seperti Indonesia adalah penerimaan pajak yang tidak maksimal.

Seruan dari Sri Mulyani pastilah bukan tanpa dasar. Akhir April lalu muncul laporan dari International Consortium of Investigative Journalists bahwa sembilan dari 11 keluarga terkaya di Indonesia menyembunyikan hartanya di negara-negara bebas pajak. Harta para taipan yang ditempatkan di negara-negara bebas pajak itu ditaksir mencapai US$ 36 triliun

Mereka disebut sebagai orang-orang yang sejauh ini mendominasi peta ekonomi dan politik di Indonesia. Enam di antara mereka dikenal sebagai pengusaha-pengusaha yang dekat dengan Soeharto [Presiden RI ke 2]. Salah satunya adalah keluarga Mochtar Riady, pemilik kerajaan Grup Lippo [baca “Billionaires Among Thousands of Indonesians Found in Secret Offshore Documents,” icij.org, 9 April 2013].

Empat tahun yang lalu, situs inilah.com pernah memberitakan pemilik saham beberapa perusahaan di Indonesia banyak yang tercatat berasal dari Mauritius. Antara lain perusahaan-perusahaan di bawah bendera Grup Bakrie dan Putra Sampoerna; seperti pemilik saham PT Bakrie Nirwana Resort, PT Bakrie Swasakti Utama, PT Southeast Asia Pipe Industries, PT Bakrie Telecom Tbk., dan PT Sampoerna Telekomunikasi. Ada pula pemegang saham di PT Kiani Kertas dan PT Indosat. inilah.com juga menulis, investasi dari perusahaan berbadan hukum Indonesia di Mauritius selama tujuh tahun [2000-2007] mencapai Rp 22,5 triliun.

Dan ini yang mengejutkan: Investasi Mauritius di Indonesia adalah termasuk yang terbesar selama lima tahun terakhir, bersanding dengan Singapura dan Jepang. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat, investasi dari Mauritius hingga September 2012 mencapai US$ 600 juta, setingkat lebih rendah di bawah investasi dari Jepang. Belum ada penelurusan dan juga penjelasan, apakah investasi dari Mauritius di Indonesia adalah benar-benar berasal dari investor Mauritius atau sebetulnya berasal dari pengusaha Indonesia yang menanamkan uangnya di negara itu.

Lalu kemarin, Weston International Capital Ltd. mengumumkan telah menawar Bank Mutiara [eks Bank Century] seharga yang ditetapkan oleh LPS yaitu Rp 6,7 triliun. Anda tahu, perusahaan yang menyatakan berminat membeli Bank Mutiara itu juga berasal dari Mauritius, dan hal itu bisa mengingatkan orang pada kejadian penjualan BCA 11 tahun yang lalu.

Badan Penyehatan Perbankan Nasional [BPPN] saat itu melego BCA kepada konsorsium Faralon Capital Partners di bawah Sarindo Holding Mauritus. Salah satu anggota konsorsium adalah Alaerca Invesment Ltd. yang sahamnya dimiliki PT Djarum [baca “Two favored in BCA bid processCNN.com, 29 Januari 2002]. Dua tahun sebelum pembelian BCA oleh Faralon itu, Djarum membeli saham Salim Oleochemicals Group seharga US$ 127 miliar, yang sahamnya dimiliki keluarga Sudono Salim alias Liem Sioe Liong, pemilik BCA sebelumnya.

Maka saya sungguh percaya perkataan Mark Twain bahwa Mauritius adalah surga dan mengamini perkataan Stiglitz bahwa Mauritius adalah ajaib. Negara yang hanya berpenduduk lebih-kurang 1,3 juta jiwa itu adalah surga yang ajaib terutama bagi [pengusaha dan penguasa] Indonesia.

Tulisan ini juga bisa dibaca di BlogTempo.

Iklan