Mahfud Bandan Sadad di Restoran Garuda miliknya, di Balad, Jeddah, Arab Saudi.
Mahfud Bandan Sadad di Restoran Garuda miliknya, di Balad, Jeddah, Arab Saudi. Foto: Voja Mathari

Andai saja dulu, orang-orang dari Pulau Jawa sudah mencapai pantai Laut Merah, rombongan orang Israel yang diseberangkan Nabi Musa a.s dari Mesir ke jazirah Arab, mungkin akan singgah terlebih dahulu untuk sekadar sarapan nasi pecel atau menyantap bakso, minum es campur atau kopi yang dijual oleh orang-orang dari Pulau Jawa, sebelum mereka meneruskan perjalanan menuju tanah Palestina, tanah yang konon dijanjikan diperuntukkan bagi mereka.

oleh Rusdi Mathari
Di tepi Laut Merah, orang-orang dari Pulau Jawa faktanya mudah ditemui berjualan nasi pecel, bakso, es campur atau kopi. Mereka, ada yang berasal dari Garut, Pandeglang, Indramayu, Solo, Wonogiri. Kebanyakan  adalah perempuan, yang bersuami orang setempat, orang Arab. Dan bersama suaminya, mereka berjualan sejak pukul 08.00 hingga menjelang sore di bawah halte-halte yang berjejer di tepi Laut Merah, di dekat masjid terapung ar Rahmah di seberang Hotel Hilton, Jeddah.

Suhu udara di tepi Laut Merah yang di siang hari bisa mencapai 50 derajat Celcius tak menyurutkan mereka mencari kepingan real. Bakso semangkok [styrofoam] dijual  10 real atau kurang-lebih Rp 27 ribu. Es campur pun 10 real. Tak usah kuatir bila pembeli tak punya real, karena rupiah pun laku di sana.

Masjid ar Rahmah di tepi Laut Merah, memang dikenal sebagai persinggahan para peziarah dari Indonesia yang hendak pulang setelah beribadah haji atau umrah. Masjid itu dikenal sebagai masjid terapung karena bangunannya agak menjorok dari bibir pantai ke Laut Merah. Entah siapa yang memulai, peziarah dari Indonesia lalu banyak yang berkunjung ke sana dan sejak itu muncul banyak pedagang makanan yang asli orang Indonesia, diselingi gadis-gadis dari Sudan dan Ethiopia yang menjajakan tato pacar Arab [inai]. “Ini kurma mentah mas. Mujarab untuk hubungan seks,” kata Endang asal Garut.

Selain di sekitar Masjid ar Rahmah, orang-orang dari Indonesiajuga banyak ditemui di Balad, sebuah distrik di Jeddah, yang terletak di sisi kiri jalan mulus Mekkah-Jeddah dan masih berdekatan dengan tepi Laut Merah. Sebelum singgah di Masjid ar Rahmah menikmati pemandangan Laut Merah, para peziarah dari Indonesia biasanya akan singgah ke Balad.

Ada pasar besar di sana yang mirip suasana beberapa pasar di Indonesia. Namanya Corniche Commercial Center. Sebagian besar gerai atau kiosnya mencantumkan kata “toko” dan “murah” di depan dan di belakang namanya: “Toko Ali Murah”, “Toko Gani Murah”, “Toko Jamal Murah”, dan sebagainya.

Suasananya mengingatkan pada Kampung Ampel, Surabaya. Terlihat satu kios memajang tulisan “Bakso Sari Raos Bandung” di kaca depan, dan beberapa kios lain memasang tulisan bahasa Jawa seperti “Sudi Mampir.”

Aneka barang dijual di Balad. Mulai tasbih yang terbuat dari kayu kokka Turki, abaya, kurma, kaus, kopiah haji, serban, arloji, gajet hingga karpet buatan Turki dan Iran. Harga-harganya bisa dibilang cukup murah terutama bila dibandingkan dengan barang yang sama dengan kualitas yang serupa yang di jual di Jakarta, atau tergantung kepiawaian tawar-menawar pembeli dengan pedagang.

Tentu tak semua kios yang bertuliskan “toko” dan “murah” di Balad milik orang Indonesia. Sebagian besar, malah milik orang setempat yang memperkerjakan orang-orang asal Indonesia. Dari yang sedikit itu adalah Restoran Rasela dan Restoran Garuda.

Mahfud Bandan Sadad [asal Rangkasbitung, Banten] pemilik Restoran Garuda menuturkan, sudah enam tahun menjual aneka masakan khas Indonesia di Balad. Mulai dari gado-gado, soto, lontong sayur, rujak, bakso, mie ayam, es campur dan sebagainya. “Charly penyanyi ST 12 dan Julia Perez juga pernah singgah makan di sini dan saya tak menyangka, Julia Perez ternyata doyan banget sama pete,” kata Mahfud.

Dia bercerita, sudah 24 tahun tinggal di Arab Saudi. Semula mencari peruntungan dengan bekerja sebagai TKI tapi gaji Rp 10 juta sebulan yang diperolehnya dari menjaga toko optik Al Mahmal Center di Jeddah, dirasanya tak mencukupi untuk membiayai istri dan empat anaknya. Dia lantas mencoba membuka kios bakso di Balad yang ternyata menguntungkan. Karena pengunjung dan pembeli baksonya semakin banyak, Mahfud memberanikan diri membuka restoran dengan menyewa gedung yang cukup besar seharga Rp 850 juta setahun. “Pemerintah Arab Saudi melarang asing membeli atau memiliki properti di sini.”

Makanan yang dijualnya tak lagi hanya bakso, dan dia mulai memperkerjakan orang-orang Indonesia. Semula ada enam orang, lalu meningkat hingga 18 orang Indonesia. Mereka berasal dari Mataram, Surabaya, dan Rangkasbitung. Kini, dari restorannya itu, Mahfud bisa menangguk omset hingga Rp 45 juta sehari tapi dia juga harus membayar gaji untuk tiga orang lokal, di luar 18 orang pekerja asal Indonesia.

Kata Mahfud, hal itu sesuai ketentuan di Arab Saudi yang mengharuskan memperkerjakan satu orang lokal untuk lima orang asing yang diperkerjakan. Dan gaji orang-orang lokal tentu berbeda dengan upah orang-orang Indonesia. “Saya membayar 3 ribu real setiap bulan untuk masing-masing pekerja lokal meskipun mereka tidak pernah muncul di sini dan saya tidak pernah tahu siapa mereka.”

Di restorannya, Mahfud membebaskan para pembeli memesan makanan dan minuman apa saja tanpa perlu dicatat jumlahnya. Kasir yang terletak di pintu masuk juga hanya melayani pembeli yang bersedia membayar dan tidak pernah menegur pembeli yang langsung keluar dari restoran tapi belum membayar. “Kalau mereka lupa membayarkan, saya halalkan. Namanya juga lupa, tapi alhamdulillah, Allah selalu memberi rezeki.”

Kini dari usahanya di Balad, Mahfud bisa mengantar anak-anaknya ke bangku kuliah. Istrinya juga diajak tinggal di Jeddah. Dia bisa pulang ke Indonesia kapan saja dia mau. “Waktu Jakarta banjir tahun ini, saya  pulang. Hanya ingin lihat banjir,” katanya.

Berbeda dengan di Madinah atau Mekkah, di Balad seperti halnya juga di seluruh Jeddah dan Ibukota Riyadh, banyak perempuan lokal yang tak mengenakan kerudung atau jilbab. Mereka bercampur baur dengan perempuan-perempuan asal Sudan yang menjadi peminta-minta. Tak sedikit perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja sebagai TKW juga terlihat melepas lelah dengan berbelanja, dan mereka juga tidak mengenakan penutup kepala.

Rambut mereka terlihat dicat berwarna-warni. Ada yang berwarna cokelat tua, ada yang berwarna cokelat pucat seolah bulu jagung. Mungkin rambut pirang buatan itu, kelak akan dibanggakan mereka kepada sanak famili di Tanah Air, sebagai bukti bahwa mereka benar atau pernah bekerja di kota-kota di tepi Laut Merah, laut yang pernah dibelah oleh Nabi Musa a.s. untuk menyelamatkan 12 puak bangsa Israel.

Tulisan ini juga bisa dibaca di BlogTempo.

Iklan