ArabDendam politik dan saling curiga di Mesir adalah persoalan lama yang berkembang sejak zaman Raja Farouk. Militer menjadi faktor paling dominan.

oleh Rusdi Mathari
Di sebuah warung kopi di area singgah di pinggir jalan antara Madinah-Mekkah, Arab Saudi; seorang lelaki asal Mesir memprotes kelakuan seorang pemuda lokal yang menyepak dengan keras hingga terpental seekor kucing berbulu abu-abu. Dalam bahasa Arab, dia bertanya mengapa kucing itu ditendang sedemikian rupa. Si pemuda menjawab, kucing itu mengganggu kenyamanan di warungnya. “Anda hanya singgah dan baru melihatnya sekarang, tapi saya menghadapi kucing-kucing liar ini setiap hari,” kata si pemuda Arab setengah berteriak.

Lelaki asal Mesir itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sorot matanya terlihat keheranan. “Anda lihat, begitulah kelakuan orang-orang Arab,” katanya, berusaha meyakinkan saya.

Dia adalah salah seorang dari rombongan umrah yang datang dari Mesir ke Arab Saudi dengan menggunakan bus. Saya menjumpainya di area singgah di pinggir jalan antara Madinah-Mekkah pada suatu sore, tepat pada hari Presiden Mohammed Morsi yang berkuasa melalui pemilu demokratis dikudeta oleh tentara, 3 Juli 2013. Saya tahu Morsi digulingkan oleh tentara dari siaran salah satu stasiun televisi berbahasa Arab yang saya tonton di kamar sebuah hotel di Madinah, sesaat sebelum berangkat menuju Mekkah, tapi saya tidak bertanya padanya, apakah juga mendengar kabar penggulingan Morsi pada hari itu.

Saya hanya bertanya bagaimana Mesir di bawah pemerintahan Morsi yang berasal dari Ikhwanul Muslimin. Lalu dengan bersemangat dia menjawab, Mesir di bawah Morsi adalah sebuah petaka dan mimpi buruk. Kata dia, Mesir mengalami krisis pangan, listrik dan air sementara Morsi dan Ikhwanul membagi kekuasaan hanya pada kelompok mereka. “Kami dianggap bukan bagian dari rakyat Mesir, lebih parah lagi kami dianggap bukan muslim,” katanya dalam bahasa Arab.

Tragedi di Mesir sudah berlangsung lebih dari sebulan sejak kudeta berdarah 3 Juli. Publik Mesir kini terbagi dalam kelompok-kelompok kepentingan dan sentimen. Banyak dari mereka yang memulai mengumpat “anak sundal” kendati tidak terlalu jelas ditujukan kepada siapa: kepada Ikhwanul, kepada kudeta yang dilakukan militer di bawah kendali Jenderal Abdel Fattah al Sisi, atau kepada nasib mereka yang malang. Mereka seolah mewarisi dendam politik dan saling curiga yang tak pernah selesai di negaranya, yang berlangsung sejak sebelum Revolusi 1952 yang menggulingkan kekuasaan Raja Faraouk.

Empat hari lalu tersiar berita di media lokal, polisi telah menembakkan gas air mata ke sebuah truk yang mengangkut 36 orang yang dianggap sebagai pendukung Ikhwanul yang dijadikan tersangka dan sedang dalam perjalanan menuju sebuah penjara. Penembakan itu memicu kemarahan meluas orang-orang Islam, tapi dalam hitungan jam simpati justru berbalik tertuju kepada polisi menyusul tersiarnya berita bahwa gerilyawan Islam di Semenanjung Sinai telah menyerang 25 polisi tak bersenjata di dalam bus.

Majalah the Economist, 24 Agustus 2013 menulis, Ikhwanul adalah kelompok yang kini paling sering disalahkan di Mesir. Stigma buruk terhadap Ikhwanul melekat di warga Mesir setelah kampanye dan fitnah dari media Mesir yang dilakukan tanpa henti sejak sebelum penggulingan 3 Juli. “Mereka [Ikhwanul] layak mendapatkannya” adalah jenis komentar yang banyak ditulis oleh media.

Kini setelah media Mesir mengganti kutukan mereka terhadap Ikhwanul dengan julukan “teroris”, kemarahan semakin meluas bahkan kepada mereka yang sebetulnya tidak berkepentingan dalam konflik. Dua hari lalu, kantor berita Prancis, AFP menulis, penggulingan Morsi telah memicu pemburuan terhadap para pria berjanggut dan perempuan yang mengenakan cadar sebab mereka dianggap sebagai pendukung Morsi atau Ikhwanul.

Cadar dan janggut di Mesir seperti halnya di banyak negara Timur Tengah, sejauh ini dianggap sebagai simbol kesalehan selain budaya. Dan selama Morsi berkuasa, pemimpin Ikhwanul tertentu telah berusaha untuk mempromosikan pemakaian cadar.

“Lelaki berjanggut harus membayar harga untuk para anggota Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok lain yang telah melakukan kekerasan dalam beberapa hari terakhir,” kata May Moujib, profesor ilmu politik di Universitas Kairo.

Sejarah kudeta
Lewat Partai Kebebasan dan Keadilan, Ikhwanul memenangkan pemilu demokratis pertama di Mesir, 22 Februari 2012 setelah apa yang disebut sebagai Revolusi Musim Semi mengguncang beberapa negara Arab sejak akhir 2010. Partai itu meraih 47,18% suara dan menempatkan 235 wakilnya di kursi dewan, meninggalkan Partai Salafi Nur, dan Partai Wafd. Lima bulan kemudian, Morsi yang dicalonkan oleh Ikhwanul terpilih sebagai presiden Mesir, juga dalam pemilu yang demokratis. Dia mendapatkan 51,7% suara mengalahkan Ahmad Shafik [eks perdana menteri di zaman presiden Hoesni Moubarak] yang disokong oleh kalangan militer.

Tentu kemenangan Ikhwanul mengejutkan. Sejak Raja Farouk berkuasa hingga Moubarak digulingkan pada akhir 2010, kelompok politik Islam itu nyaris tak pernah mendapatkan tempat di peta politik Mesir. Keberadaannya selalu dicurigai meski Raja Farouk pernah memanfaatkan Ikhwanul yang pengaruhnya semakin besar, untuk menghadapi Partai Wafd [yang pro Inggris] pada 1940. Hassan al Banna, pendiri dan pembina utama Ikhwanul saat itu bahkan dibolehkan berkeliling mengunjungi barak-barak tentara untuk mengutarakan pikiran-pikirannya. Masa itu Farouk cenderung memilih bersekutu dengan Jerman [Axis] dan berharap Inggris segera hengkang dari negaranya, sementara Perdana Menteri Ali Maher dan Banna cenderung berorientasi ke timur untuk persatuan Arab.

Sembilan tahun kemudian, atas perintah Istana, Banna dibunuh. Hasil pengusutan yang dilakukan sesudah Revolusi 1952 [Farouk digulingkan oleh Gamal Abdel Nasser] menunjukkan: pembunuhan terhadap Banna dilakukan oleh Jenderal Mohamed Wasfi [direktur pasukan khusus] atas perintah Perdana Menteri Ibrahim Abdel Hadi. Anwar Sadat [eks presiden Mesir] menjadi salah satu hakim dari majelis hakim yang menjatuhkan hukuman mati kepada Abdel Hadi.

Di masa Nasser berkuasa, Ikhwanul sempat menikmati bulan madu tapi tidak lama. Dalam usaha kudeta yang gagal oleh kelompok Islam garis keras, Ikhwanul kembali disalahkan. Anggota dan simpatisannya kemudian diburu. Sebagian dari mereka yang ditangkap, dipenjara dan disiksa, kendati untuk kepentingan-kepentingan yang sangat terbatas seperti berperang melawan Israel, Nasser menyukai dan masih menggunakan para pejuang Ikhwanul sebagai bagian dari pasukannya.

Sewaktu Nasser meningggal karena serangan jantung dan digantikan oleh Sadat pada September 1970, keberadaan Ikhwanul semakin teruk. Beberapa pentolannya dipenjara bersama pemuka agama Nasrani Koptik, para wartawan dan aktivis-aktivis lain termasuk dari kalangan sekuler karena dianggap melawan kekuasaan Sadat. Negara-negara di dunia kala itu terbelah ke dalam Blok Timur dan Blok Barat: komunis dan nonkomunis. Mesir selepas Nasser mencoba melepaskan diri dari citra sebagai pengekor Blok Timur sehingga kekuatan-kekuatan keagaaman mendapat dorongan dan sokongan besar dari pemerintahan negara lain. Salah satunya adalah Arab Saudi yang menyumbangkan US$100 juta kepada Rektor Universitas Al Azhar, untuk membiayai kampanye melawan ateisme dan untuk menyerang komunisme.

Setahun setelah Sadat berkuasa, Raja Feisal dari Arab Saudi mengusahakan agar Sadat dan Ikhwanul bisa rujuk. Untuk tujuan ini, Raja Feisal meminta kepada Sadat supaya anggota terkemuka Ikhwanul yang lari ke luar negeri diberi jaminan keamanan untuk kembali ke Mesir sehingga dapat melakukan pembicaraan dengan Sadat. Sadat setuju dengan satu syarat: Ikhwanul harus tampil terbuka dan mendukung pemerintahannya. Tapi Ikhwanul menyikapi tawaran Sadat dengan hati-hati. Mereka menilai Sadat yang kebarat-baratan tidak lebih baik dari Nasser yang progresif.

Saling curiga semacam itu terus berlangsung selama Sadat berkuasa, meski tentu saja musuh Sadat tidak melulu Ikhwanul. Korupsi dan kekuasaan tangan besi pemerintahannya telah membuat sebagian besar orang Mesir membenci Sadat. Ketidaksukaan mereka semakin membuncah ketika Sadat meneken perjanjian damai [Camp David]  dengan Israel, 1979. Publik Mesir mengutuknya, dan Sadat yang masyhur di kalangan Barat terkucil di negaranya sendiri dan juga negara-negara Arab, bahkan hingga penguburannya dua tahun kemudian.

Sewaktu pesawat-pesawat tempur Israel membombardir stasiun tenaga nuklir di luar Kota Baghdad, Irak, 4 Juni 1981, Sadat dituding mendukung penyerangan itu karena dua hari sebelumnya, dia bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin. Sadat niscaya menolak semua tudingan terhadapnya tapi kemarahan rakyat Mesir dan negara-negara Arab semakin meluas. Saat Sadat berkunjung ke Washington D.C., sekumpulan jamaah dari Gereja Koptik Mesir di Amerika Serikat mempermalukannya dengan memprotes dan mengutuk kehadiran Sadat di sana.

Puncak dari semua puncak kebencian terhadap Sadat berakhir di sebuah pagi, 6 Oktober 1981. Khaled Ahmed Shaki, letnan satu Angkatan Darat Mesir memberondong Sadat dengan lusinan peluru saat acara parade militer di Kairo. Khaled bahkan melompat ke mimbar tempat Sadat dan pejabat Mesir lainnya menonton parade, dan terus menembakkan senjatanya untuk memastikan Sadat benar-benar tewas. Dia berteriak kepada Wakil Presiden dan Menteri Pertahanan, Jenderal Housni Moubarak yang berada di samping Sadat, “Minggirlah. Saya hanya inginkan anak anjing ini!”

Mohamed Khaled, wartawan kawakan Mesir, penulis buku Autumn of Fury [1984] yang juga teman Sadat tapi kemudian dipenjara oleh rezim Sadat, menggambarkan pembunuhan yang dilakukan Khaled terhadap Sadat sebagai pembunuhan pertama yang dilakukan oleh orang Mesir terhadap firaun mereka.

Politik Arab
Siapa Khaled?

Dia tentara penganut Islam garis keras yang dididik oleh Kolonel Zumr, perwira intelijen militer Mesir yang juga berpaham radikal dan diburu oleh rezim Sadat. Pengadilan memutuskan hukuman mati bagi Khaled dan Mesir sejak saat itu dikuasai Jenderal Moubarak yang meneruskan tradisi korup dan tangan besi ala Sadat. Di penghujung 2010, Moubarak digulingkan oleh revolusi rakyat sebagai bagian dari Revolusi Musim Semi Arab yang dicurigai dirancang oleh negara-negara Barat. Dia beruntung hanya diadili dan dipenjara, dan tidak bernasib seperti Moammar Khadafi di Libia yang tewas mengenaskan karena dibunuh oleh rakyat yang marah.

Mesir sejak itu memasuki babak baru: menggelar pemilu demokratis yang pertama, dan Ikhwanul juga Morsi tampil sebagai pemenang untuk memerintah Mesir. Morsi mendapat dukungan 13,2 juta suara dari 26 juta total pemilih, tapi tak semua elit di Mesir senang dengan kemenangannya, dan kemenangan Ikhwanul. Mengawali tahun 2013, Morsi dihadapkan pada ketidakpuasan terutama dari kalangan militer yang diwakili Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata [SCAF]. Badan ini sebelumnya mengendalikan kekuasaan setelah Moubarak tidak berkuasa sejak Februari 2011.

Malam menjelang 3 Juli silam, dengan alasan demi kondisi politik Mesir yang lebih baik, Jenderal al Sisi memerintahkan untuk menahan Morsi dan mengambilalih kekuasaan. Mesir sejak saat itu terpanggang oleh api kemarahan yang disulut oleh kelompok anti-Ikhwanul yang didukung militer dan kelompok Ikhwanul. Majalah the Economist menulis korban tewas di Mesir selama kerusuhan yang sudah berlangsung lebih sebulan sejak awal Juli, sudah mencapai 2.000 orang, yang sebagian besar adalah pengikut Ikhwanul.

Tentu ada reaksi yang lekas dari pemimpin negara lain menyikapi kudeta di Mesir. Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mendesak militer Mesir berlaku adil dan tidak melakukan penangkapan terhadap kelompok Ikhwanul, meski banyak pengamat yang menyebut seruan Obama hanya basa-basi. Tidak lupa dia menyerukan diadakan pemilihan umum yang demokratis.

Protes keras justru muncul dari Teheran. Pemerintah Iran mengutuk dan mengecam penggulingan Morsi, dan itu mengejutkan.

Iran sejauh ini adalah negara yang paling keras menolak Revolusi Musim Semi yang melanda sejumlah negara Arab yang antara lain telah mengantarkan Morsi dan Ikhwanul ke tampuk kekuasaan di Mesir. Iran karena itu terus mendukung rezim Bashar Hafez al Assad di Suriah yang sejak tahun lalu juga dihantam aksi pemberontakan yang antara lain didukung oleh Arab Saudi dan Amerika sebagai “kelanjutan” dari gelombang Revolusi Musim Semi.

Reaksi yang mengejutkan justru datang dari Arab Saudi dan negara-negara kecil di sekitar Teluk yang mendukung kudeta oleh militer Mesir. Riyadh bahkan menyampaikan selamat atas penunjukan Adly Mansour [eks ketua Mahkamah Konstitusi Mesir] yang ditunjuk sebagai presiden sementara Mesir oleh penguasa militer. Disebut mengejutkan, karena di masa Sadat berkuasa, Arab Saudi adalah sponsor utama yang meyakinkan Sadat untuk menerima Ikhwanul kembali ke Mesir dan memberikan dana besar untuk kepentingan itu. Di masa kini, Arab Saudi [dituding] menjadi penyokong Revolusi Musim Semi untuk penggulingan Assad di Suriah, meski menolak keras revolusi yang sama terjadi di negaranya, dan di beberapa negara kecil di sekitar Teluk.

Lalu, di tengah huru-hara yang masih terus berlangsung di Mesir, muncul keputusan pengadilan di Kairo, 21 Agustus silam, yang membebaskan Moubarak yang telah ditahan di penjara atas tuduhan bervariasi. Pembebasan itu mungkin hasil prosedural dan bukan keputusan politik, tapi akan menjadi pengingat yang suram bahwa begitu banyak janji revolusi Mesir telah menjadi kerupuk dan melempem. Sampai di titik ini, penolakan keras Iran terhadap Revolusi Musim Semi menemukan momentum sebab revolusi itu terbukti hanya merestui penguasa yang dikehendaki oleh negara-negara Barat dan sekutunya di Timur Tengah. Sebuah revolusi setengah hati.

Ketika menulis ini semua, saya teringat pada lelaki dari Mesir yang memprotes kelakuan pemuda Arab yang menendang kucing di area singgah di pinggir jalan antara Madinah-Mekkah. Saya membayangkan, ketika mendengar Morsi dan Ikhwanul telah digulingkan oleh tentara dan didukung Raja Arab Saudi, dia masih akan tetap berseru “Anda lihat, begitulah kelakuan orang-orang Arab.”

Tulisan ini juga bisa dibaca di BlogTempo.

Iklan